Reorientasi Pariwisata
Reorientasi Pariwisata dan Pasar Mancanegara di Masa Pandemi. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Lesunya pariwisata dan ekonomi masyarakat Bali yang drastis menurun akibat pandemi Covid-19 di Bali, berdampak luas pada hotel-hotel berbintang dan restoran yang biasanya ramai pengunjung akhirnya berujung menutup usahanya. Belum bisa dipastikan kapan pandemi berakhir, namun saat inilah momentum tepat untuk dilakukan reorientasi pariwisata Bali.

Akademisi Fakultas Ekonomi (FE) Undiksha Singaraja I Putu Gede Parma, S.St. Par., M.Par., mengatakan seperti apa pola meyakinkan kembali wisatawan domestik dan mancanegara untuk berkunjung ke Bali, tentu saja ini penting dipikirkan pemerintah, praktisi, akademisi, dan masyarakat desa adat guna memacu ekonomi ke depan yang lebih kompetitif.

“Mereorientasi visi pariwisata Bali agar lebih kompetitif di tengah gerak dan upaya juga untuk meyakinkan wisatawan untuk mau berkunjung berlibur ke Bali. Termasuk juga mereorientasi pasar mancanegara yang tidak saja tawaran keamanan untuk berkunjung yang kita berikan, tetapi juga kepastian keamanan kesehatan dari negara wisatawan tersebut berasal termasuk tawaran atraksi, produk yang bisa kita jual kepada mereka dengan mengedepankan orientasi kesehatan dan keamanan,” kata Parma, Kamis (18/2/2021) kemarin.

Baca Juga :  Bulan Bahasa Bali 2021 Digelar dengan Paduan Luring dan Daring

Parma menjelaskan masyarakat dapat mengembangkan sektor-sektor unggulan lain yang juga kompetitif untuk bisa menopang pertumbuhan ekonomi termasuk juga pembukaan lapangan kerja, seperti sektor pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan yang selama ini agak ditinggalkan oleh angkatan kerja atau pemuda kita. Namun dalam pengembangan sektor-sektor tersebut perlu juga ada daya ungkit yang diberikan pemerintah seperti melalui pelatihan-pelatihan dasar bertani, bantuan penyediaan lahan garap yang mana bisa menggunakan lahan milik pemerintah, penyediaan atau subsidi bibit, pembantuan pengawasan pada tahap proses produksi, termasuk pengawalan pada pasca produksi melalui pembantuan konsep pemasaran baik di dalam maupun ke luar negeri.

“Menguatkan strategi pengembangan industri ekonomi kreatif termasuk isu-isu yang yang berkaitan dengan ekonomi kreatif, seperti estetika, branding, berbagai model bisnis (seperti rantai nilai atau value chain), sistem informasi dan jaringan, kebudayaan, manajemennya, online dan industri digital, kebijakan perusahaan, statistik publik, piranti lunak (software), bisnis startup, perpajakan, dan desain,” jelas Kandidat Doktor S3 Ilmu Pendidikan Undiksha ini.

Baca Juga :  Pendataan Kesenian di Kota Denpasar Catatkan 378 Kesenian Tua, Klasik dan Sakral

Baginya di Indonesia sendiri jenis industri kreatif yang fokus ingin dikembangkan adalah periklanan atau advertising, arsitektur, pasar barang dan seni, kerajinan atau craft, desain, fashion, video film, dan fotografi, permainan interaktif, game, music, seni pertunjukan, showbiz, penerbitan dan percetakan, layanan komputer dan piranti lunak (software), televisi dan radio (broadcasting), riset dan pengembangan R&D, hingga kuliner.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here