BALIPORTALNEWS.COM, KALIURANG – Kawasan wisata di lereng Gunung Merapi, Kaliurang, Sleman, Yogyakarta akan tetap “hidup” di malam hari. Menyambut libur kenaikan kelas dan libur Lebaran 2017, Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman bersama PT Cikal Bintang Bangsa (pengelola Taman Pelangi Monumen Jogja Kembali) kembali akan menggelar Festival of Lights di Gardu Pandang Kaliurang.

dilansir dari laman facebook Kementerian Pariwisata, gelaran Festival of Lights berlangsung selama 45 hari, sejak 16 Juni 2017 sampai dengan 31 Juli 2017 mendatang. FOL kali ini mengambil tema “Gemerlap Ramadhan.”

“Tema ini dipilih untuk menggambarkan kegembiraan dalam melaksanakan puasa Ramadhan dan menyambut libur lebaran. Beragam desain lampion penuh warna-warni akan memenuhi kawasan Gardu Pandang,” jelas Kepala Dinas Pariwisata Sleman Dra Sudarningsih, MM didampingi Kabid Pengembangan Destinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dra Shavitri Nurmala Dewi, MA, beberapa waktu lalu.

Konten FOL kali ini berbeda dengan penyelenggaraan sebelumnya. Selain menampilkan berbagai macam lampion seperti lampion bunga seperti mawar dan tulip, dunia ikan, tanaman gandum, dengan tema Timur Tengah, gelaran Festival of Lights kali ini juga menampilkan kuliner berbagai jajanan tradisional dan modern yang dijual dalam kisaran Rp 15.000,-, serta Dancing Fountain yang hadir pertama kali di Yogyakarta.

Baca Juga :  Badung Buka Lowongan Direksi PDAM Tirta Mangutama

Atraksi Dancing Fountain ini meliputi atraksi air menari yang gerak pancarnya disesuaikan dengan lagu, dengan semburan api, laser serta water screen.

Direktur Eksekutif Festival of Light, Solikin Swiji menyampaikan bahwa cukup dengan membayar tiket sebesar Rp 25.000,- pada hari biasa atau Rp 30.000,- pada hari libur nasional dan weekend, pengunjung dapat menikmati atraksi yang sama seperti di Singapura.

“Pengunjung tidak perlu jauh-jauh ke Singapura untuk​ menikmati pertunjukan “air menari” ini. Silakan datang ke Gardu Pandang Boyong di Kaliurang,” tambah Sudarningsih.

Dengan penambahan atraksi DF ini diharapkan tingkat kunjungan ke Gardu Pandang akan meningkat tajam. Pengalaman dalam FOL yang digelar sebelumnya, pengunjung berjubel untuk menikmati pertunjukan alternatif dan tematik ini.

Baca Juga :  Kakorlantas Polri: Command Center Polda Bali Patut Dicontoh Polda Lain

Data menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan ke Kaliurang selama bulan Juli selama Festival of Lights berlangsung sejak tahun 2015 menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan. Berturut-turut jumlah kunjungan wisatawan ke Kaliurang selama bulan Juli untuk periode 2014 adalah 55.367, tahun 2015 85.730 dan Juli 2016 sebanyak 96.368 kunjungan.

Pada liburan akhir tahun lalu, FOL di Kaliurang mengambil tema “Dragon Castle.” Festival ini menampilkan gemerlap figur naga dan kehidupan ala negeri dongeng disorot dengan lampu warna warni nan indah. Di sisi selatan festival, lampu lampu mini dirangkai membentuk figur figur unik bertajuk Romantic Light dan Sakura Light menjadi daya tarik tersendiri bagi pagelaran ini.

Tampilan lampion tematik dan hamparan lampu “berkesan bunga warna-warni” di kegelapan malam,  membuat wisatawan berdecak kagum dan berselfie ria. Mereka menjadikan wahana itu sebagai background berswafoto.

Hadirnya Dancing Fountain bisa menjadi magnet bagi wisatawan. Apalagi ini menjadi satu hal yang baru di kota ini. So, bagi Anda yang lebaran nanti berkunjung ke Jogja, jangan lewatkan agenda ke Kaliurang untuk menikmati Festival of Light ini.

Baca Juga :  Ribuan Alat Deteksi Covid-19 Embusan Napas UGM Siap Didistribusikan Awal Tahun 2021

Menpar Arief Yahya mengapresiasi kreativitas yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman bersama PT Cikal Bintang Bangsa (pengelola Taman Pelangi Monumen Jogja Kembali). “Timingnya tepat, di saat Liburan Lebaran yang akan sangat ramai di Jogjakarta dan sekitarnya. Ada puluhan juta orang mudik di saat liburan Lebaran nanti, yang setiap tahun akan selalu sama polanya,” ungkap Menpar Arief Yahya.

Timeline itu sangat penting dalam bisnis Pariwisata. Mirip dengan telekomunikasi dan transportasi, yang mengenal ada peak season dan low season. Lebaran, itu semua bisnis itu, Tourism, Transportation, Telecomunication berada dalam peak season. “Karena itu, timeline untuk membuat festival itu sangat tepat,” papar Arief Yahya.(*/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :