BALIPORTALNEWS.COM – Suhu udara di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam beberapa waktu terakhir terasa panas.

Pakar Iklim dari UGM, Dr. Emilya Nurjani menjelaskan terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi cuaca panas dalam beberapa hari terakhir. Salah satunya dikarenakan posisi matahari yang dekat dengan ekuator sehingga membuat daerah di sekitar ekuator menjadi lebih panas.

“Saat ini matahari ini sudah bergeser kebelahan bumi utara, sehingga seharusnya suhunya lebih rendah,” katanya saat ditemui Kamis (25/4/2019) di Departemen Geografi Lingkungan Fakultas Geografi UGM.

Selain hal tersebut, cuaca panas juga dipengaruhi oleh angin monsoon Asia. Angin ini membawa banyak uap air yang mengakibatkan potensi pembentukan awan semakin besar. Awan-awan yang terbentuk tersebut menghalangi radiasi atau panas matahari yang seharusnya dilepaskan ke atmosfer.

“Suhu dari panas matahari yang diserap bumi dan dipantulkan ke atmosfer terhalang untuk dilepaskan karena masih banyak tutupan awan. Akhirnya panas matahari balik lagi ke bumi sehingga suhu bumi menjadi naik,”urainya.

Emilya menyebutkan suhu saat ini di DIY mengalami kenaikan hingga kisaran 31-31 derajat Celcius. Sementara di hari-hari biasa suhu hanya berkisar pada 29 derajat celcius. Menurutnya fenomena suhu panas ini akan terus dihadapi masyarakat DIY. Terlebih seiring dengan penggunaan lahan yang semakin massif.

Baca Juga :  Kiat Atasi Kecanduan Internet Pada Anak

Suhu akan terus meningkat apabila tutupan lahan semakin berkurang. Daerah perkotaan dengan bangunan beton menjadi kawasan yang menyumbang panas sebab memiliki material yang mudah menyimpan panas.

Ditengah cuaca yang semakin panas, kecenderungan pemakaian pendingin ruangan semakin meningkat. Padahal pendingin ruangan melepaskan emisi karbon yang menyebabkan radiasi bumi tidak bias menembus ke atmosfer, tetapi kembali lagi ke bumi sehingga cuaca menjadi bertambah panas.

Cuaca panas ini disebutkan Emiliya bukan merupakan fenomena yang mengkhawatirkan.Hanya saja perlu untuk diwaspdai oleh masyarakat. Pasalnya, suhu tinggi akan menjadi tujuan pergerakan angin yang menyebabkan angin perkotaan (urban brezee) seperti angin kencang. Angin perkotaan tersebut akan menimbulkan urban heat island yang memicu munculnya berbagai masalah kesehatan akibat cuaca ekstrem.

Menurutnya, cuaca panas ini akan berubah saat memasuki musim kemarau. Ketika musim kemarau tidak akan terdapat awan yang menghalangi pelepasan panas matahari ke atmosfer.

“Saat kemarau tidak ada awan sehingga panas matahari dari bumi akan langsung dilepaskan ke atmosfer. Ketika siang memang cuaca panas, tapi kalau malam suhu akan turun,” terangnya.

Baca Juga :  Sisihkan 682 Peserta, Inilah Pemenang Kontes Kreativitas Mengajar Otomotif

Saat ini DIY tengah berada pada musim pancaroba atau peralihan musim penghujan ke musim kemarau. BMKG memperkirakan bahwa wilayah ini akan memasuki musim kemarau pada akhir April atau wal Mei 2019.

Meskipun fenomena cuaca panas akhir-akhir ini bukalah hal yang mengkhawatirkan, namun Emilya menekankan pentingnya upaya antisipasi untuk menekan dampak negatif yang ditimbulkan. Diantaranya dengan menambah luasan ruang terbuka hijau dan mengurangi produksi karbon. (ika/humas-ugm/bpn)