BALIPORTALNEWS.COM – Maraknya pemberitaan terkait dengan kenakalan remaja akhir-akhir ini menimbulkan pertanyaan besar yang jawabannya perlu kecermatan dalam kasus demi kasus. Secara garis besar atau umum akan berdalih bahwa pendidikan merupakan arena membentuk kecerdasan dan kepribadian termasuk perilaku anak didik memiliki tanggung jawab utama. Kiranya pandangan tersebut tidaklah salah, namun harus diingat bahwa hamper 2/3 waktu mereka setiap hari berada diluar sekolah, bisa di rumah ataupun diluar rumah. Jika demikian adanya maka bibit nakal dapat saja terbentuk ketika waktunya berada di luar rumah, di rumah, ataupun di sekolah. Dengan catatan bahwa tidak ada satu manusiapun yang lahir di dunia untuk menjadi penjahat! Semuanya berharap menjadi manusia sempurna dengan seutuh-utuhnya “suputra”

Tekanan sekolah dari guru dan kawan-kawannya dapat saja merubah sikap dan mental mereka. Apakah menjadi pendiam, reaksioner, ataupun lainnya. Demikian pula kerasnya kehidupan dan penghidupan di rumah dapat saja mereka memperoleh tekanan dari orang tua maupun keluarganya. Bahkan mungkin saja diantara mereka ada yang tenaga dan pikirannya dibutuhkan oleh orang tuanya untuk menopang ekonomi keluarga. Kondisi tersebut dapat saja membentuk anak didik menjadi mandiri dan terkadang tidak mau mendengarkan nasehat atau pendapat orang lain.

Dua lokasi tersebut diatas masing-masing memiliki fasilitator, motivator, maupun inspirator yaitu yang di sekolah disebut guru “Guru Waktra” sedangkan guru yang di rumah disebut dengan Guru Rupaka “orang tua”. Diluar dua lokasi keberadaan siswa tersebut diatas, siswa juga berada di lingkungan mereka yang mengajarkan berbagai hal yang sulit di monitor. Bukankah  mereka sebagai makhluk sosial dalam bersosialisasinya bisa tanpa batas usia, tanpa mengenal profesi, maupun jenis kelaminnya.

Labilnya usia remaja menjadikannya  mereka mencari tokoh atau figur di luar rumah ataupun sekolah. Tumbuhnya geng motor dan lainnya adalah salah satu contoh yang sedang berlangsung kini. Keberanian para remaja berbuat melawan hukum atau merugikan orang lain tampaknya dapat dinyatakan bahwa mereka sudah pasti melupakan dua unsur Catur Guru lainnya yaitu Guru Swadyaya “sang pencipta” dan Guru Wisesa“pemerintah”. Guru  Swadyaya meletakkan tata nilai atas keyakinan dengan landasan hukum atau norma agama, sedangkan satunya lagi yaitu Guru Wisesa menuntun kita untuk melaksanakan  ketentuan yang ditetapkan oleh Negara. Melawan terhadap keyakinan maupun Negara masing-masing ada konsekuensinya.

Perubahan jaman yang demikian cepat melalui bantuan Informasi dan Teknologi (IT) menyebabkan manusia bebas berselancar  mendapatkan berbagai informasi melalui komputer yang statis maupun bergerak sampai dengan hand phone dengan tidak mengenal jarak dan waktu. Bahkan tidak jarang anak-anak usia sekolah mencari tahu tentang berbagai informasi yang tidak layak sesuai usianya.  Alat-alat tersebut bervariasi dari segi harga, dimensi,  dan kualitasnya, kita tinggal memilihnya sesuai dengan kemampuan. Bagi yang tidak mampu mereka cukup dengan mengunjungi warnet yang tanpa pengawas.

Dunia maya ini memang mengasyikkan bahkan cenderung menyeret penggunanya menjadi individu yang egois, ketergantungan dan kecanduan serta waktunya banyak tersita untuk itu. Hampir disetiap ruang publik dijumpai orang dari berbagai usia memainkan gadgetnya. Maraknya dunia maya ini dipandang sebagai salah satu pemicu meningkatnya kenakalan remaja. Harus diakui bahwa teknologi maupun informasi bersama-sama atau sendiri-sendiri mempengaruhi dan mengubah sikap dan perilaku, padahal semua maklum bahwa ke dua hal tersebut memiliki manfaat yang sangat berguna. OLeh karenanya yang mampu membatasinya adalah diri sendiri, jangan biarkan anak-anak yang sedang tumbuh berguru secara otodidak menggunakan gadget. Dampingi dan berikan peralatan yang memadai sambil memberikan nasehat tentang yang boleh, tidak boleh, dan boleh dengan catatan. Memang sulit, tapi wajib dilakukan demi masa depan mereka yang penuh dengan tantangan dan perubahan.

Manusia pada era globalisasi ini cenderung didorong menjadi konsumtif karena belitan industri dan kaum kapitalis menyebabkan uang semakin dibutuhkan dalam kehidupan dan penghidupan. Setiap insan suka tidak suka, senang tidak senang dituntut untuk punya uang dengan berbagai cara untuk mempertahankan dan melangsungkan hidupnya. Hidup menjadi keras, mandiri, terukur yang selanjutnya akan mempengaruhi perilakunya. Ada yang sanggup menyesuaikan dirinya ada yang antara sanggup dan tidak, dan yang paling tidak beruntung adalah bagi yang tidak sanggup. Ketiga-tiganya memiliki resiko yang sama dalam hal terimbas berbagai pengaruh. Ketidak mampuan memperoleh kebutuhan mereka menimbulkan berbagai cara untuk memilikinya. Akibat kebutuhan bertalian dengan konsumerisme dengan pragmatisme dan prestise menjadikan orang melakukan hal-hal yang tidak rasional dan berlawanan dengan norma.

Oleh karenanya virus kenakalan pada remaja dapat saja terjadi oleh karena alasan-alasan yang sepele dan tidak masuk akal dan banyak diantaranya jiga disebabkan karena peniruan yang diperoleh dari melihat, mendengar dan mungkin juga melihat kejadian disekitarnya ataupun juga melalui film-film yang memuat kekerasan atau penyimpangan perilaku yang dapat dinikmati melalui TV, film, atau video yang dapat ditonton secara individual ataupun nobar (nonton bareng) di rumah atau diluar rumah. Usia remaja yang labil ditengarai sangat menyukai peniruan dan sayangnya peniruan tersebut tidak berlangsung melalui bimbingan yang benar.

Dari berbagai deskripsi diatas, kenakalan remaja yang semakin serius di Bali perlu penanganan yang lebih serius dan holistik dan manusiawi. Catur Guru merupakan salah satu benteng yang perlu disosialisasikan di setiap insan pendidikan. Dampingi anak-anak disaat menikamati hiburan melalui siaran TV atau ketika mereka di dalam kamar sedang menggunakan computer ataupun dengan gadget. Sudah saatnya berkomonikasi dengan anak-anak kini disekati dengan memposisikan diri sebagai kawannya dan bukan dengan otoriter layaknya orang tua atau guru dengan anak atau muridnya.  Pemerintrah seharusnya tidak melakukan pembiaran dan menganggap masalah ini remeh karena muara dari segala kejahatan tersebut ujung-ujungnya dapat berlabuh di penggunaan narkoba dan miras. Pemerintah diharapkan hadir dan melakukan berbagai upaya kearah perbaikan moral dan akhlak serta memberikan contoh (bukan dikotori dengan korupsi dan lainnya).

Sudah saatnya mengembalikan dan meningkatkan peran konseling di setiap sekolah untuk memonitor gejala-gejala awal penyimpangan dari anak didik. Guru-guru konseling seharusnya berani dan jujur mengungkapakan persoalan yang dihadapi para siswa yang bermasalah. Dengan cara yang sama diharapkan pula orang tua siswa bekerjasama dengan guru konseling untuk mengawasi dan membinmbing putera-puterinya dan bukan dengan memusuhinya. Di dunia nyata yang semakin banyak menawarkan beragam produk yang instan dalam berbagai hal seharusnya dihadapi dengan mampu memilih dan membentengi dirinya dengan keteguhan dan prinsip yang baik dan benar. Benar menurut agama “Guru Swadyaya”  dan pemerintah “Guru Wisesa”  serta percaya dan menerapkan apa yang diberikan oleh guru sekolah “Guru Waktra” dan kedua orang tua “Guru Rupaka”. Dan…. Jangan pernah lupa bahwa dalam ranah kehidupan ini masih ada Tat Twam Asi dan Karma Phala.

Oleh : Putu Rumawan Salain, Pengamat Pendidikan