Baliportalnews.com
Baliportalnews.com

BALIPORTALNEWS.COM, TABANAN – Diskusi menarik dilakukan Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti bersama Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. Dr. K.H. Said Aqiel Sirodj, Selasa (28/7/2020). Diskusi secara virtual tersebut, bertema ‘Membangun Spirit Toleransi dalam Kebinekaan Menuju Tabanan Aman dan Produktif’.

Diskusi ini juga melibatkan narasumber lainnya. Di antaranya Penasihat Lembaga Seni Kolaborasi Budaya Indonesia, Gus Syauqi Ma’ruf Amin. Sebagai moderator adalah Sekum Lembaga Seni Budaya PBNU, H. Uki Marzuki Sholihin.

Acara tersebut juga diikuti Wabup I Komang Gede Sanjaya, Ketua DPRD Tabanan I Made Dirga, forkompinda, FKUB, serta perwakilan umat muslim Tabanan dan undangan lainnya. Materi yang dibahas menitikberatkan tentang toleransi dalam membangun bangsa dan negara.

Bupati Eka mengatakan, keberagamaan adalah kekuatan terbesar dalam memersatukan bangsa dan negara. Begitu pun dalam memajukan Tabanan. “Keberagaman ini merupakan modal besar bagi kami di Tabanan, untuk bisa mengisi pembangunan dengan cita-cita yang luhur, yaitu menyejahterakan masyarakat di Tabanan,” ungkapnya.

Baca Juga :  SMPN 1 Kerambitan Dinilai Tim Provinsi Dalam Lomba UKS

Diskusi virtual ini diharapkan bisa jadi tolak ukur kebinekaan di Tabanan. “Saya berharap hal ini juga bisa mengeratkan tali kasih, tali persaudaraan, demi Tabanan yang kita banggakan dan kita cintai,” harapnya.

Sementara Said Aqiel Sirodj mengatakan, setiap orang yang dilahirkan ke Bumi mempunyai satu amanat melekat, sebelum amanat ilmu pengetahuan, harkat, martabat, dan agama, yaitu amanat insaniah atau humanity.

“Jadi, kita ini jadi apapun, sebagai apapun, di manapun, kita harus memperjuangkan dan mengupayakan terwujudnya tatanan kehidupan yang harmonis,” ungkapnya.

Kalau ada manusia yang sedang konflik, bersitegang, atau tidak saling menyapa, kata Said, seutuhnya mereka ingin berbaikan kembali. Menurutnya, masing-masing masih mempertahankan gengsi dan kekesalan.

“Itu artinya, yang menghalangi keharmonisan adalah hawa nafsu angkara murka, hasrat lobha, rakus, dan tamak yang berlebihan. Hal itulah yang merusak keharmonisan sesama manusia,” ujarnya.

Dia mengajak seluruh umat untuk selalu merenungkan dan mensyukuri, bahwa setiap manusia membawa amanat dari Tuhan, yang menciptakan kita untuk memperjuangkan dan mengupayakan tatanan kehidupan yang harmonis. “Kalau kita betul-betul insan, ya harus mendambakan cita-cita kita membangun kehidupan yang harmonis,” tukasnya.

Sementara narasumber kedua, Gus Syauqi Ma’ruf Amin, menyebut kebinekaan merupakan sesuatu yang sangat penting untuk bisa saling menghargai, saling menjaga, untuk membangun bangsa dan negara.

Baca Juga :  Tabanan Raih Government Award 2018

“Prinsipnya, kebudayaan dan agama itu adalah untuk membangun tatanan kehidupan masyarakat yang baik. Semestinya ini jadi semangat kita bersama, bahwa budaya dan agama itu adalah modal untuk membangun kebersamaan dalam perbedaan,” ujarnya.

Dia menambahkan, antara agama dan budaya harus bisa diimprovisasi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Pancasila telah terkandung nilai-nilai kebersamaan, di dalam perbedaan mulai dari sila pertama sampai dengan kelima.

“Pancasila ini jadi amanat dasar kita sebagai bangsa Indonesia, untuk saling toleransi dan menjaga nilai-nilai Pancasila, untuk menciptakan kondisi dan situasi yang aman, kondusif, bergotong royong untuk membangun bangsa ini lebih maju,” imbuhnya. (ita/bpn)