Kredit Fiktif BPD Bali
Kejati Bali Sita Uang Miliaran Rupiah dari Para Tersangka Kasus Kredit Fiktif BPD Bali Cabang Badung. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali menerima pengembalian kerugian uang negara sebesar Rp1.150.000.000 (satu miliar seratus lima puluh juta rupiah) dari keluarga tersangka SW dan IKB dalam penyidikan dugaan tindak pidana korupsi kredit fiktif berupa kredit modal kerja usaha dan konstruksi pengadaan barang dan jasa BPD Bali Cabang Badung.

Dalam keterangan persnya, Kasi Penerangan Hukum Kejati Bali, A Luga Harlianto menjelaskan, uang tersebut diterima oleh Penyidik Kejati Bali pada Selasa (28/6/2022) yang disaksikan langsung oleh Asisten Bidang Pidana Khusus Kejati Bali, Agus Eko Purnomo, untuk selanjutnya dilakukan penitipan di Rekening Kejati Bali di Bank BRI, dimana uang tersebut akan dilakukan penyitaan oleh Penyidik Kejati Bali untuk nantinya digunakan guna memperkuat pembuktian di persidangan.

Baca Juga :  Workshop K-MBSS Dorong Pengembangan Layanan Kesehatan Wellness dan Estetika di RSUD Prof. Ngoerah

“Sekitar pukul 14.00 WITA, Penyidik telah menerima uang sebagai bagian pengembalian kerugian negara dalam hal ini BPD Bali. Tersangka SW dan IKB, dalam penyidikan menyadari kesalahannya dan ingin bertanggung jawab akibat perbuatan yang telah dilakukannya. Sisa dari kerugian negara akibat perbuatan tersangka SW dan IKB diupayakan akan diserahkan kepada Penyidik Kejati Bali secara bertahap. Tentunya hal ini yang diharapkan dari Pimpinan Kejati Bali bahwa penindakan yang dilakukan bidang pidana khusus tidak hanya berorientasi pada penindakan tetapi juga kepada pengembalian kerugian negara,” terang Luga.

Selanjutnya dijelaskan juga bahwa Tersangka SW dan IKB bersama-sama dengan tersangka IMK dan DPS telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Penyidik Kejaksaan Tinggi Bali pada tanggal 11 April 2022 atas perbuatan para tersangka dalam pemberian kredit modal kerja usaha dan konstruksi pengadaan barang dan jasa BPD Bali Cabang Badung yang diduga fiktif pada tahun 2016 dan 2017 sebesar Rp5.000.000.000. IMK, DPS, SW dan IKB ditetapkan sebagai tersangka dengan Pasal sangkaan yaitu Pasal 2 ayat (1) UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dalam UU No 20 Tahun 2001 tentang Perubahan UU No 31 Tahun 1999 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 65 ayat (1) KUHP, Pasal 3 UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dalam UU No 20 Tahun 2001 tentang Perubahan UU No 31 Tahun 1999 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 65 ayat (1) KUHP, Pasal 9 UU No 20 Tahun 2001 tentang Perubahan UU No 31 Tahun 1999 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 65 ayat (1) KUHP dan Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.

Baca Juga :  Ingin Bawa Barang Saat Naik Motor? Ini Tips #Cari_Aman dari Honda

“Penyidik Kejati Bali hingga saat ini telah meminta keterangan 16 (enam belas) orang sebagai saksi. Selanjutnya penyidik akan menjadwalkan dalam waktu dekat untuk meminta keterangan ahli dan keterangan tersangka. Hal ini dilakukan bersamaan dengan audit penghitungan kerugian negara yang sedang dilakukan,” jelasnya.(aar/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News