BALIPORTALNEWS.COM, MEDAN – Medan Creative Hub mengadakan acara Dawai Hanna Pagiet. Sebuah diskusi mengenai Hanna Pagiet, Penyanyi Solo yang aktif berkarya selama 14 tahun. Acara ini diadakan di Caldera Coffe, Kamis (20/2/2020) lalu.

Hanna mengungkapkan bagaimana ia bisa konsisten mincaptakan lagu-lagu dan bermain musik dengan gayanya sendiri. “Aku pemusik dan pembuat lagu. Aku seniman berkarya harus dikenal orang dari karyaku,” ungkap Hanna ketika ditanya mengapa tidak mengikuti trend meng-cover lagu.

Hanna telah bermain musik sejak SMA ditahun 1998. Namun mulai  Menyikapi industri lebih serius tahun 2004. Inspirasinya dalam menulis lagu datang dari pengalaman pribadi atau dari pengalaman teman-temannya. Namun, Hanna tidak langsung berhasil dalam sekali coba. Banyak lagu yang dibuat tidak terpakai. Hanna mulai yakin lagu pantas diperdengarkan ke khalayak pada 2005.

Hanna juga sempat vakum pada 2009 dan aktif kembali bermain musik pada 2014. Ketika itu Ia merasa tidak dapat hidup di musik. “kok gini-gini aja,  jangan-jangan aku enggak cocok dimusik,” ujarnya. Kemudian ia bergabung dengan Rumah Karya Indonesia dan menyediakan panggung untuk orang lain. Perasaan sedih melihat orang manggung yang meyakinkan Hanna, bahwa ia tidak dapat hidup tanpa musik.

Baca Juga :  Perdana Berbahasa Bali, Gede Bagus Rilis Single "Sayang"

Tahun ini Hanna memiliki rencana mengeluarkan album dan road show. Hanna tengah mematangkan rencana untuk ini dan mulai memikirkan tim.

“Enggak sanggup enggak ada tim, Sampai sekarang aku masih sendiri,” punggahnya.

Onny Kesnawan, Sutradara sekaligus Ketua Asosiasi Dokumenteris Nusantara Medan mengatakan untuk mengapresiasi Hanna sudah selesai. Orang harus mulai berangkat dari sana mulai memikirkan setelah menciptakan karya harus apa. Jika ingin serius Hanna sudah harus menyiapkan tim untuk mengurus distribusi atau pendanaan. Agar dapat fokus dalam meracik musik ke dalam videoklip dan menimbulkan karakter video.

“Tapi saya sepakat Hanna sudah kuat karakter musiknya,” tambah Onny.

Beng Handoko, Founder Medan blues Society mengatakan Kolaborasi sudah umum. Baginya Hanna memiliki karakter dalam bermusik. Menurut Beng,  penyanyi solo dan bergitar seperti Hanna mungkin di nasional sudah banyak namun di Medan itu tidak banyak, ini menjadi keunikan Hanna.

“Kedepannya harus lebih serius dikemasnya,” ujarnya.

Hanna hanya butuh suport dan konsisten dengan warnanya.  “Konsisten butuh kalau, ikut angin kadang engga ada angin kita ga bisa terbang” pesan Beng. (r/bpn)