Hosting Unlimited Indonesia

BALIPORTALNEWS.COM – Mantan teroris Machmudi Haryono alias Yusuf Adirima mengajak generasi muda atau milenial untuk tidak terjerumus dalam radikalisme dan terorisme.

“Saya berharap agar Adik-adik semua tidak mudah terjebak paham radikalisme,” tegasnya, Selasa (5/11/2019) di Grha Sabha Pramana UGM.

Hadir sebagai salah satu pembicara dalam Kuliah Umum bertajuk Pencegahan Radikalisme dan Penguatan Identitas Bangsa di Perguruan Tinggi yang diselenggarakan Fakultas Filsafat UGM, Yusuf menyampaikan pesan agar para mahasiswa dalam memahami sesuatu dilakukan secara komperehensif.

“Kalau ada satu pemahaman cobalah belajar dengan pembanding yang lain seperti apa agar tidak terjebak dengan itu-itu saja,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu dia membeberkan pengalamannya saat masih terjebak dalam pusaran radikalisme puluhan tahun lalu. Yusuf mengungkapkan pernah bergabung dalam kelompok Jamaah Islamiyah (JI) dan mujahidin Moro Islamic Liberation Front (Filipina). Perang Bosnia menjadi salah satu pemicu pria ini untuk menjadi jihadis.

“Dari Perang Bosnia, saya lihat videonya, jadi ingin tahu lebih jauh kenapa ada konflik dan muncul rasa simpati kenapa itu bisa terjadi,” jelasnya

Yusuf kemudian berhasil ditangkap pada tahun 2003 dan divonis 10 tahun penjara karena terlibat terorisme. Saat ini dia telah bertobat dan aktif membantu pemerintah dalam menyuarakan perdamaian dan anti terhadap radikalisme serta terorisme.

Selain Yusuf dalam Kuliah Umum tersebut menghadirkan korban terorisme ledakan bon di Hotel JW Marriot Jakarta 2003 lalu yakni Febby Firmansyah Isran, serta motivator Dr.H.C. Ary Ginanjar.

Febby mengaku masih belum bisa melupakan tragedi kelam yang menimpanya. Akibat ledakan bom itu, tubuh Febby mengalami luka bakar hingga 45 %. Dia pun harus menjalani serangkaian operasi untuk memulihkan luka.

“Akibat tragedi bom itu saya hampir gagal menikah, mengalami trauma psikologis dan menghabiskan waktu yang lama untuk penyembuhan fisik dan mental,” jelasnya.

Meskipun sudah 16 tahun berlalu, rasa taruma masih sulit hilang hingga kini. Febby mengatakan bahwa untuk menyembuhkan trauma tidaklah bisa dilakukan dengan mudah. Saat itu dia rutin mengikuti sesi konseling psikologis untuk memulihkan kesehatan mentalnya.

Rasa dendam sempat menghinggapi Febby pada para pelaku terorisme. Namun perasaan itu justru tidak membuatnya semakin membaik. Akhirnya ia berusaha memaafkan para pelaku.

“Saya bersyukur dan berusaha untuk lebih bersyukur karena masih dikasih kesempatan hidup kedua,” katanya.

Sementara Ary Ginanjar menyampaikan bahwa paham radikalisme masuk melalui sesuatu yang diimpikan manusia. Terjadi ketika tidak ada keselarasan anatara dimensi spiritual, emosional, dan intelektual.

Paham ini, kata dia, bisa masuk melalui tujuh pintu utama. Tujuh pintu itu adalah kepastian uang, mencari tantangan, eksistensi diri, relasi dan cinta, perkembangan, kontribusi, dan arti kehidupan.

“Ada lima jurus penangkal radikalisme,” terangnya.

Kelima jurus itu adalah mewaspadai tujuh pintu masuk radikalisme, memahami ilmu doktrinasi, dan menyeimbangkan dimensi intelektual, emosional, serta spriritual. Selain itu juga penanaman nilai-nilai Pancasila dan membangun afirmasi cinta Indonesia. (ika/humas-ugm/bpn)

loading...