BALIPORTALNEWS.COM – Kenaikan harga cabai terus mengalami kenaikkan di Kabupaten Badung dikarenakan musim hujan yang berkepanjangan, menyikapi hal tersebut Sekda Badung Kompyang R. Swandika bersama Dinas terkait melaksanakan Rapat Evaluasi Kenaikkan Harga Cabai, Kamis (19/1/2017) di Ruang Pertemuan Sekkab Badung Puspem Badung.

Hadiri pada kesempatan tersebut Asisten Pembangunan dan Perekonomian I Dewa Apramana, Kadis. Pertanian dan Tanaman Pangan I. G. K Sudaratmaja, Kabag Ekonomi Anak Agung Sagung Rosyawati, Kabag. Humas I Nyoman Sujendra, Dinas Koperasi Perdagangan dan UKM serta Dinas terkait di lingkungan Pemerintah Kabupaten Badung.

Sekda. Badung Kompyang R. Swandika mengatakan, Pemerintah Kabupaten Badung bersama Diskopdag UKM, Perum Bulog dan Dinas terkait di Kabupaten Badung akan terus memantau perkembangan harga cabai sampai benar-benar harga cabai stabil. Dengan kelangkaan Cabai dan gagal panennya para petani tentu membawa dampak yang kurang baik bagi konsumen.

Dengan langkah-langkah Diskopdag UKM dan Dinas terkait lainnya dipemerintah Kabupaten Badung tentu harga Cabai yang melambung dapat ditekan dan stabil.”kami bersama instansi terkait akan melakukan langkah-langkah strategis guna memulihkan kembali harga cabai saat ini,” ujar Sekkab Kompyang R. Swandika.

Baca Juga :  Pandemi Merebak, Kunjungan ke Museum Bali Nyaris Nihil

Sementara itu Perwakilan dari Dinas Koperasi Perdagangan dan UKM Made Wirya Santosa Kasi Promosi dan Perdagangan  melaporkan, hasil dari pemantauan tim operasi stabilitas harga cabai di pasar tradisional maupun modern di Kabupaten Badung di wilayah Kuta, Kuta Utara, Abansemal, Mengwi serta Petang, kenaikan harga cabai rawit merah saat ini terjadi dikarenakan stok yang tersedia di pasaran mulai berkurang.

Hal tersebut dikarenakan, musim hujan yang berkepanjangan, sehingga para petani merugi karena hasil panen cabai yang berada di kawasan sentra cabai mengalami kerusakan dan gagal panen. Saat ini, harga cabai rawit merah di wilayah Kuta mencapai Rp. 105.000 per kg, sedangkan untuk wilayah Abiansemal berada pada harga Rp. 90.500 per kg. Padahal wilayah tersebut tidak hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan cabai di pasar-pasar yang ada di wilayah Badung Tengah, tetapi sudah menjadi sentra cabai di Kabupaten Badung.

 Langkah yang diambil oleh Diskopdag UKM dan Perum Bulog dengan Operasi Stabilisasi Harga (OSH) untuk menurunkan harga cabai yang dimulai secara serentak di Kabupaten Badung akan terus dilanjutkan sampai harga benar-benar stabil.

Baca Juga :  Menkumham Kukuhkan Revolusi Digital Layanan Publik

Kadis Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Badung I G. K. Sudaratmaja menyampaikan kepada para petani juga ikut berperan aktif membantu menurunkan harga cabai. “Kalau harga cabe ditingkat petani sudah mahal di pasar juga ikut mahal, tetapi sebaliknya jika harga ditingkat produsen murah sampai ditingkat konsumen juga akan murah.

Meski pemerintah sudah menggelar operasi pasar namun harga cabai di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Badung belum juga turun. Pada pekan kedua Januari ini, harga jenis cabai rawit merah masih di level tinggi.  seharga Rp105.000/kg. Cabai yang biasa dipergunakan unit usaha mikro kuliner ini masih berada di kisaran harga paling tinggi” ujar Sudaratmaja.

Lebih lanjut dikatakan jangka panjangnya untuk mengatasi kenaikan harga cabe rawit Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Pertanian akan memberikan subsidi dan bantuan bibit cabai kepada para petani dan berharap kepada masyarakat di Kabupaten Badung ikut serta dalam menggalakan program gerakan karangkitri dan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL).

Yaitu program atau gerakan menanam cabe rawit, toga dan sayuran masing-masing di halaman dan belakang rumah tempat tinggalnya. Usaha tersebut akan efektif dan sangat berguna jika harga sayur-mayur seperti cabe rawit merah  melambung naik seperti sekarang. (humasbdg/bpn)