Sumber Foto : dar/bpn

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali kembali menggelar SURYA (Survey Berbicara) secara virtual dengan tema “Traveling Willingness to Bali” di Denpasar, baru-baru ini.

Acara tersebut menghadirkan tiga narasumber, yakni Direktur BI KPw Provinsi Bali – Rizki Ernadi Wimanda, Ketua Bali Hotel Association (BHA) – Ricky Darmika Putra, dan Vice President Market Management Accomodation Indonesia Traveloka – John Safenson, serta dipandu oleh Deputi Direktur BI KPw Provinsi Bali – M Setyawan Santoso.

Perbincangan yang berlangsung sekitar 2,5 jam itu membahas tentang perkembangan ekonomi dan pariwisata Bali dimasa pandemi Covid-19 saat ini, termasuk peluang ke depan.

Sebagai pembuka, Rizki Ernadi Wimanda memaparkan pertumbuhan ekonomi global pada triwulan II-2020 menurun sebagai dampak pandemi Covid-19 dan berisiko mengalami penurunan yang lebih besar dari prakiraan awal. Perekonomian nasional juga menunjukkan penurunan dari 2,97 persen (yoy) di triwulan I-2020 menjadi -5,32 persen (yoy) di triwulan II -2020.

“Pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan II-2020 terkontraksi lebih dalam mencapai -10,98 persen dari triwuan sebelumnya yang terkontraksi -1,14 persen (yoy). Dari sisi harga, inflasi Bali sampai dengan Juli 2020 mencapai 0,40 persen (ytd) lebih rendah dari inflasi nasional 0,98 persen (ytd),” papar Rizki.

Baca Juga :  Bank BPD Bali Cabang Utama Denpasar Raih Pencapaian Merchant QRIS Terbanyak

Dikatakan, tracking perekonomian Bali di triwulan III-2020 menunjukkan perbaikan meski masih terbatas. Hasil Survei Konsumen di Provinsi Bali menunjukkan perbaikan meski masih dalam kondisi pesimis. Begitu juga dengan perkiraan dunia usaha pada triwulan Ill-2020 yang membaik meski masih terkontraksi.

Terkait pariwisata, menurutnya, sampai saat ini masih terdapat retriksi penerbangan yang diberlakukan oleh mayoritas negara di dunia. Hal ini mengakibatkan kinerja kunjungan wisman baik di nasional maupun Bali sepanjang quartal II-2020 menunjukkan angka kedatangan yang mendekati 0. “Hal ini disebabkan oleh larangan kedatangan wisman yang berlaku sejak 2 April 2020 hingga batas waktu yang ditentukan,” imbuhnya.

Di Bali telah dilaksanakan dua tahapan pembukaan pariwisata, yakni untuk masyarakat lokal serta wisatawan domestik sejak 31 Juli 2020. Untuk itu, telah diimplementasikan protokol kesehatan sejak kedatangan, hotel dan destinasi wisata termasuk sarana pendukung seperti transportasi. Adapun pembukaan pariwisata untuk internasional direncanakan mulai 11 September 2020.

Sementara Ricky Putra dari BHA berharap agar Surat Edaran Nomor 8 Tahun 2020 dapat direvisi serta dapat mempersiapkan kembali Bali sebagai destinasi wisata dunia.

Baca Juga :  Arya Wibawa Dukung Kegiatan Kreatif Anak Muda Denpasar

“Saya berharap agar adanya revisi terhadap Surat Edaran Nomor 8 Tahun 2020 terkait Pengaturan Jam Kerja Pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru dan mempersiapkan sesuatu di Bali khususnya properti dan destinasi, sehingga ke depannya dapat menjadi motivasi yang dapat menggerakkan pengunjung ke Bali,” tegasnya.

John Safenson dari Traveloka menyebutkan bahwa Bali masih dianggap menjadi top destination terutama bagi pasar wisatawan domestik (Wisdom). “Wisdom adalah target market utama untuk Bali, soalnya kalau Wisman masih ada pertimbangan-pertimbangan. Pasar utama Wisdom adalah dari kota-kota besar di Pulau Jawa. Ada pula survey mencatat bahwa konsumen masih mempercayakan Bali sebagai top destination, karena tujuan wisata lain seperti Singapura dalam kondisi saat ini masih tertutup,” jelasnya. (dar/bpn)