Peluncuran tiga seri buku serta film pendek Purwa Carita Campuhan
Peluncuran tiga seri buku serta film pendek Purwa Carita Campuhan oleh Yayasan Puri Kauhan Ubud dilangsungkan di Ruang Taksu, Gedung Dharma Negara Alaya, Denpasar pada Jumat (3/3/2023). Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Peluncuran tiga seri buku serta film pendek Purwa Carita Campuhan oleh Yayasan Puri Kauhan Ubud dilangsungkan di Ruang Taksu, Gedung Dharma Negara Alaya, Denpasar pada Jumat (3/3/2023).

Peluncuran buku yang merangkum pemikiran para akademisi dari tiga Universitas Hindu (Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Universitas Hindu Indonesia dan STAHN Mpu Kuturan) dan satu komunitas lingkungan (Komunitas Lingkar Studi Batur) dibantu tim ahli lainnya ini mengenai air, pemuliaan air, dan nilai pentingnya dalam kehidupan masyarakat di Bali dihadiri sejumlah tokoh diantaranya Wakil Wali Kota Denpasar, Kadek Agus Arya Wibawa, Jero Gede Batur Duwuran, Koordinator Staf Khusus Kepresidenan, A.A Gede Ngurah Ari Dwipayana yang juga Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud serta undangan lainnya diantaranya para tokoh adat di wilayah yang menjadi topik dalam buku dan film dokumenter ini.

Wakil Wali Kota Denpasar, Kadek Agus Arya Wibawa mengatakan, Peluncuran buku dan film pendek ini sangat penting sebagai sarana interaksi dan komunikasi dalam usaha menumbuh kembangkan kreativitas di kalangan anak-anak dan remaja terkait agama, adat dan budaya Bali yang berkesinambungan.

“Gerakan ini bisa dipakai sarana menyebarluaskan sastra-sastra agama yang kita miliki sebagai penunjang pembangunan daerah yang terencana. Kegiatan Sastra Saraswati Sewana ini mempunyai tujuan mengeksistensi konsep Tri Angga, Hulu, Madya dan Teben sebagai simbolisasinya di tiga zona yakni Hulu/Tukad Oos (Batur), Madya/Campuhan (Ubud) dan Teben/Pesisir Ketewel),” jelas Arya Wibawa.

Baca Juga :  Rektor UHN Sugriwa Harapkan AMSI Bali Bisa Menjadi Media yang Berperan Penting dalam Membagun Negeri

Acara ini juga sarat edukasi tentang kosep Tri Hita Karana agar konsep ini tetap eksis sebagai bentuk pelestarian budaya Bali. Sebagaimana kita ketahui Tri Hita Karana adalah edukasi bagaimana kita menjaga keseimbangan, keserasian dan keselarasan guna mendapatkan keharmonisan di tiga hal yakni, hubungan manusia dengan tuhan, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan alam lingkungannya. Acara ini juga diharapkan bisa memberikan wawasan konsep Ulu-Teben dan Segara Gunung yang terealisasikan dari lokasi kegiatan Ulu/Parhyangan Batur dan Teben/Segara Ketewel.

Sementara A.A Gede Ngurah Ari Dwipayana selaku Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud mengatakan, Peluncuran tiga seri buku dan Film Pendek Purwa Carita Campuhan oleh Yayasan Puri Kauhan Ubud ini sebelumnya telah dilakukan di Jakarta dan dihadiri oleh sejumlah tokoh diantaranya Menteri Sekretaris Negara, Pratikno.

Baca Juga :  BASABali Wiki Gelar Konferensi Pemuda Bali, Perkuat Peran Pemuda dalam Menyikapi Isu Publik dan Melestarikan Budaya

Beliau sempat memberikan pesan, bahwa warisan tradisional selama ini belum bisa dilogikakan lebih karena kita belum bisa melogikakannya. Tujuan kita menemukan kembali warisan leluhur berupa kitab garing (kering) berupa lontar tertulis maupun kitab teles (basah) berupa lontar tak tertulis. Kitab kering ini selama ratusan ribu tahun tersimpan di seluruh Bali seperti di Puri dan Griya bahkan sampai ada di luar negeri yang mencakup berbagai tema. Kitab ini sangat berfungsi sebagai acuan kita untuk menjawab persoalan kedepan.

Bali merupakan lumbung sastra namun belum semua kitab dan lontar itu kita baca. Kabar baiknya sudah ada upaya pengumpulannya oleh berbagai pihak. Apalagi berkat kemajuan teknologi di masa kini kita dapat membuat adanya pusat dan lontar, digitalkan agar tercipta simpul jejaring dan bisa kita sadur isinya dengan konteks kekinian dan manfaatkan isinya untuk masa depan.

“Program Saraswati Sewana adalah bagian gerakan literasi guna mengkonservasi bahkan kedepan scientifikasi atau mengilmukannya. 3 buku dan 1 film pendek diluncurkan oleh gerakan literasi yang  kami bangun ini diantaranya buku Toya Uriping Bhuwana, Usadhaning Sangaskara, air sumber kehidupan, penyembuh peradaban, buku Nyapuh Tirah Campuhan tentang Aliran Sungai Oos, buku Jaladhi Smerthi terkait menelusuri Pelabuhan Kuno di Ketewel dalam ingatan masyarakat dan catatan kolonial serta satu Film Pendek Purwa Carita Campuhan,” katanya.(bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News