HUT Ke-52 ST Taruna Karya, Dimeriahkan Panjat Pinang

0

BALI-PORTAL-NEWS.COM – Kemeriahan mewarnai perayaan HUT ke-52 Seka Teruna (ST) Taruna Karya Br. Kebon Singapadu Gianyar. Istimewanya, perayaan setengah abad lebih seka teruna  ini digelar selama kurang lebih satu bulan dengan menggelar turnamen voli se-Kecamatan Sukawati. Dan Secara khusus perayaan HUT digelar tiga hari yakni,  Minggu (10/72016), Jumat (15/7/2016) dan Sabtu (16/7/2016).

Perayaan HUT ke-52 ST Taruna Karya juga dirangkai dengan pelantikan pengurus ST Taruna Karya periode 2016-2018. Memeriahkan acara Sabtu (16/7/2016) dihibur dengan penampilan seka gong kebyar anak-anak dan artis lagu pop Bali anak-anak

Sementara pada hari pertama, Minggu pagi diisi jalan santai dengan hadiah yang menarik, sore hari diisi lomba panjat pinang serta dilanjuti dengan olimpiade matematika tingkat SD.

Sebelum pelaksanaan puncak HUT, Jumat (15/7/2016) seluruh anggota ST Taruna Karya melaksanakan ritual natab byakaonan bersama di Pura Melanting Banjar Kebon Singapadu. Upacara ini bertujuan membersihkan diri dari sifat-sifat yang kurang baik untuk terciptanya seka teruna yang berbudi luhur dan bijaksana. “Dengan natab byakaonan ini harapan kami para pemuda dan pemudi bersih dalam melaksanakan kegiatan seka teruna,’’ Tutur Wayan Supartayasa selaku calon ketua pemuda periode 2016-2018.

Ketua ST Taruna Karya Kadek Amerta Yoga merasa sangat senang bisa memberikan hiburan lomba panjat pinang dan yang lainnya untuk masyarakat. “Suatu hal yang sangat berkesan dalam diri kami sebagai pengurus seka teruna mampu memberikan hiburan pada masyarakat,’’ ujarnya, sembari berharap anggota ST Taruna karya selalu dapat berkarya dan melestarikan budaya bali, khususnya tari Janger yang dipentaskan di HUT.

Sementara itu, turnamen voli bertujuan untuk memperat tali persatuan antar seka teruna yang ada di Sukawati, khususnya di Singapadu. Juara I diraih tim voli Br.Tameng Sukawati.

Penulis : Ryandra Paramartha
Editor : Putu Tistha

SMP PGRI 9 Denpasar Sosialisasi Pendidikan Keluarga

0

BALI-PORTAL-NEWS.COM – SMP PGRI 9 Denpasar mengundang orangtua siswa baru untuk sosialisasi mengenai Pendidikan Keluarga dan penyampaian kebijakan peningkatan pengelolaan sekolah bermutu, Sabtu (16/7/2016). Sosialisasi dibuka Ketua YPLP Kota PGRI Denpasar, Drs. Nengah Madiadnyana, M.M., didampingi pembina, Drs. Ketut Sukarta, M.Si., Drs. Made Bandung, serta Koordinator Pengawas Kota Denpasar, Wayan Kartini.

Ketua YPLP Kota PGRI Denpasar, Nengah Madiadnyana, memberi apresiasi kepada SMP PGRI 9 Denpasar karena semakin mendapat kepercayaan masyarakat. Sekolah ini dikejar masyarakat karena mutu, pendidikan disiplin dan karakter.

Karenanya, kepercayaan ini harus diemban dengan memberi pelayanan terbaik kepada anak bangsa. Guru adalah kunci  keberhasilan peningkatan mutu pendidikan. Untuk itu dia mengatakan SMP PGRI 9 Denpasar harus terus berbuat dan berinovasi. Pertemuan dengan orangtua siswa ini, kata Madianyana, pas dengan konsep Pendidikan Keluarga, bahwa pendidikan selalu bekerja sama dengan orangtua, masyarakat dan sekolah.

Koordinator Pengawas Kota Denpasar, Wayan Kartini menyampaikan pentingnya peran dan pendidikan keluarga. Tugas orangtua siswa tak sekadar mengantar ke sekolah langsung ditinggal, melainkan lebih dari itu.

Di antaranya menanyakan perkembangan akademis anak, cara belajar dan bergaulnya. Ia juga mengingatkan anak-anak dibiasakan sarapan pagi di rumah serta orangtua juga diingatkan tak melakukan kekerasan terhadap anak.

Penulis : Gandhi Abhivara
Editor : Putu Tistha

SMP PGRI 9 Denpasar Cetak SDM ‘’Widya Jaya Jayanthi’’

0

BALI-PORTAL-NEWS.COM – Kepala SMP PGRI 9 Denpasar, Drs. A.A. Ketut Sumitra, M.M.,M.Si., merasa bangga SMP PGRI 9 Denpasar menjadi pilihan masyarakat. Tahun ini, SMP PGRI 9 Denpasar sukses menerima 237 siswa baru.

‘’Kami menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang mempercayakan SMP PGRI 9 Denpasar. Ini menunjukkan para orang tua siswa sangat pas menentukan pilihan di SMP PGRI 9 Denpasar,’’ ujar Agung Ketut Sumitra disela-sela sosialisasi Pendidikan Keluarga dan penyampaian kebijakan peningkatan pengelolaan sekolah bermutu di SMP PGRI 9 Denpasar, Sabtu (16/7/2016).

Kebanggaan kedua, SMP PGRI 9 Denpasar dipercaya Kemendikbud sebagai satu-satu sekolah swasta di Denpasar yang mendapatkan bimtek pemenuhan sekolah potensial menjadi Sekolah Standar Nasional (SSN). SMP PGRI 9 Denpasar yang juga saudara kembar SMPN 10 Denpasar ini juga semakin memperkuat diri menerapkan Kurikulum 2013 (K-13).

A.A. Ketut Sumitra yang juga pengelingsir Puri Padangluwih, Dalung (duwe Puri Mengwi) mengungkapkan, warga SMP PGRI 9 Denpasar telah disiapkan yel-yel membangkitkan semangat warga sekolah. Pertama adalah ‘’Widya Jaya Jayanthi’’ artinya ilmu yang diperoleh di SMP PGRI 9 Denpasar berguna untuk selama-lamanya.

Kedua, bersih, disiplin dan berprestasi, dimana membiasakan warga sekolah berprilaku hidup bersih, disiplin dan bersemangat mengejar prestasi setinggi-tinggi. Terakhir adalah sekolahku rumahku, mengajak semua warga sekolah merasa memiliki sekolah sebagai rumah sendiri. Sehingga siswa di sekolah harus ditanamkan harus betah di sekolah, belajar dengan tenang di sekolah, gembira di sekolah. Dengan begitu proses belajar mengajar terlaksana dengan baik dan muaranya prestasi bisa diraih.

Penulis : Gandhi Abhivara
Editor : Putu Tistha

Besarkan Sekolah dengan Konsep ‘’Nawasanga’’

0

BALI-PORTAL-NEWS.COM – Pembina SMP PGRI 9 Denpasar yang juga Kepala SMPN 10 Denpasar, Drs. Ketut Sukartha, M.Si., memberi apresiasi luar biasa pada SMP PGRI 9 Denpasar. Sekolah ini sudah mampu mengelola sekolah secara mandiri dan maju.

Besarnya animo masyarakat mempercayakan anaknya bersekolah di SMP PGRI 9 Denpasar suatu yang tidak mudah, tetapi ini adalah perjuangan yang amat panjang. Semua itu berkat kerja keras kepala sekolah,para guru, dan staf pegawai, yang tidak henti bersinergi dengan stakeholder, pada akhirnya menghasilkan karya besar dan hasilnya sesuai dengan harapan bersama.

Ketut Sukartha mengajak seluruh stakeholder sekolah untuk membesarkan SMP PGRI 9 Denpasar dengan konsep nawasanga.

Pertama, membangun komunikasi dengan siapa saja secara positif, segala masalah akan terpecahkan dengan budaya komunikasi.

Kedua, selalu menjaga etika yang mengacu kepada kumpulan nilai-nilai normatif yang berlaku yang harus dijunjung tinggi sebagai kearifan lokal.

Ketiga, menjaga integritas yang murni proposisi positif membangun budaya positif.

Keempat, moralitas yang mengaku pada standar yang diterima umum tentang perilaku benar.

Kelima, positivity menunjukkan rasa bangga kepada sekolah yang tinggi, merasa risih bila sekolah mendapat aib, merasa bangga karena sekolah berprestasi.

Keenam, profesional menjad tenaga yang profesional membangi waktu dan pekerjaan selesai.

Ketujuh, komitmen yang tinggi terhadap kebesaran almamater.

Kedelapan, berpikir ilmiah dan rasional setiap memandang persoalan.

Kesembilan, mememiliki pengetahuan dan menjadi SDM yang terampil sesuai tuntutan masa kini dan akan datang.

Penulis : Gandhi Abhivara
Editor : Putu Tistha

SMP PGRI 5 Denpasar Tanamkan Budaya Malu Kalau Melanggar

0

BALI-PORTAL-NEWS.COM  Selain meningkatkan mutu guru dan memperkuat kurikulum sekolah untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, berkarakter dan berbudaya, SMP PGRI 5 Denpasar juga menanamkan budaya mutu dan budaya malu kalau melanggar.

Siswa SMP PGRI 5 Denpasar dikatakan kasek yang suka main tenis ini sudah tiba di sekolah pukul 07.00 wita dan  07.15 pintu sekolah sudah ditutup. Siswa, guru, kasek dan karyawan yang terlambat dicatat dan diumumkan kinerjanya setiap semester.

Kinerja ini merupakan bagian penilaian guru setiap tahun digabungkan dengan penilaian siswa terhadap guru. Guru yang tak disiplin disarankan untuk meninjau minat kembali kalau tak mau diberhentikan.

Model ini dikatakannya mampu meningkatkan motivasi kerja guru dan karyawan karena Wayan Wirasa mengakui kinerja guru sekarang tak boleh biasa-biasa saja tapi luar biasa. ‘’Ini juga memupuk kebersamaan,’’ujarnya.

Tahun ajaran baru ini SMP PGRI 5 Denpasar menerima 500 lebih siswa baru. Istimewanya semua siswa sekolah ini masuk pagi. Bahkan Wayan Wirasa mengatakan sekolah ini masih memiliki lima kelas kosong dan dipakai untuk kegiatan esktra kurikuler untuk kegiatan ekstrakurikuler.

Ketua YPLP Kota PGRI Denpasar, Drs. I Nengah Madiadnyana mengacungkan jempol SMP PGRI 5 Denpasar terus hidup dan bergeliat untuk pendidikan berkualitas. Makanya Madiadnyana mengatakan program ini sejalan dengan pemerintah dimana tak ada lagi dikotomi sekolag negeri dan swasta.

Dengan padatnya program dan anggaran penguatan mutu guru, Madiadnyana mengatakan wajar sekolah ini diincar masyarakat. Programnya jelas, pelaksanaannya bisa dipertanggungjawabkan.

Penulis : Gandhi Abhivara
Editor : Putu Tistha

SMP PGRI 5 Denpasar Anggarkan Rp 100 Juta untuk Mutu Guru

0

BALI-PORTAL-NEWS.COM – Kepala SMP PGRI 5 Denpasar Dr. Wayan Wirasa, mengungkapkan, secara rutin dan konsisten memberi perhatian pada penguatan mutu guru. Bahkan sekolah ini tiap tahun menganggarkan Rp 100 juta untuk peningkatan mutu guru.

Ia menegaskan kurikulum sekolah terus diperkuat untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, berkarakter dan berbudaya. Utamanya dalam mendidik disiplin siswa dan guru serta karyawan.

Kemudian  menanamkan budaya mutu dan budaya malu kalau melanggar. Makanya sekolah ini dikenal menerapkan disiplin secara ketat.  Bukan saja disiplin siswa, juga guru dan kepala sekolah. Dengan demikian tercapai keseimbangan prestasi akademis dan non akademis.

Pada Sabtu (16/7/2016) semua guru, pegawai dan karyawan diikutkan dalam workshop implementasi Kurikulum 2013 (K-13) dan revisi Kurikulum Sekolah. Workshop dibuka Ketua YPLP Kota PGRI Denpasar, Drs. I Nengah Madiadnyana, M.M., didampingi Ketua YPLP Provinsi PGRI Bali, Dr. I Made Suada, M.M.,M.Si., dan Kepala SMP PGRI 5 Denpasar, Dr. I Wayan Wirasa, M.M.

Penulis : Gandhi Abhivara
Editor : Putu Tistha

Wayan Wirasa: Guru Tak Boleh Anti Perubahan

0

BALI-PORTAL-NEWS.COM – Kepala SMP PGRI 5 Denpasar, Dr. I Wayan Wirasa, M.M., mengungkapkan, bahwa kunci utama PBM berkualitas ada di tangan guru. Karenanya ia mengatakan, guru SMP PGRI 5 Denpasar tak boleh anti perubahan, melainkan terus berkreasi dan berinovasi dalam mengajar.

‘’Dengan demikian siswa mendapat pelayanan berkualitas untuk menghasilkan mutu lulusan berkualitas,’’ ujar Kasek Wayan Wirasa disela-sela workshop implementasi Kurikulum 2013 (K-13) dan revisi Kurikulum Sekolah di SMP PGRI 5 Denpasar, Sabtu (16/7/2016).

Paradigma  baru cara mengajar guru ini dikatakan Dr. I Wayan Wirasa, sudah diterapakan puluhan tahun di SMP PGRI 5 Denpasar. Sebab kemajuan teknologi jauh lebih pesat dibandingkan kemampuan guru sehingga dituntut guru yang adaptif sepanjang jaman.

Sedangkan karyawan dan pegawai diikutsertakan karena mereka adalah bagian dan komponen penting dalam pelayanan PBM. Dengan demikian satu langkah menjadikan SMP PGRI 5 Denpasar sekolah berkualitas yang setara dengan sekolah kembarannya SMPN 2 Denpasar.

Penulis : Gandhi Abhivara
Editor : Putu Tistha

‘’Sisya Upanayana’’ di Dwijendra

0

BALI-PORTAL-NEWS.COMSetelah menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) selama tiga hari, Jumat (15/7/2016), siswa baru dari play group, TK, SD, SMP, SMA/SMK di lingkungan Yayasan Dwjendra Pusat Denpasar mengikuti upacara sisya upanayana. Upacara sisya upanayana dipimpin Ida Pedanda Magelung dari Griya Magelung, Abiansemal.

Ketua Yayasan Dwijendra Pusat Denpasar M.S. Chandra Jaya mengungkapkan, upacara sisya upanayana adalah penobatan dimulainya calon siswa menjadi siswa. Intinya, penyucian ditandai dengan natab banten dalam upacara sisya upanaya agar siswa siap menerima ilmu pengetahuan.

Bukan saja siswa yang mawinten juga wajib diikuti semua guru dari TK, SD, SMP dan SMA/SMK Dwijendra. Kata M.S. Chandra Jaya, melibatkan guru agar keduanya siap belajar dan mengajar. Inilah yang ia sebut dengan keterikatan sisya dan siwa (guru) di Bali.

Dalam upacara sisya upanayana ini setiap siswa diberikan karawista sebagai simbol penajaman pikiran. Benang merah sebagai simbol meninggalkan sifat  buruk dalam diri dan benang putih untuk menumbuhkan sifat  baik dan kedewataan di dalam diri.

Upacara pawintenan sisya upanayana, kata M.S. Chandra Jaya ini memiliki tiga tujuan. Pertama, untuk membersihkan  dan memertajam pikiran. Dengan pikiran yang tajam siswa mampu lebih cepat menyerap ilmu pengetahuan alias aguron-guron di sekolah.

Kedua, untuk memperhalus budi pekerti , berkata sopan dan ketiga berperilaku yang baik. Dengan upacara secara sekala dan niskala, kata M.S. Chandra Jaya, inilah yang membuat semua insan Dwijendra menjadi SDM yang cerdas secara intelektual, sosial, spiritual dan emosional. Mereka ini akan menjadi panutan di keluarga dan ke depan dalam hidup bermasyarakat.

Saat pawintenan para siswa baru juga dirajah. Lidah siswa dirajah agar siswa mampu berbicara dengan tajam dan benar. Ubun-ubunnya dirajah agar siswa mampu berpikir yang jernih. Telinganya dirajah agar siswa mampu mendengarkan yang baik.

Hal ini menurut M.S. Chandra Jaya untuk menjadikan semua hati anak didik di Dwijendra  penuh dengan kasih sayang. Sebelum sembahyang bersama mereka pun diajak majaya-jaya sebagai simbol pemusatan pemikiran untuk menempuh ilmu atau  belajar.

Dia berharap setelah pawintenan Sisya Upanayana warga baru Dwijendra  bisa mengikuti  pendidikan di jenjangnya dengan baik. Dia minta jangan menjadi  anak-anak yang tunarungu alias pura-pura tak tahu. Setiap  bertemu dengan guru dan warga sekolah apalagi tamu sekolah, siswa diwajibkan mencakupkan tangan di dada seraya mengucapkan ‘’Om Swastiatsu’’.

Ketua Panitia Sisya Upanayana, Ni Wayan Nadi Supartini mengungkapkan, sehabis sisya upanayana akan dilanjutkan denan melakukan perjalanan suci tirta gemana, Sabtu (16/7) ke sejumlah Pura Sad Kahyangan di Bali. Acara ini dilakukan nyatur desa.

Siswa SMA menuju timur Pura Silayukti dan Goa Lawah.  Siswa SMP menuju ke utara yakni Pura Batukaru. Siswa SMK di Pura Kahyangan Tiga Peguyangan, serta siswa SD dan TK menuju Bali selatan yakni Pura Candhi Narmada.

 

Penulis : Putra Sasmitha
Editor : Putu Tistha

Siswa Baru SMAN 1 Denpasar Diajak ‘’Ngejot’’

0

BALI PORTAL NEWS – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMAN 1 Denpasar (Smansa), terbukti mampu menumbuhkan budi pekerti luhur dan kepekaan sosial tinggi pada siswa baru. Mengakhiri kegiatan MPLS, siswa baru Smansa melakukan ngejot ke Panti Jompo Wana Saraya di Jalan Gumitir Denpasar, Yayasan Tat Twam Asi di Jalan Jaya Giri IX No. 6 Denpasar dan SLB A Negeri di Jalan Serma Gede Denpasar.

Sumbangan diserahkan siswa baru Smansa disaksikan Ketua Panitia MPLS Drs. I Gusti Ketut Adiawan, M.Pd., didampingi Waka Kesiswaan yang juga Koordinator MPLS Drs. I Ketut Loper Winartha, M.Pd. Adapun barang-barang yang disumbangkan antara lain, beras, mie instan, gula pasir, teh celup dan pakaian bekas layak pakai.

Ketua Panitia MPLS I Gusti Ketut Adiawan, mengungkapkan, kegiatan MPLS di Smansa sesuai dengan tema ‘’Sejuk, Sehat dan Berbudaya Kita Tumbuhkan Generasi Muda yang Berkarakter dan Peduli Lingkungan’’ sesuai yang dicanangkan Pemkot Denpasar dan mengacu pada Permendikbud No. 18 Tahun 2016. Istimewanya, MPLS juga sesuai dengan visi SMAN 1 Denpasar yaitu unggul dalam mutu, berbudaya, peduli lingkungan dan berwawasan global.

Karenanya, siswa baru Smansa sangat senang dan riang gembira mengikuti MPLS yang sangat jauh dari "aroma" perpeloncoan. Lebih positif lagi, MPLS tahun ini mampu memupuk rasa peduli dan empati siswa kelas X yang dituangkan dalam program kegiatan bakti sosial.

Uniknya, siswa baru mampu berkoordinasi dengan sesama siswa peserta MPLS dengan penuh rasa kepedulian sosial, mulai merancang jenis barang cara menyampaikan kepada siswa lain, pengumpulan barang, mengepak barang, menyimpan barang dan memilih tempat bakti sosial. Rasa peduli siswa sudah berkembang apalagi mendapat bimbingan dari guru-guru Smansa yang memang memiliki loyalitas tinggi dalam dunia pendidikan.

Kepala SMAN 1 Denpasar, Drs. Nyoman Purnajaya, M.Pd., mengaku terharu dengan tingginya kepekaan sosial warga Smansa. Purnajaya menyebutkan, ngejot ini dimaksudkan sebagai eskpresi penguatan pendidikan dan budi pekerti anak-anak di Smansa. Apalagi penumbuhan pendidikan budi pekerti semakin digalakkan pemerintah.

Selain itu budaya ini termasuk salah satu sisi baik pelaksanaan MPLS di Smansa. Purnajaya mengungkapkan budaya ngejot ini juga serangkaian menumbuhkan konsep suputra dalam bentuk nyata yakni anak yang baik, berbakti kepada orangtua dan suka membantu.

Konsep ini sesuai dengan nilai-nilai yang ditanamkan Smansa bahwa  pendidikan itu bukan hanya dilakukan di kelas, melainkan dalam bentuk kegiatan bersentuhan dengan masyarakat. Jika semua anak suputra, maka dia yakin semakin sedikit penghuni panti jompo dan panti asuhan di Bali dan mampu memberikan semangat atau motivasi kepada anak-anak panti dan anak-anak SLB A Negeri agar mampu bangkit sebagai generasi muda yang tangguh.

Sekretaris Komite Smansa, A.A. Anom Masta, S.E., merasa terharu karena anak-anak Smansa memiliki kecerdasan intelektual, sosial, emosional dan spiritual yang tinggi.  Inilah yang dia sebut sebagai penanama sikap mental positif. Dengan demikian sikap mental semua insan Smansa aka menjadi  panutan di rumah dan di sekolah.

Penulis : Putra Sasmitha
Editor : Putu Tistha