30 C
Denpasar
Kamis, 15 November 2018

Solahen, Solusi Listrik Daerah Terpencil Karya Mahasiswa Unpad

BALIPORTALNEWS.COM- Hampir 72 tahun Indonesia merdeka, masih banyak daerah-daerah yang belum terjangkau aliran listrik. Sulitnya akses dan kontur wilayah rata-rata menjadi penyebab mengapa pasokan listrik belum merata di Indonesia. Padahal, listrik menjadi kebutuhan dasar masyarakat dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Kondisi ini menggugah sekelompok mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran. Mereka mengembangkan sistem pasokan listrik mandiri dan sederhana dengan menggunakan solar panel sebagai sumber energinya. Sistem pembangkit listrik rumahan sederhana ini diberi nama “Solahen” (Solusi Lampu Hemat Energi).

Adalah Andika Lipo Sumatara, Ronaldo Hadyanto Manik, Fadhulloh Nugraha Setiawan, dan Rhesa Setyo Santoso, sang pengembang ide Solahen. Lipo, penggagas ide ini mengatakan, produk Solahen dibuat sesederhana mungkin agar dapat diaplikasikan langsung ke masyarakat, terutama di wilayah terpencil.

Ditemui Humas Unpad, Jumat (14/07) lalu, Lipo menjelaskan, ide Solahen berawal dari pengalamannya saat mengikuti KKNM Unpad di Desa Mekarjaya, Kecamatan Mande, Cianjur, 2014 silam. Di desa tersebut, ada satu dusun dengan 66 kepala keluarga belum mendapatkan aliran listrik.

Sepulangnya dari KKN, Lipo kemudian berpikir solusi apa yang bisa dikembangkan agar masyarakat di daerah terpencil dapat mendapatkan listrik. Setelah beberapa kali pengembangan, Lipo kemudian menggunakan solar panel dan aki sebagai sumber energi untuk menghasilkan listrik di rumah.

Secara teknis, Solahen memanfaatkan energi matahari untuk dikonversi ke dalam solar panel. Energi kemudian disimpan dalam aki dan dialirkan ke dalam lampu-lampu rumah. Sistem dibuat sederhana agar masyarakat dapat melakukan instalasi dengan mudah, bahkan dapat dilakukan oleh kelompok usia apa saja.

Diakui Lipo, pengembangan Solahen diambil dari komponen yang banyak di pasaran. Meski minim inovasi produk, ia lebih mengutamakan komponen banyak di pasaran agar lebih mudah diinstalasi.

Harga satu set Solahen cukup menghabiskan biaya 2 juta rupiah. Khusus, untuk program penjangkauan ke masyarakat terpencil, Lipo dan rekannya menggratiskan seluruh biaya pengadaan alat dan pemasangan instalasi. “Kita memang targetkan masyarakat mendapat produk ini dengan gratis,” ujar Lipo.

Produk ini kemudian dikembangkan lebih luas dengan nama “Indonesia Terang” sejak 2015. Berbeda dengan program Indonesia Terang milik pemerintah, program milik Lipo dan kawan-kawan sudah jauh diaplikasikan di masyarakat sejak 2014. Sampai saat ini sudah banyak wilayah yang dibantu oleh Lipo. Mulai dari pelosok Sumatera Barat, Riau, Maluku, Papua Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, hingga Kalimantan Timur.

Saat ini, Lipo tengah menjalankan pemasangan Solahen di lima desa di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Sebanyak 218 unit rumah di 5 Desa tersebut dipasangkan Solahen. Lipo menjelaskan, biaya instalasi Solahen di 5 desa tersebut murni mengandalkan anggaran dana desa (ADD).

Di lima desa tersebut, Solahen dipasangkan terdiri atas tiga unit, berkekuatan 20 watt pico (wp), 50 wp, dan 100 wp. Untuk solar panel berkekuatan 50 wp dan 100 wp, daya listrik yang dihasilkan bisa untuk konsumsi televisi.

Tidak mudah untuk memasangkan Solahen di lima desa tersebut. Lipo bercerita, lima desa tersebut berada jauh di tengah hutan perbatasan Indonesia-Malaysia, dengan menyusuri jalan setapak terjal. Di beberapa lokasi, perjalanan harus ditempuh dengan menyusuri sungai menggunakan perahu warga.

Meski sangat sulit, perjuangan mereka berbuah kebahagiaan warga. Segenap warga desa akhirnya bisa merasakan terangnya lampu di dalam rumah. Kondisi yang selama ini masih menjadi mimpi bertahun-tahun bagi warga.

Aksi ini merupakan upaya yang diwujudkan Lipo dan kawan-kawan dalam memberikan solusi ketersediaan listrik di wilayah terpencil. Dibandingkan aksi kritik ke pemerintah melalui demo-demo jalanan, Lipo lebih memilih melakukan kerja nyata dengan cara memberikan Solahen gratis kepada masyarakat terpencil.

Target Solahen sederhana, dapat menjangkau wilayah-wilayah yang belum teraliri listrik. Untuk itu, Lipo dan tim berusaha untuk mendapatkan hibah atau dana Corporate Social Responsibility (CSR) untuk melanjutkan program Solahen ke wilayah-wilayah selanjutnya. Selama ini, mereka hanya mengandalkan dana-dana anggaran desa.

Saat ini pihaknya tengah mengejar untuk mendapatkan hibah program sosial dari Kedutaan Besar Australia. Jika berhasil, hibah tersebut akan digunakan untuk pemasangan Solahen bagi 66 kepala keluarga di Desa Mekarjaya, lokasi yang pernah ditempatinya selama KKNM.

Lebih lanjut mahasiswa tingkat akhir tersebut menjelaskan, dana yang didapat oleh tim bukan hanya sekadar dikeluarkan untuk program instalasi saja. Tetapi, ada sebagian dana yang dimasukkan ke dalam kas sebagai modal untuk pemasangan di wilayah selanjutnya.

Mereka pun mengaku, ilmu yang didapat di prodi Manajemen FEB Unpad sangat bermanfaat bagi pengelolaan proyek mereka. Mereka pun berharap, program Solahen ini dapat terus dijalankan dan diregenerasikan kepada adik kelas mereka.

Lipo pun berharap, banyak pihak dapat mendukung program Solahen. Ia menilai, program ini setidaknya berkontribusi dalam mewujudkan pemerataan listrik di Indonesia. Menjelang 72 tahun merdeka, masyarakat Indonesia seharusnya sudah tidak ada lagi yang berharap takpasti kapan nyala terang lampu listrik bisa hadir di tengah mereka. (humas-unpad/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

ARBAIN, Robot Monitoring Tanaman Jagung Karya Mahasiswa UGM

BALIPORTALNEWS.COM – Mahasiswa UGM tidakpernah berhenti berinovasi. Kali ini sejumlah mahasiswanya berhasil mengembangkan inovasi dibidang teknologi pertanian dengan mengembangkan robot yang memudahkan petani dalam merawat dan memelihara tanaman jagungnya.

Robot yang diberinama ARBAIN (A robot of corn farming) ini dikembangkan oleh Yarabisa Yanuar (FT), Kevin Mahardika Y (FT), Ilham Nur Ahmad (FMIPA), Noviana Nur Sari (Fakultas Biologi), dan Qurrota A’yun (FK). Robot ini dirancang untuk membantu petani dalam melakukan perawatan, mendeteksi gejala penyakit, monitoring kondisi tanaman, serta pemeliharaan tanaman.

“Robot ini dapat membantu dalam pemeliharaan jagung menjadi lebih efektif dan efisien sehingga dapat membantu petani dalam meningkatkan produktivitas jagung,” terang Yanuar, Kamis (13/7/2017) di Kampus UGM.

Pengembangan robot ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas tanaman pangan, termasuk tanaman jagung dalam mewujudkan swasembada pangan Indonesia. Seperti diketahui angka impor jagung masih cukup tinggi dan terus meningkat setiap tahunnya. Salah satu penyebab tingginya angka impor dikarenakan serangan hama dan penyakit tanaman. Penyakit yang paling banyak menimbulkan kerusakan pada tanaman jagung adalah penyakit bulai yang disebabkan adanya cendawanPeronosclerospora sp.

“Penyakit bulai ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan puso. Karenanya kami berinovasi merancang robot sederhana multitalenta yang mengadopsi tugas dan fungsi robot ladybird,” paparnya.

Yanuar menyampaikan robot ladybird dikembangkan dengan menggunakan tenaga surya dan telah sukses diujicobakan di perkebunan sayur Australia. Namun robot canggih ini belum dapat diaplikasikan di Indonesia karena harga yang cukup maha lmencapai milyaran rupiah. Selain itu, luas perkebunan sayur di Indonesia tergolong sempit sehingga kurang efisien jika menggunakan mesin yang terlalu besar.

Merekapun mengembangkan robot dengan desain minimalis sesuai dengan jarak tanam tanaman jagung pada umumnya, yaitu 20 x 65 cm­2 sehingga tidak akan merusak tatanan tanaman. Sensor SRF akan mendeteksi posisi dari setiap tanaman jagung dan mengukur ketinggiannya.  Robot dirancang dengan sistem autonomous sehingga dapat secara otomatis bekerja dengan kendali jarak jauh.

Robot ini juga memiliki kemampuan dalam mendeteksi tanaman jagung dari penyakit bulai. Penyakit ini memiliki ciri fisik berupa warna daun kuning dan ukuran kerdil. Sensor warna yang dipasang pada robot akan mendeteksi dengan cepat jika terdapat penampakan tersebut pada tanaman jagung.

“Apabila suatu tanaman teridentifikasi penyakit bulai maka robot akan menyemprotkan pesitisida di sekitar tanaman yang terinfeksi untuk mencegah penyebaran penyakit melalui jamur,” jelasnya.

Ilham menambahkan robot ini juga dilengkapi sensor yang dapat mendeteksi kelembaban tanah. Data kelembaban tersebut nantinya dikirm melalaui SMS sebagai petunjuk bagi petani untuk segera melakukan penyiraman sesuai kapasitas lapang tanah dan kebutuhan tanaman jagung.

“Jadi petani tidak harus datang ke ladang untuk memantau kondisi tanah,” terangnya.

ARBAIN juga terkoneksi dengan pompa air sehingga dapat menyalakan pompa secara otomatis jika kelembaban tanah menurun. Sementara untuk tenaga penggerak menggunakan motor listrik dengan sumber energi cahaya matahari sehingga hemat energi danramah lingkungan.

Robot yang dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahaiswa UGM 2017 dibawah bimbingan Dr. Eng. Herianto, S.T., M.Eng., ini tidak hanya dapat digunakan untuk memantau wilayah pertanian terutama lahan tanaman jagung dan mencegah penyebaran bulai saja. Robot ini juga dapat digunakan untuk mengetahui kebakaran hutan dengan akurat.

“Dengan robot ini diharapkan dapat mempermudah petani dalam melakukan perawatan, monitoring, dan mendeteksi penyakit tanaman jagung sehingga dapat meningkatkan produktivitas petani dalam upaya mendukung ketahanan pangan nasional,”pungkasnya. (ika/humas-ugm/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Mahasiswa UGM Kembangkan Lampu Tanpa Listrik dari Kaleng Bekas

BALIPORTALNEWS.COM – Empat mahasiswa Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta berhasil mengembangkan lampu ramah lingkungan. Lampu tersebut dibuat dengan memanfaatkan kaleng bekas dan cahaya matahari sebagai sumber cahaya.

Mereka adalah Aditya Ramdhona, Anggraini Puspitasari, Nesditira Sunu S dan Satrio Bayu Aji yang berhasil mengembangkan lampu tanpa listrik yang diberinama Slocan (Solar in a Can).

Inovasi ini bermula dari keprihatinan mereka terhadap banyaknya sampah kaleng, bahkan cukup melimpah di Indonesia. Kondisi ini mendorong keempatnya mencari solusi untuk memanfaatkan limbah kaleng bekas menjadi barang yang bernilai guna.

Sementara disisi lain mereka juga melihat konsumsi listrik khususnya penggunaan lampu yang cukup banyak di siang hari. Padahal, potensi sinar matahari di luar ruangan jumlahnya tak terbatas. Berangkat dari kondisi ini mereka mengembangkan Slocan yang berhasil mendapatkan dana hibah dari Dirjen DIKTI melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun 2017.

“Masih banyak terjadi pemborosan energi dengan penggunaan lampu disiang hari baik di perkantoran maupun rumah. Sementara potensi sinar matahari di luar ruangan jumlahnya tidak terbatas” ungkap Aditya Ramdhona, Ketua Tim PKM Solacan.

Aditya menyampaikan kondisi ini banyak terjadi akibat akses cahaya matahari masuk ke dalam ruangan sangat terbatas. Dengan begitu ruang akan menjadi gelap apabila lampu tidak dihidupkan meskipun pada siang hari.

“Solacan ini hadir untuk mengatasi persoalan tersebut,” jelasnya.

Cara kerja alat ini cukup sederhana. Kaleng bekas digunakan untuk meneruskan cahaya matahari yang berada di luar ruang agar bisa masuk ke dalam ruangan.  Pertama, cahaya dikumpulkan oleh light collector yang berbentuk cembung. Kemudian, cahaya tersebut diteruskan ke tabung dan dipantulkan sehingga menuju ujung Solacan dan light diffuser akan menyebarkan cahaya ke seluruh ruangan.

“Prinsip kerjanya dengan pemantulan cahaya,” ungkapnya.

Sunu menambahkan bahwa lampu tanpa listrik ini tidak hanya mampu menghemat penggunaan energi listrik. Namun, dengan pencahayaan alami  melalui Solacan juga dapat menimbulkan efek fisiologis yang positif untuk kesehatan manusia.

“Selain itu juga dapat mengurangi pencemaran lingkungan,” jelasnya“.

Tidak hanya itu, pemanfaatan kaleng bekas menjadi Solacan ini juga dapat meningkatkan nilai ekonomis limbah kaleng bekas. Poduk ini dapat dikembangkan secara massal oleh masyarakat termasuk pemulung sehingga dapat meningkatkan pendapatan keluarga. Mereka pun berharap Solacan ini dapat dimanfaatkan secara luas untuk kepentingan masyarakat Indonesia. (ika/humas-ugm/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Raih Doktor Usai Kembangkan Sistem Pelacakan Posisi Sumber Sinyal Radio

BALIPORTALNEWS.COM – Teknologi komunikasi dua arah menggunakan gelombang elektromagnetik berkembang begitu pesat  dalam kehidupan masyarakat. Kendati begitu, komunikasi ini masih bisa mengalami gangguan jika terdapat pemancar lain yang memancarkan dengan frekuensi yang sama. Kondisi ini seringkali mengakibatkan komunikasi menjadi macet karena frekuensi yang padat.

“Radio Direction Finder konvensional yang biasa digunakan untuk mencari pemancar penganggu masih dilakukan secara mobilitas direct sehingga harus melakukan swap berkali-kali sampai menemukan posisi sumber sinyal yang dicari,” papar Samuel Kritiyana, S.T., M.T., saat ujian  terbuka program doktor Program Pascasarjana Departemen Teknik elektro dan Teknologi Informasi FT UGM, Kamis (6/7/2017).

Melakukan penelitian pelacakan posisi sumber sinyal frekuensi radio berbasis efek doppler dan metode multi-triangulasi, Samuel berupaya menemukan sistem pelacak sumber sinyal tanpa melakukan mobilitas. Menggunakan metode pelacakan sumber sinyal dengan pengembangan efek doppler yang diterapkan pada lebih dari tiga stasiun pemantau tidak bergerak yang telah ditentukan posisi koordinatnya.

Hasilnya berupa visualisasi titik koordinat posisi sumber sinyal frekuensi radio yang dicari dengan akurasi ketelitian sudut seperseratus derajat. Hasil ini diperoleh dari perpotongan tiga garis arah datangnya sinyal frekuensi terhadap tiga stasiun pemantau tidak bergerak.

Sementara pengolahan data dengan metode multi-triangulasi menghasilkan prediksi titik posisi koordinat dari sinyal pemancar dan visualisasi pada peta digital. Sedangkan ketelitian sudut yang dihasilkan meningkat dari 22,5 derajat menjadi seperseratus (0,01) derajat.

Selanjutnya hasil pengujian dalam penentuan koordinat bumi memakai pelacakan sinyal dengan dua stasiun mempunyai kesalahan sampai 83,20 meter, sedangkan untuk tiga stasiun memiliki kesalahan sampai 14,60 meter. Pada metode multi-triangulasi lim astasiun pemantau mempunyai kesalahan rata-rata sampai 6,63 meter dengan jarak maksiumum posisi sumber sinyal frekuensi radio yang dicari dari titik stasiun pemantau tidka bergerak adalah 50 kilometer. (ika/humas-ugm /bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Mahasiswa UGM Kembangkan Mesin Grading Ikan Otomatis

BALIPORTALNEWS.COM – Lima mahasiswa UGM mengembangkan alat grading atau sortir ikan secara otomatis. Alat ini dibuat untuk membantu petani dalam proses memisahkan ikan berdasarkan ukuran, bobot, serta kualitas dengan lebih cepat dan menghemat tenaga.

Adalah Ikhwana Aisyah (Budidaya Perikanan), Muhammad Hadyan Akbar (Teknik Fisika), Nizar Akbar Meilani (Teknnologi Informasi), Revaldy Imani Chairistian (Teknik Elektro), serta Ratya Prabaswara (Teknik Mesin) yang mengembangkan alat bernama V-Sorter ini.

Pengembangan alat grading ini berawal dari keinginan mereka untuk mengatasi persoalan grading yang masih banyak dialami oleh petani ikan. Selama ini, kebanyakan petani ini masih menggunaan cara tradisional untuk grading yaitu langsung memakai tangan dan menggunakan alat takaran berupa kaleng, gelas, dan lainnya. Sementara untuk melakukan penyeragaman ikan, para petani ikan biasa menggunakan alat berupa baskom yang sebelumnya telah dilubangi.

“Dengan cara-cara tradisional tersebut hasil yang diperoleh tidak optimal,” jelasnya, Rabu (5/7/2017) di Kampus UGM.

Grading dengan cara tradisional tersebut dinilai tidak efisien karena dalam penghitungan dilakukan secara manusal satu-persatu ikan dalam jumlah yang banyak. Selain itu juga membutuhkan konsentrasi tinggi agar tidak terjadi kesalahan saat penghitungan. Cara lain dengan melakukan penghitungan beriringan dengan melakukan grading ikan.

Menurutnya cara-cara yang biasa dilakukan oleh petani ikan tersebut kurang efisien dan evektif dalam grading ikan. Oleh sebab itu dia bersama rekan-rekannya berupaya mengembangkan alat bantu untuk petani ikan yang diharapkan dapat menghemat waktu dan tenaga saat melakukan grading ikan.

“Kami berinisiatif menciptakan mesin grading yang bisa memisahkan ukuran sesuai keseragaman dan menentukan jumlah dalam keseragaman tersebut dengan efisien, akurat, dan cepat dibanding cara manual,”paparnya.

Mesin grading yang dikembangkan berbasis mikrokontroler ARM-32 bit menggunakan IC STM32F4. Dengan demikian menjadikan mesin ini memiliki tingkat kecepatan proses yang tinggi. Dilengkapi pula dengan sensor pendukung berupa photoelectric sensor yang terbukti memiliki tingkat akurasi tinggi dalam industri otomasi.

Nizar menambahkan V-Sorter juga dikembangkan berbasis Internet of Things (IoT). IoT ini menghubungkan mesin dengan perangkat elektronik  berupa komputer maupun ponsel yang dapat diakses oleh pengguna pengusaha ikan. Selain itu juga dapat digunakan sebagai alat kontrol untuk mengendalikan mesin grading mulai dari mematikan, menghidupkan hingga mengganti mode mesin.

“Semoga dengan adanya alat ini dapat membantu petani ikan  baik dalam masa pemeliharan hingga pemasaran menjadi lebih efisien sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan mereka,” pungkasnya. (ika/humas-ugm/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Mahasiswa FMIPA Merintis Bisnis Pembuatan Drone

BALIPORTALNEWS.COM, YOGYAKARTA – Mahasiswa UGM mengembangkan bisnis dalam bidang aeronutika. Usaha yang dirintis sejumlah mahasiswa Fakultas MIPA ini bergerak dalam pembuatan dan jasa pelatihan pengoperasian pesawat tanpa awak atau yang dikenal dengan drone.

Ikhsan Tanoto Mulyo, tim pengembang jasa pelatihan drone “The Doctor Drone” menyampaikan pengembangan bisnis ini merupakan salah satu upaya untuk mendukung kemandirian dan kedaulatan kedirgantaraan Indonesia melalui pembuatan drone dalam negeri. Pasalnya, hingga saat ini sebagian besar drone yang digunakan masyarakat Indonesia dipenuhi dengan produk impor.

“Kebanyakan drone yang dipakai pengguna Indonesia merupakan produk impor. Oleh sebab itu kami mengambil peran untuk membantu dalam manufaktur drone,” jelasnya, Kamis (22/6/2017) di UGM.

Ikhsan bersama dengan keempat rekannya yaitu Deva Agus P, Rizky Agung, Muhammad Fadhlullah, dan Selvi Faristasari tidak hanya bergerak dalam bidang usaha pembuatan drone lokal. Namun begitu, mereka juga menyediakan jasa pelatihan foto udara dan pembuatan drone.

Saat ini mereka memproduksi drone jenis quadcopter dalam dua tipe yaitu drone basic dan drone pro yang dibanderol dengan harga antara Rp. 6 juta hingga Rp. 10 juta. Drone basic memiliki spesifikasi X330 alumunium, motor RC, timer 750kv, ESC 30 A hobbywing, FC naza lite, proppeler 4 cw ccw, dan remote 6ch. Sedangkan drone pro memiliki spesifikasi Rc timer 750kv, frame 450, propeller 1050, Fc naza dan GPS, ESC 30A hobbywing, camera action 1080, video sender TX/RX, serta remote jangkauan luas.

“Saat ini  kami juga tengah mengembangkan drone jenis fixed wing,” tambahnya.

Ikhsan menyampaikan produk yang dikembangkan memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan dengan produk sejenis dipasaran. Drone yang diproduksi mudah digunakan dan dari segi  pelayanannya Doctor Drone memiliki gagasan “One Stop Service”“One Stop Service” ini adalah pemberian garansi dan perawatan selamanya.

“Kami berusaha terus berinovasi dan  mengembangkan konsep drone dengan tingkat energi yang lebih tahan lama (solar cell multicopter),”urainya.

Produk drone yang dikembangkan lima mahasiswa muda ini sudah beredar dipasaran. Bagi Anda yang berminat dapat memesan secara online di tokopedia, bukalapak dan Fb: Doctor Drone. (ika/humas-ugm/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Robot Pengecat Tembok Luar Gedung Bertingkat Karya Mahasiswa UGM

BALIPORTALNEWS.COM, YOGYAKARTA – Mahasiswa UGM mengembangkan robot pengecat tembok luar gedung bertingkat. Inovasi di bidang teknologi ini mempermudah proses pengecatan gedung bertingkat.

Mereka adalah Arifandhi Nur M (FMIPA), Habib Astari A (FMIPA), Pa’at Wahyu K S (SV), Imroatul Mufidah (FK), dan Istria Rimba S (FT). Pengembangan robot  lahir mellaui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) di bawah bimbingan Andi Dharmawan S.Si., M.Cs.

“Robot ini bisa menggantikan kinerja manusia  dan penggunaanya diharapkan bisa meminimalisir angka kecelakaan kerja,” terang Arifandhi Nur M selaku ketua tim, Jumat (16/6/2017) di UGM.

Data BPJS Ketenagakerjaan mencatat hingga November 2016 terjadi 101.367 kasus kecelakaan kerja. Sementara sebanyak 2.382 orang meninggal akibat kecelakaan tersebut.

Arifandhi menjelaskan prototipe robot pengecat gedung bertingkat dibuat menggunakan arduino dan single board computer untuk mengontrol pergerakannya. Robot ini dapat mengecat bidang datar dengan luas permukaan sesuai keinginan operator.

“Alat pengecat yang digunakan berbentuk semprot dengan tiang yang memiliki dua derajat kebebasan yaitu X dan Y sebagai sumbu gerakan,” ujarnya.

Cara pengoperasian robot ini cukup mudah. Operator cukup menginput luasan bidang pengecatan dan warna cat. Setelah itu sensor kamera akan menangkap gambar tembok yang akan dicat. Apabila ditemukan tembok dalam keadaan belum dicat maka semprotan akan bergerak menyemprot bagian tersebut. Ketika proses pengecatan usai, robot akan melakukan scanning untuk mengecek kualitas hasil pengecatan.

“Robot bisa mengecat tembok dengan luasan maksimal 2×2 meter,”jelasnya.

Dengan menggunakan robot ini, Arifandhi menuturkan operator dapat mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk proses pengecatan tembok dengan akurat karena. Sebab, kecepatan penyemprotan saat proses penegcatan dapat diatur sesuai keinginan. Selain itu proses pengecatan dapat dilakukan secara terus-menerus dan konstan.

“Harapannya robot dapat diimplementasikan secara nyata dan dengan penggunaanya angka kecelakaan kerja khususnya bidang konstruksi dapat ditekan,”pungkasnya. (ika/humas-ugm/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Bantuternak, Aplikasi Penghubung Peternak dengan Pemodal

BALIPORTALNEWS.COM – Mahasiswa UGM mengembangkan aplikasi investasi sosial berbasis peternakan yang dinamai Bantuternak. Bantuternak merupakan platform yang mempertemukan investor dengan peternak sapi.

Startup yang dibangun Ray Rezky Ananda (Fakultas Peternakan), Hanifah Nisrina (FKH)  serta Ayub dan Fata (FT)  melalui ajang innovative Academy 3 UGM ini dikembangkan untuk membantu peternak sapi mendapatkan modal beternak. Pengembangan usaha ini berawal dari keprihatinan mereka terhadap kondisi petrenakan Indonesia khususnya peternakan sapi yang semakin menurun.

“Jumlah peternak semakin menurun, salah satunya karena peternak sulit memperoleh modal untuk membeli anakan sapi,” jelas CEO Bantuternak Ray Rezky di hadapan wartawan, Senin (5/6/2017) di Ruang Fortakgama UGM.

Ditambah dengan adanya ketidakseimbangan pasokan daging. Kondisi ini menyebabkan Indonesia harus mengimpor sapi dari luar  untuk pemenuhan kebutuhan dagi sapi nasional.

“Sekitar 30 % daging masih impor, bahkan di tahun 2016 tercatat Indonesia harus mengeluarkan anggaran 1 triliun untuk impor sapi ini,” ujarnya.

Melihat kondisi ini, dia bersama ketiga rekannya berinisiatif mengembangkan bisnis sosial berbasis teknologi untuk membantu peternak. Selain itu juga kedepan diharapkan dapat menjadi salah sau solusi dalam mengurangi impor daging sapi.

“Selain bisa mendapat keuntungan, berinvestasi di Bantuternak juga membantu mensejahterakan peternak karena melibatkan dan memberdayakan masyarakat bawah,” urainya.

Investasi Bantuternak bekerja dengan memberikan satu sapi setiap ada investor masuk. Adapun investasi yang ditawarkan mulai dari nominal Rp. 10 ribu dengan masa investasi jangka pendek yaitu 5 bulan.

“Nantinya 1 sapi dengan paket harga Rp. 12 juta termasuk pakan dan vaksinasi akan dipelihara peternak selama 5 bulan untuk kemudian dijual kembali,” jelasnya.

Hasil dan keuntungan penjualan akan dibagi kepada investor, peternak, dan tim manajemen Bantuternak. Bentuk bagi hasilnya dengan prosentase 70% investor, 20%peternak, dan 10 % tim manajemen.

Ditambahkan Hanifah, melalui aplikasi Bantuternak, para investor tidak hanya bisa melihat profil dan memilih peternak. Namun, juga  dapat memantu perkembangan ternaknya. Terdapat laporan mingguan yang memaparkan kondisi ternak, baik status kesehatan, berat badan, pakan, vaksin, serta estimasi harga jual.

Aplikasi yang baru saja dirilis di playstore pada akhir Mei 2017 lalu ini telah berhasil di unduh tidak kurang dari 300 orang. Bahkan saat ini sudah menggandeng 30 investor dan melibatkan 15 peternak sapi di Dusun Plemadu, Desa Sriharjo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

“Sekarang sudah bisa membantu 1 peternak. Semoga kedepan bisa bisa bejalan secara bekelanjutan untuk mendukung program swasembada daging nasional 202 dan meningkatkan perekonomian peternak desa secara mandiri,” pungkasnya. (ika/humas-ugm/bpn; foto: firsto)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Mahasiswa UGM Kembangkan Gamelan Untuk Tuna Netra

BALIPORTALNEWS.COM – Lima mahasiswa UGM mengembangkan gamelan untuk penyandang tunanetra. Gamelan yang diberinama E-Gamatuna ini dapat membantu tunanetra dalam memainkan gamela.

Mereka adalah Fadil Fajeri (SV, Teknik Elektro), Dinar Sakti Candra Ningrum (SV, Elins), Muhammad Ali Irham (SV, Elins), Sapnah Rahmawati (SV, Ekonomi Terapan), dan Musfira Muslihat (Psikologi). Kelimanya mengembangkan gamelan dibimbing oleh Ma’un Budiyanto, S.T., M.T. , melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) UGM 2017.

Ketua pengembang E-Gamatuna, Fadil mengungkapkan pengembangan E-Gamatuna sebagai media untuk meningkatkan eksistensi gamelan di masyarakat termasuk kalangan difabel seperti tunanetra. Dengan alat yang dikembangkan diharapkan dapat memudahkan tuanantera dalam memainkan gamelan.

“Butuh pembelajaran ekstra bagi tunanetra untuk bisa menggunakan gamelan. Namun dengan E-Gamatuan ini bisa mengurangi kesulitan penyandang tunanetra untuk belajar dan memainkan gamelan denganlebih praktis,” paparnya, Senin (5/6/2017) saat bincang-bincang dengan wartawan di Ruang Fortakgama UGM.

Fadil menyebutkan E-Gamatuna tersusun dari dua bagian utama yaitu hardware dan software. Dilengkapi dengan sensor finger touch yang terbuat dari alumunium foil untuk memudahkan tunanetra dalam memainkan gamelan.

“Ada sensor finger touch yang jika disentuh ke grounding akan mengirimkan data ke mikrokomputer dan data yang telah diproses dikirim ke software menjadi sebuah nada,” tuturnya.

Sensor nada ini dipasangkan di  tujuh jari tangan yaitu 4 jari kiri dan 3 jari kanan. Mampu mengeluarkan nada dengan notasi kepatihan. Notasi kepatihan ini merupakan notasi angka dalam bahasa jawa, yaitu ji, ro, lu, pat, mo, nem, pi.

Sapnah menjelaskan saat ini E-Gamatuna masih berupa prototipe dengan isntrumen saron. Namun kedepan akan dikembangkan instrumen lainnya seperti demung dan peking.

Pengembangan alat ini ini tidak hanya membantu penyandang tunanetra memainkan gamelan. Namun demikian, juga semakin memperluas upaya promosi kebudayaan tradisional Indonesia.

“Dengan adanya E-gamatuna diharapkan tuna netra dapat ikut serta berkontribusi dalam mempromosikan budaya Indonesia,” ujarnya. (ika/humas-ugm/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

SOSIAL MEDIA BALI PORTAL NEWS

757FansSuka
10PengikutMengikuti
485PengikutMengikuti
3,369PengikutMengikuti
83PengikutMengikuti
22PelangganBerlangganan