Sabtu, 18 Agustus 2018

Gerakan Pramuka Jadi Wadah Pembinaan Karakter Generasi Muda

BALIPORTALNEWS.COM – Generasi Muda sering kali masih memiliki jiwa labil dan rentan  terhadap pengaruh negatif di era global saat ini . Untuk mengantisipasi hal ini diperlukan kegiatan kepemudaan yang mewadahinya dan  salah satunya melalui Gerakan Praja Muda Karana (Pramuka) diharap dapat menjadi media pembinaan moral, mental dan karakter generasi bangsa. Gerakan Pramuka mampu berperan aktif dan strategis mewarnai kemajuan bangsa dengan potensi tinggi, dan dapat melahirkan pramuka-pramuka sejati, yang kelak mampu melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa.

Demikian disampaikan Gubernur Bali Made Mangku Pastika dalam sambutannya yang dibacakan Wagub Ketut Sudikerta saat menjadi pembina upacara sekaligus membuka secara resmi pelaksanaan Indonesia Scouts Challenge (ISC) Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Daerah Bali di Lapangan Candi Margarana, Tabanan, Senin (29/8/2016).

Lebih jauh disampaikan Pastika  gerakan Pramuka merupakan suatu gerakan pendidikan non formal, yang bersifat sukarela, non politik, terbuka untuk semua tanpa membedakan ras, suku, bangsa dan agama. Selain juga merupakan gerakan universal yang mencakup segala lini dan terbuka untuk seluruh usia serta berbagai kalangan masyarakat.

Oleh karena itulah, pendidikan kepramukaan dinilai Pastika sebagai wadah proses pendidikan yang praktis diluar lingkungan sekolah dan diluar keluarga yang bertujuan untuk menempa karakter kepribadian pemuda sebagai generasi penerus bangsa.

Ditambahkan Wagub Sudikerta, kegiatan ISC menurutnya tidak hanya untuk mengasah diri dalam teknik-teknik scout challenge. Tetapi juga pembinaan mental dan spiritual generasi muda dalam wadah Pramuka, yang diharapkan bisa diketoktularkan kepada remaja seusianya sehingga bisa ikut menyadarkan untuk tidak berprilaku negatif seperti mengkonsumsi narkoba yang bisa sangat merusak kehidupan.

Sementara itu, Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Bali, Ketut Wija dalam laporannya menyampaikan kegiatan Scout Chalenge dilaksanakan selama 3 hari mulai 28 s.d 30 Agustus 2016 yang merupakan kerjasama antara Kwartir Nasional Gerakan Pramuka bersama PT. DBL (Jawa post grup).

Kegiatan akan berlangsung di bumi perkemahan Pramuka Margarana, Tabanan, dan diperkirakan diikuti oleh sekitar 48 regu peserta (putra dan putri) yang masing-masing regu terdiri atas 10 orang pramuka Penggalang Ramu. Peserta secara keseluruhan berasal dari para pemenang lomba tingkat cabang dari 9 Kabupaten/Kota se-Bali.

Kegiatan lomba terdiri atas beberapa jenis komba diantaranya Badge Challenge, Tim Building, navigation challenge, dan sebagainya. (r/humas prov bali/bpn)

Kelengkapan Rampung, Shortcut Candi Kuning 2 Siap Dibangun Di 2017

BALIPORTALNEWS.COM – Rencana pembangunan shortcut Mengwi Singaraja dipastikan segera terealisasi pada 2017,  yang akan diawali dengan pembangunan shortcut candi Kuning 2 dari sepuluh short cut yang direncanakan sesuai kajian feasibilty study (FS) yang telah dilakukan oleh Kementerian PU dan Perumahan Rakyat melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Wil. VIII. Dan saat ini sedang dilaksanakan kajian terhadap Detail Enginering Design (DED) dan Dokumen Lingkungan pada Shortcut Candi Kuning 1, Candi Kuning 2, Sukasada 1 dan Sukasada 2.

Dari 4 lokasi tersebut, shortcut Candi Kuning 2 diprioritaskan pembangunannya untuk mengatasi kemacetan pada musim high season yang kerap terjadi di sekitar Pasar Candi Kuning/Kebun Raya Bedugul. Apabila penyiapan lahannya rampung pada tahun 2016, pada tahun 2017 rencana pembangunan shorcut tersebut sudah bisa direalisasikan. Demikian disampaikan Gubernur Bali Made Mangku Pastika dalam Jawaban Gubernur Bali atas Pandangan Umum Terhadap Raperda Perubahan atas Perda Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2011 Tentang Retribusi Jasa Usaha yang dibacakan oleh Wagub Ketut Sudikerta pada Sidang Paripurna DPRD Provinsi Bali, di ruang Sidang Utama Kantor DPRD Provinsi Bali, Senin (22/8/2016).

Lebih jauh dalam jawaban Gubernur Bali tersebut dijelaskan, rencana shortcut tersebut berada pada KM 49,597 sampai KM 50,469,dengan panjang 385 M, ruang milik  jalan (Rumija) 15 M, dan diperkirakan membutuhkan lahan 5.775 m2. Pembangunan Shortcut Mengwitani-Singaraja ini pada Tahun 2017 menurut Gubernur Pastika akan memperlancar mobilitas arus barang dan jasa, sehingga akan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, serta memperkecil kesenjangan pembangunan antara Bali Selatan dan Bali Utara.

Hal lain yang disampaikan Gubernur Pastika kala itu, yakni terkait pengalihan kewenangan pertambangan sesuai UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, yang sudah menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi, telah ditindaklanjuti dengan menetapkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 6 Tahun 2016 tentang Perizinan Usaha Pertambangan  yang berlaku sejak tanggal 22 Januari 2016, sebagai pedoman proses dan mekanisme melakukan kegiatan pertambangan. Pemprov pun telah melakukan pemantauan dan pembinaan kepada masyarakat, penambang Galian C, pengusaha Galian C, tokoh masyarakat bersama-sama Pemkab Karangasem.

Untuk pemenuhan kebutuhan bahan galian batuan, serta untuk menjamin kawasan pertambangan tersebut, menurut Gubernur Pastika sudah sesuai dengan rencana tata ruang, dan apabila ada peraturan perundang-undangan yang mengatur lain, maka Pemkab Karangasem terlebih dahulu perlu melakukan evaluasi dan pengkajian terhadap Perda Tata Ruang Wilayah Wilayah Karangasem. Lebih dari itu, terkait Galian C, Pastika menyatakan Kecamatan Kubu, Karangasem, sebagai pusat/sentral Galian C karena melihat potensinya yang cukup besar, serta setelah pertambangan lahan tersebut direhabilitasi untuk pengembangan komoditas pertanian khususnya holtikultura.

Terkait retribusi, Pastika menyampaikan  pengenaan tarif retribusi jasa usaha yang ditetapkan sudah didasarkan pada kajian secara komprehensif yang melibatkan Tim Pengkaji dari SKPD penghasil, dengan tetap memperhatikan indeks harga dan perkembangan perekonomian sehingga tarif yang dikenakan tidak memberatkan dan tetap memberikan rasa keadilan bagi masyarakat. Perluasan obyek retribusi dan peningkatan tarif retribusi pemakaian kekayaan daerah pun disetujui Gubernur Pastika, yang disertai dengan peningkatan kualitas-fasilitas pelayanan dengan penyediaan saranadan prasarana yang memadai.

Dalam sidang tersebut juga dibahas agenda lainnya yakni jawaban fraksi-fraksi DPRD Provinsi Bali atas Pendapat Kepala Daerah terhadap Raperda Inisiatif DPRD Provinsi Bali tentang Penyelenggaraan Kearsipan Provinsi. Dalam jawaban yang dibacakan oleh Anggota DPRD Provinsi Bali, I Ketut Tama Tenaya, Fraksi-fraksi DPRD Provinsi Bali berpandangan bahwa dalam menghadapi tantangan globalisasi dan mendukung terwujudnya penyelenggaraan negara dan khususnya pemerintahan yang baik dan bersih, serta peningkatan kualitas pelayanan publik, penyelenggaraan kearsipan lembaga negara, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, perusahaan, organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, dan perseorangan harus dilakukan dalam suatu sistem penyelenggaraan kearsipan yang komprehensif dan terpadu.

Urusan kearsipan pun dipandang menjadi urusan wajib pemerintah, namun sampai saat ini masih terdapat lembaga daerah Pemerintah Daerah yang belum memiliki unit kearsipan. Untuk mengatasi hal itu, peran lembaga kearsipan Provinsi dinilai sangat strategis. Dan Gabungan Fraksi DPRD Provinsi Bali pun sependapat dengan Pastika terhadap aspek teknis penyusunan Raperda tersebut, dengan pertimbangan diantaranya penyelenggaraan kearsipan Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota, BUMD, Lembaga Pendidikan, dan sebagainya dilaksanakan dalam sistem penyelenggaraan kearsipan yang komprehensif, terpadu dan berkesinambungan untuk mendukung terwujudnya penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bersih, serta peningkatan kualitas pelayanan publik. (Humas Pemprov Bali)

Lopita, Bayi Lahir Cacat Asal Desa Tegalmengkeb, Selemadeg, Tabanan

BALIPORTALNEWS.COMNasib malang Ni Kadek Ayu Lopita Puspa Kirani, bocah malang yang baru berusia dua bulan sungguh memprihatinkan. Putri dari  Ni Komang Ayu Puspa Karini (19), asal Banjar Alas Desa Tegalmengkeb, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan terlahir dengan kondisi tubuh cacat  karena tidak memiliki telunjuk jari kanan dan jari tengah pada tangan kirinya.

Lebih memprihatinkan lagi, selain cacat pada tangannya, kaki kirinya juga ceking sehingga mengakibatkankan telapak kakinya membengkak. Menurut sang Ibu, waktu didalam kandungan kaki buah hatinya tersebut terlilit tali pusar dan dianjurkan harus menjalani operasi.  Kondisi bayi yang memprihatinkan ini mendapat perhatian Gubernur Bali Made Mangku Pastika yang  mengutus staf humas Pemprov Bali untuk mengunjunginya, pada Selasa (9/8/2016).

Nenek  sang bayi, Ni Wayan Suarniti, menuturkan ia dan pihak keluarga hanya bisa pasrah terlebih saat ini pasca mengetahui kondisi anaknya cacat, suami putrinya (Komang Ayu, red) pergi meninggalkan Komang Ayu   di usia pernikahan yang baru menginjak tiga bulan.

 “Baru tiga bulan menikah, dia (suami-red) sudah meninggalkan anak dan  cucu saya,” ungkap  Suarniti. Komang Ayu sendiri bersama Lopita Pupita Kirani tidak ada di tempat karena  pada saat dikunjungi karena tengah memeriksakan Lopita Puspa Kirani  ke RS Sanglah.

Saat ini Komang Ayu dan buah hatinya tinggal bersama kedua orangtuanya yakni Ni Wayan Suarniti (43) dan I Wayan Sunadi Yasa (45) yang kesehariannya hanya sebagai buruh serabutan. 

Sementara Kepala Dusun Banjar Alas I Putu Sila yang mendampingi staf meninjau Lopita menuturkan bahwa pernikahan orang tua Lopita secara administrasi  maupun secara adat masih belum tuntas, mengingat yang bersangkutan baru sekedar menjalani upacara secara adat saja. Ditambahkan juga, bahwa sebelum menikah dengan ayah Lopita, Komang Ayu sudah pernah menikah dan dikaruniai satu orang putri yang bernama Ni Putu Aprina Purwakirana yang kini sudah berumur 1,3 tahun, tetapi suaminya tersebut juga pergi meninggalkannya.

Keluarga Komang Ayu termasuk keluarga kurang mampu dan pada tahun 2010, keluarga yang bersangkutan telah mendapatkan bantuan bedah rumah dari Pemerintah Provinsi Bali, hal senada juga dibenarkan oleh Sekretaris Desa Tegalmengkeb I Nyoman Agus Wisnaya. Untuk berobat atau pemeriksaan Lopita, Komang Ayu menggunakan JKBM.  Hingga kini, Lopita sudah tiga kali dibawa berobat ke RS Sanglah dan Dokter menyarankan Lopita untuk dioperasi..

Pada kesempatan itu, tim menyerahkan bantuan berupa beras dan sejumlah uang, sedangkan untuk bantuan selanjutnya akan dikoordinasikan dengan instansi terkait.

Sumber : Humas Pemprov Bali

Paiketan Puri se-Bali Hadiri Pembukaan OWHC

BALIPORTALNEWS.COMPelaksanaan Konferensi Strategic Meeting Organitation World Heritage Cities (OWHC) Asia Pasifik dimana Kota Denpasar selaku tuan rumah agenda tahunan ini mendapat dukungan dari  Paiketan Puri-Puri se Bali.

Beberapa Raja atau Penglingsir Puri tampak hadir seperti Ida Dalem Semara Putra penglingsir Puri Agung Klungkung, Ida Agra Pemayun Puri Girinatha Payangan, AA Ngurah Putra Dharmanuraga Puri Pemecutan Badung, AA N Panji Astika Puri Anom Tabanan, AA Gde Eka Putra Puri Kilian Bangli, AA Gde Bharata puri Agung Gianyar, AA Ngurah Joko Pratidnya Puri Jro Kuta, Tjokorda Putra Sukawati Puri Ubud, Tjokorda Gede Putra Nindya Puri Peliatan dan Kanjeng Harri Djojonegoro Keraton Surakarta.

Kehadiran para penglingsir puri ini memberikan suatu nilai tambah terhadap pelaksanaan konfrensi OWHC ini yang baru pertama kali dilaksanakan di Bali, karena dengan dukungan dan kehadiran para penglingsir puri menandakan hubungan yang sangat harmonis antara pemerintah dengan puri. Sekretaris Paiketan Puri se Bali AAN Putra Dharmanuraga ditemui disela-sela konfrensi mengatakan pertemuan OWHC ini di Denpasar merupakan suatu kehormatan bahwa keberadaan puri puri masihdiakui keberadaaan.

“Ini tidak terlepas dari sejarah bahwa Puri-Puri yang ada di Bali masih sangat teguh memegang tradisi dan kebudayaan yang menjadi warisan pusaka yang adiluhung. Kami melihat betapa pentingnya pelestarian budaya dan pusaka masa lalu, dengan demikian generasi muda memahami bagaimana harmonisasi kehidupan masa lalu dan masa kini,” kata Dharmanuraga. Ia melihat komitmen dari walikota Denpasar untuk melestarikan warisan budaya dan pusaka ini sangat kuat.

“Walaupun merupakan daerah perkotaan yang cendrung dngan budaya modern namun dengan program yang jelas dan komitmen kuat dari Walikota menjadikan Denpasar mampu bertahan dengan identitas budya Bali yang kuat, ini hendakna dijadikan contoh bagi daerah lainnya bagaimana upaya untuk melestarikan budaya dan warasanpusaka,” katanya.

Sementara Walikota Denpasar IB. Rai Dharmawijaya Mantra mengucapkan terima kasih dan apreasiasi dengan dukungan dari paiketan Puri se Bali. Rai Mantra mengakui bahwa perkembangan budaya dan pelestarian warisan pusaka di Kota Denpasar tidak bisa dilepaskan dari keberadaan puri. “Kedepan hubungan dan kerjasama yg harmonis antara Pemerintah Kota Denpasar dengan Puri puri bisa lebih ditingkatkan dalam upaya untuk menjaga dan melestarikan warisa pusaka ini,” kata Rai Mantra.

Selebihnya putra mantan Gubernur Bali IB Mantra mengatakan upaya untuk menjaga dan melestarikan warisan pusaka akan senantiasa melibatkan puri serta kalangan generasi muda. Hal ini sejalan dengan tema konferensi OWHC tahun ini yakni memperkuat pelibatan dan membangun jaringan pemuda di kawasan asia pasific.

Sumber : Humas Pemkot Denpasar

Balita Yatim Piatu Asal Selemadeg Tabanan, Terima Bantuan

BALIPORTALNEWS.COM – Pemberitaan di media tentang Elin Meliana, balita yatim piatu berumur 3,5 tahun dengan kondisi kesehatan buruk karena sebagian tubuhnya penuh luka koreng direspon cepat Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta. Secara khusus orang nomor dua di Pemprov Bali ini mengutus tim Humas Pemprov serta Staf Wakil Gubernur Bali untuk menyerahkan bantuan sementara ketempat tinggalnya, sebuah tempat kos di Banjar Sari, Bajera, Selemadeg, Tabanan, Kamis (4/8/2016).

Pada saat ditemui, Elin Meliana, tinggal bersama neneknya Sapurah (50) dan Kakeknya Ali Munah (50). Keduanya menuturkan bahwa, semenjak kedua orang tua Elin meninggal (alm. Siti Jumiati dan alm. Gede Muliasa), balita malang tersebut menjadi susah makan dan sangat rewel sehingga membuat badannya semakin kurus.

Elin sempat diperiksakan ke Puskesmas setempat, serta sempat mendapatkan pengobatan di rumah sakit sekitar selama delapan hari dengan menggunakan JKBM. Dokter yang merawatnya menyarankan  untuk melakukan kontrol rutin ke rumah sakit. Namun karena tidak ada yang mengantarkan serta keterbatasan biaya upaya pengobantannya tidak maskimal.

Pasangan suami istri tersebut hanya bekerja sebagai tenaga serabutan dengan berpenghasilan Rp 20 ribu per hari yang hanya cukup untuk biaya makan, sehingga kontrol ke rumah sakit tidak bisa dilakukan. “Kami hanya bisa pasrah melihat kondisi cucu kami yang semakin hari semakin buruk ini, karena biaya hidup juga kami kesusahan,” ujar nenek paruh baya tersebut dengan hati lirih.

Ia berharap, pemerintah maupun orang dermawan bisa membantu meringkankan beban yang diderita oleh Elin, sehingga Elin dapat kembali bermain seperti balita lain di usianya.

Tim pada kesempatan itu yang juga didampingi oleh Kelihan Dinas Banjar Sari, I Nengah Sukarsa  menyalurkan bantuan sementara berupa uang tunai dan beras 50 kg guna meringankan beban kehidupan  Elin  Meliana serta kakek neneknya.  Sedangkan untuk bantuan selanjutnya akan dikoordinasikan lebih lanjut dengan SKPD terkait.

Gerakan responsif Pemprov Bali ini juga diharapkan dapat menggerakan kepedulian sosial masyarakat mampu terhadap sesama yang membutuhkan.

Sumber : Humas Pemprov Bali

SOSIAL MEDIA BALI PORTAL NEWS

757FansSuka
4PengikutMengikuti
485PengikutMengikuti
3,369PengikutMengikuti
71PengikutMengikuti
12PelangganBerlangganan