Hepatitis
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Bali, dr. IGN Sanjaya Putra, Sp.A (K). Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Penyakit Hepatitis Akut yang belum diketahui penyebabnya yang saat ini menghebohkan negara-negara di benua Amerika dan Eropa serta diperkirakan sudah ada di Indonesia menjadi perhatian semua pihak, termasuk Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Bali.

Ketua IDAI Cabang Bali, IGN Sanjaya Putra Sp.A (K), menyebutkan meskipun kasus ini belum ditemukan di Bali, namun upaya antisipasi harus tetap dilakukan.

“Antisipasi harus tetap dilakukan, karena penyakit ini disebabkan oleh virus jadi bisa jadi menular dengan cepat, karena itu penerapan prokes, khususnya mencuci tangan lima langkah harus dilakukan setiap saat,” ungkapnya.

Mengenai penyebab dari penyakit ini, dr. Sanjaya menyebutkan belum bisa dipastikan. Namun menurutnya, ada dugaan penyakit ini disebabkan oleh Adenovirus, SARS CoV-2, virus ABV dll. Virus tersebut utamanya menyerang saluran cerna dan saluran pernafasan. Karena menyerang saluran cerna, maka maka fases dan air liur menjadi salah satu perantara penularan virus. Untuk itu, selain mencuci tangan upaya pencegahan yang bisa dilakukan adalah memastikan makanan atau minuman yang dikonsumsi itu matang, tidak menggunakan alat-alat makan bersama dengan orang lain serta menghindari kontak anak-anak dari orang yang sakit agar anak-anak tetap sehat.

Baca Juga :  Dinkes Karangasem Catat 52 Kasus DBD Sepanjang Bulan April, Waspadai Lonjakan di Musim Hujan

Secara umum gejala awal penyakit Hepatitis Akut adalah mual, muntah, sakit perut, diare, kadang disertai demam ringan. Selanjutnya, gejala akan semakin berat seperti air kencing berwarna pekat seperti teh dan BAB berwarna putih pucat.

“Jika anak mengalami gejala-gejala tersebut, orang tua diminta segera memeriksakan anak ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan diagnosis awal,” lanjutnya.

Dirinya mengahrapkan orang tua tidak menunggu hingga muncul gejala kuning bahkan sampai penurunan kesadaran. Karena kondisi tersebut menunjukkan bahwa infeksi Hepatitis sudah sangat berat dan tingkat kerusakan pada organ hati anak sudah sangat parah, bahkan bisa jadi organ hati sudh tidak berfungsi lagi. Karena jika sudah berat, maka penanganan medis untuk menolong pasien sangat kecil.

“Jika anak sudah dalam kondisi parah, maka kondisi terburuknya adalah anak harus menjalani transplatasi organ hati dan itu hanya bisa dilakukan di Jakarta, belum bisa dilakukan di Bali,” tambahnya. (bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News