BALIPORTALNEWS.COMWakil Gubernur Bali, Ketut Sudikerta melakukan panen padi tahp II dengan sistem organik pada lahan pertanian di Subak Getas, Desa Buruan, Blahbatuh, Gianyar, Jumat (21/10/2016).

Panen padi merupakan kerjasama dan sinergi dari Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia Propinsi Bali dengan Pemprov Bali, Pemkab Gianyar dan Kodim/1616 Gianyar.

Panen padi merupakan kelanjutan dari penanaman padi tahap I pada Juni 2015 yang dilakukan oleh Deputi Gubernur BI, Wagub Bali, Pangda IX Udayana, Kapolda Bali dan Bupati Gianyar, sebagai salah satu wujud kepedulian peningkatan kesejahteraan petani dan mewujudkan ketahanan pangan yang pada akhirnya mampu mengendalikan inflasi khsusnya beras.

Direktur Perwakilan Bank Indonesia Propinsi Bali, Causa Iman Karana mengatakan pengembangan padi semi organik di Subak Getas yang baru dimulai 2016, merupakan replikasi dan keberhasilan pengembangan klaster padi organik di Subak Pulagan. Dimana di Suabak Pulagan telah berhasil meningkatkan hasil panen dan mengambalikan kesuburan tanah serta unsur hara tanah.

Causa Iman Karana menambahkan BI membantu proses dari hulu hingga hilir, dengan berbagai bantuan pelatihan dan untuk lebih meningkatkan kesejahteran petani.“Kami berharap dari total 70 anggota subak dan dengan luas lahan 50 ha, saat ini baru 18 orang dengan luas lahan 7,5 ha yang mengikuti program BI, kedepan kami berharap semua anggota dan lahan di Subak Getas dapat ikut dalam program ini,’jelas Direktur BI Iman Karana. 

Tim Pemantau Lapangan Klaster Padi di Subak Getas, I Dewa Gata menyampaikan dari hasil pemantaun pada tanggal 19 oktober 2016, padi memiliki tinggi rata-rata 105 cm dan jumlah anakan rata-rata 28 dengan bulir sebanyak 175 tiap malainya.

Hasil pengubunan awal yang dilakukan pada tanggal 20 Oktober 2016 bersama Badan Pusat Statistik Kabupaten Gianyar.

Dikatakan, dari 3 titik areal pengubinan didapatkan hasil rata-rata 9,25 ton/ha meningkat hamper 27 persen dari panen tahap I yang rata-rata sebesar 7,5 ton/ha dan meningkat sebesar 73 persen dari kondisi awal yang rata-rata hanya 5,5 ton/ha.

Dewa Gata menambahkan penerapan teknologi pertanian baru ini, membawa perkembangan yang sangat pesat pada pertumbuhan paddi pada umur 70 hari pada varietas ciherang sudah mulai berbulir dan saat ini padi yang eremur 100 hari sudah siap panen. Sedangkan bila menggunakan metode konvensional dibutuhkan 116 hingga 125 hari agar dapat panen.

Hal yang lebih menggembirakan dari penerpan sistem organik ini adalah biota sawah seperti belut sawah, tutu, kodok, cacing tanah yang sebelumnya hampir punah. Selain itu, penggunaan biofarm, pestisida nabati dan fungisida nabati yang dibuat sendiri oleh kelompok tani, dengan pemanfaatan tumbuhan lokal juga sangat menghemat biaya produksi. (hms gianyar/bpn) 

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini