Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Ramalan tidak hanya dipercaya oleh masyarakat Bali, namun juga diyakini oleh hampir semua orang di dunia. Bahkan, ramalan menjadi ritual khusus yang diyakini sebagai sebuah solusi terhadap permasalahan yang sedang melanda.

Dalam budaya Bali, menurut paranormal Jro Made Bayu Gendeng, ramalan masih menjadi sebuah keyakinan tentang konsepsi waktu, ruang dan peristiwa berdasarkan tatanan nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan kealaman untuk membangun sebuah kehidupan yang harmonis.

“Salah satu teknik meramal yang masih relevan sampai saat ini, adalah ramalan Bayu Gana yang ada sejak dahulu dan merupakan metode kuno,” jelasnya.

Ramalan Bayu Gana ini mencakup hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Mulai dari watak serta peruntungan seseorang dalam jangka waktu tertentu. Untuk membaca watak seseorang, ada bagian yang disebut Pewateka didasarkan atas perhitungan waktu kelahiran serta dampak baik buruknya bagi kehidupan, termasuk memprediksi mengenai peruntungan, karir, perjodohan dan kondisi ekonomi seseorang.

Perhitungan waktu kelahiran didasarkan pada kombinasi saptawara (satuan hari yang terdiri atas tujuh hari), pancawara (satuan hari yang terdiri atas lima hari), dan wuku (pekan yang terdiri atas tiga puluh buah).

Baca Juga :  Kemenperin Gelar Pelatihan 3 in 1 Serentak 7 BDI

“Khusus untuk ramalan ini, seseorang tidak bisa mengubah takdirnya, karena takdir berkaitan dengan karma, sedangkan nasib bisa diperbaiki,” terangnya.

Teknik ramalan Bayu Gana ini juga bisa digunakan untuk memprediksi kondisi alam, seperti yang tertuang dalam teknik ramalan Palelindon, yakni ramalan yang memprediksi tentang gempa bumi berdasarkan waktu kejadiannya.

“Contohnya, gempa bumi yang terjadi pada sasih (bulan) keenam, bisa diramalkan sebagai pertanda bahwa di bumi akan ada wabah penyakit yang mematikan,” papar Bayu Gendeng.

Dalam kepercayaan masyarakat Hindu Bali, ritual meramal ini sangat erat kaitannya dengan mitologi Siwagama, yang mengisahkan tentang pengetahuan Dewa Ghana yang mengetahui sejarah perjalanan ibunya, Dewi Uma di dunia fana. Dalam lontar Andabhuana diceritakan Dewa Siwa berpura-pura sakit untuk menguji kesetiaan Dewi Uma, maka diutuslah Dewi Uma turun ke dunia untuk mencari obat. Dalam perjalanannya ke dunia fana, terjadi kisah yang tidak bisa dijabarkan, akhirnya Dewi Uma ditugaskan untuk menjadi penguasa Setra Gandamayu dan bergelar Dewi Durga.

Baca Juga :  Bangun Sinergitas, Kanwil Kemenkumham Bali Gelar Rakor Tim Pora

Sejarah perjalanan Dewi Uma inilah yang berhasil ditenung oleh Dewa Ghana. Ketika ditenung memang terjadi dan benar maka Dewi Uma yang sudah berwujud Dewi Durga menjadi marah.

“Karena kemarahan Dewi Durga, maka kitab ramalan milik Dewa Ghana dibakar oleh Dewi Durga. Hal ini yang membuat beberapa pengetahuan dari ramalan itu menjadi musnah,” papar alumni The Master Indonesia ini.

Karena mitologi ini, maka dalam kepercayaan masyarakat Bali, Dewa Ghana diyakini sebagai dewanya para peramal atau balian tenung di Bali.

Lantas, bagaimana eksistensi ramalan di masyarakat saat ini? Jro Bayu Gendeng mengakui sampai saat ini masyarakat masih mempercayai adanya ramalan. “Tidak saja masyarakat tradisional, ramalan juga dipercaya oleh hampir seluruh kalangan masyarakat di Bali maupun Indonesia,” ungkapnya.

Sementara itu, dalam perspektif budaya Bali, dikatakan bahwa ramalan merupakan sistem pengetahuan tradisional yang berupaya mengungkap makna di balik misteri tersembunyi dalam sebuah peristiwa yang terjadi pada alam. Tujuannya adalah untuk meraih kesempatan menuju kehidupan yang lebih baik dengan cara membaca kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, mencari solusi, dan cara penanganan yang digunakan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Baca Juga :  Bendesa Adat Poh Gading Tekankan Jangan Golput

Kapan saat yang tepat bagi seseorang untuk melakukan ritual ramalan? Menurutnya, secara umum tidak ada syarat khusus bagi seseorang untuk melakukan ritual ramalan. Hanya saja bagi perempuan yang ingin diramal, sebaiknya tidak dalam kondisi datang bulan. Sedangkan soal waktu, biasanya para peramal tidak mau melakukan aktivitas meramal pada hari kajeng kliwon yang bertepatan dengan tilem dan sehari setelah tilem.(agni/bpn)