BALIPORTALNEWS.COM – Diabetes mellitus mungkin penyakit yang sudah tidak asing lagi bagi anda. International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan sebanyak 382 juta orang di dunia hidup dengan diabetes, dari jumlah tersebut 175 juta orang diantaranya belum terdiagnosis, sehingga tanpa disadari penyakit yang diderita sudah berkembang dan menjadi komplikasi tanpa ada tindakan pencegahan.

Diabetes mellitus (DM) adalah suatu penyakit pada organ pancreas, yaitu suatu organ yang menghasilkan hormon insulin.  Insulin merupakan salah satu hormon yang berperan untuk membantu mengubah makanan menjadi energi. Makanan yang kita konsumsi akan dipecah menjadi bebagai macam nutrisi yang dibutuhkan oleh sel tubuh, salah satunya adalah glukosa. Insulin membantu glukosa yang berada di dalam darah untuk masuk ke sel tubuh yang kemudian akan diubah menjadi energi. Pada penyakit DM, insulin yang dihasilkan oleh pancreas tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh, hal ini menyebabkan glukosa di dalam darah tidak dapat masuk ke dalam sel sehingga kadar glukosa darah menjadi tinggi dan sel tubuh menjadi “kelaparan”.

Terdapat dua tipe umum dari DM yaitu DM tipe 1 dan DM tipe 2. DM tipe 1 disebabkan karena kerusakan sel pancreas, sehingga insulin yang dihasilkan sangat sedikit bahkan bisa sampai tidak dapat dihasilkan sama sekali. Keadaan ini mengakibatkan glukosa darah tidak dapat masuk ke dalam sel tubuh, karena itu orang dengan DM tipe 1 membutuhkan injeksi insulin untuk mengatur kadar gula darah agar tetap stabil. DM tipe 1 biasanya ditemukan pada usia muda. Jumlah penderita DM tipe 1 lebih sedikit dibandingkan dengan penderita DM tipe 2. Pada DM tipe 2, sel pancreas dapat menghasilkan insulin, namun insulin yang dihasilkan tidak mampu mengimbangi kebutuhan metabolisme tubuh. DM tipe 2 dapat dikontrol dengan diet sehat, menjaga berat badan ideal dan olahraga. Bila cara tersebut masih belum bisa mengontrol kadar glukosa darah, maka diperlukan terapi tambahan dapat berupa obat anti diabetes maupun injeksi insulin. DM tipe 2 umumnya ditemukan pada usia 40 tahun keatas, namun semakin meningkatnya angka obesitas menyebabkan bertambahnya penderita DM tipe 2 pada usia kurang dari 40 tahun. Beberapa faktor yang dapat memicu timbulnya diabetes khususnya DM tipe 2, berkaitan dengan perilaku hidup yang kurang sehat, antara lain: berat badan berlebih, kurangnya aktivitas fisik, penyakit tekanan darah tinggi, kadar kolesterol darah yang tinggi. pola makan yang tidak sehat.

Baca Juga :  Berbahan Arak Terstandardisasi, Usada Barak Percepat Penyembuhan OTG Covid-19

Gejala umum yang biasanya dialami pasien diabetes antara lain sering lapar, sering haus, sering buang air kecil dalam jumlah banyak dan berat badan turun. Selain itu gejala lain yang dapat timbul berupa pandangan kabur, rasa kesemutan di tangan dan kaki, luka yang sulit sembuh, infeksi, keputihan dan gatal pada kulit.

Metode sederhana yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis DM adalah dengan pemeriksaan gula darah. Gula darah yang diukur adalah gula darah puasa, gula darah sewaktu, dan gula darah 2 jam post prandial. Pada pemeriksaan gula darah puasa, pasien akan diminta untuk berpuasa selama 10-12 jam sebelum dilakukan pemeriksaan gula darah. Pasien didiagnosis DM apabila kadar gula darah puasa diatas 126 mg/dL. Pada pemeriksaan gula darah sewaktu,  kadar gula darah pasien diperiksa secara acak tanpa berpuasa terlebih dahulu. Jika hasil gula darah sewaktu menunjukkan nilai 200mg/dL ditambah dengan adanya gejala klasik DM yaitu peningkatan rasa lapar dan haus serta frekuensi buang air kecil meningkat, maka pasien dapat di diagnosis DM. Selain itu terdapat pemeriksaan gula darah 2 jam post prandial, yaitu pemeriksaan gula darah yang dilakukan 2 jam setelah makan. Bila hasil gula darah menunjukkan nilai diatas 200, ditambah dengan adanya gejala, maka pasien tersebut dapat didiagnosis DM.

Baca Juga :  Baliportalnews.com Raih Penghargaan dari Kanwil DJP Bali

Pemeriksaan tambahan yang terkadang diperlukan pada pasien yang dicurigai menderita DM adalah tes toleransi glukosa oral. Tes ini digunakan untuk mendiagnosis diabetes maupun mendeteksi gejala dini abnormalitas toleransi tubuh terhadap glukosa yang dapat berkembang menjadi diabetes. Selain itu terdapat pemeriksaan tambahan lain yaitu pemeriksaan HBA1C, pemeriksaan ini digunakan sebagai pemeriksaan penunjang pasien DM untuk mengetahui kendali gula darah yang sudah dilakukan selama 2-3 bulan terakhir. Pemeriksaan ini dianjurkan untuk dilakukan pasien DM setidaknya 2 kali dalam setahun. Hasil HBA1C yang ditargetkan pada pasien DM adalah kurang dari 7%, hasil ini menunjukkan kendali gula darah yang dilakukan sudah baik.

Kendali gula darah tetap dalam keadaan normal sangatlah penting bagi penderita DM. apabila kadar gula darah tidak terkendali dengan baik, maka dapat menyebabkan komplikasi pada beberapa organ tubuh seperti kerusakan retina mata, stroke, penyakit jantung, gagal ginjal, kerusakan saraf di kaki, bahkan resiko kematian meningkat dua kali lipat dibandingkan bukan penderita diabetes.

Penyakit diabetes tidak dapat disembuhkan, namun dapat ditangani dan dikendalikan dengan gaya hidup sehat, obat-obatan anti diabetes maupun terapi insulin. Kendali gula darah yang baik terbukti dapat mengurangi resiko terjadinya komplikasi di masa mendatang.

Baca Juga :  Wujudkan Mimpi, Beauty Vlogger Pilih Honda Scoopy

Penulis : dr. Putu Juni Wulandari; Foto : google.com