Tumpek Landep
Ketut Putra Ismaya Jaya. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Rahinan Tumpek Landep atau Hari Raya Tumpek Landep, yang dirayakan setiap Saniscara Kliwon, Wuku Landep, tepat pada Sabtu (5/11/2022), merupakan perayaan besar bagi umat Hindu di Bali untuk mengadakan upacara (ritual) yadnya terhadap benda-benda yang bersifat tajam atau terbuat dari logam, seperti keris, pisau, pedang, serta benda pusaka lainnya.

Menurut Lontar Sundarigama, pelaksanaan upacara dilakukan untuk memohon keselamatan pada benda-benda tersebut yang ditujukan kepada Bhatara Siwa dan Sang Hyang Pasupati agar semua benda-benda tersebut tetap bertuah. Namun, seiring perkembangan jaman, di Bali benda-benda seperti kendaraan bermotor pun saat ini turut ikut diupacarai, sebagai ungkapan rasa bersyukur terhadap Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa).

Baca Juga :  Seorang ABG Tewas Ditabrak Truk

Salah satu tokoh masyarakat Bali, yang juga Ketua Umum Yayasan Kesatria Keris Bali (YKKB), Ketut Putra Ismaya Jaya atau yang akrab disapa Jero Bima mengungkapkan, sejatinya Rahinan Tumpek Landep merupakan momentum untuk pembersihan dan pensucian benda-benda pusaka yang bersifat tajam. Menurutnya, saat ini banyak masyarakat Bali yang memaknai Rahinan Tumpek Landep itu berbeda, sehingga sampai kendaraan pun ikut diupacarai.

“Banyak semeton beranggapan bahwa Tumpek Landep adalah otonan besi, padahal tidak seperti itu maknanya. Kalau mobil dan motor di upacarai pada dinan Kuningan,” jelasnya pada Sabtu (5/10/2022).

Baca Juga :  Supercamp 2017, Wujud Hadirnya Unpad di Muara Gembong

Dirinya menegaskan, bahwa Rahinan Tumpek Landep bukan perayaan upacara untuk memuja besi, sehingga dirinya menilai banyak masyarakat yang keliru selama ini. Jika dimaknai secara mendalam, Tumpek Landep berasal dari kata Landep yang berarti tajam, merujuk pada benda-benda tajam yang biasa digunakan masyarakat Hindu Bali pada jaman dahulu untuk berburu, bertani, berkebun. Dengan demikian Rahinan Tumpek Landep lebih tepat jika dimaknai sebagai pemujaan kepada Sang Hyang Pasupati untuk mendapatkan anugerah berupa tuah (kekuatan/sakti), atau momentum bagi masyarakat Hindu Bali untuk mengasah pikirannya lebih tajam menuju ajaran Dharma.(aar/bpn)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini