Denpasar Psychiatric Symposium 1
Denpasar Psychiatric Symposium 1, Bahasa Tantangan Kesehatan Mental di Destinasi Wisata. Sumber Foto : tis/bpn

BALIPORTALNEWS.COM, KUTA – Menanggapi keprihatinan yang semakin meningkat terhadap kesehatan mental, khususnya dalam konteks pariwisata, Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Cabang Denpasar menyelenggarakan Denpasar Psychiatric Symposium 1. Diselenggarakan pada 10-11 Mei 2024 di Bali Sunset Road Convention Center, simposium ini mempertemukan para ahli dan pemangku kepentingan untuk membahas isu-isu krusial terkait pariwisata kesehatan mental, pencegahan bunuh diri, dan kecanduan.

Mengusung tema ‘Participating in Learning Tourism. Suicide and Addiction’, Denpasar Psychiatric Symposium 1 dibuka langsung oleh Sekretaris Daerah Kota Denpasar, Ida Bagus Alit Wiradana.

Ada hal yang menarik saat pembukaan Denpasar Psychiatric Symposium 1 tersebut, dimana pasien orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dari Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali ikut berpartisipasi membawakan tarian Hanoman dan Dewi Sita yang diiringi tari kecak.

Ketua Panitia Denpasar Psychiatric Symposium 1, Dr. Luh Nyoman Alit Aryani, dr., Sp.K.J., Subsp. Ad.(K)., menjelaskan, latar belakang mengadakan seminar psikiatri di bidang suicide dan adiksi didasarkan pada kebutuhan meningkatnya kesadaran dan pemahaman terhadap masalah kesehatan mental yang berkaitan dengan suicide dan adiksi tersebut.

“Kasus kejadian bunuh diri atau suicide dalam 10 tahun terakhir semakin meningkat dan tidak jarang kasus suicide ini sering berkorelasi dengan adiksi atau penyalahgunaan zat narkotika, psikotropika, dan adiktif lainnya,” kata Dr. Alit Aryani.

Melibatkan para ahli di bidang psikiatri, psikologi, dan rehabilitasi, seminar ini bertujuan untuk menyediakan wawasan mendalam, strategi pencegahan dan intervensi terkini dalam penanganan kasus suicide dan adiksi. Dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman praktis diharapkan peserta seminar dapat meningkatkan keterampilan dalam menangani kasus suicide dan adiksi.

Baca Juga :  Tiga Bulan Pertama 2024, Bandara I Gusti Ngurah Rai Layani 5,1 Juta Penumpang

“Seminar ini juga menjadi sarana untuk mengurangi stigma seputaran isu-isu kesehatan mental, membuka dialog terbuka, dan mendorong kolaborasi antara berbagai pihak termasuk lembaga kesehatan, pemrintah, dan masyarakat umum. Dengan cara ini diharapkan dapat tercipta lingkungan yang lebih inklusif dan mendukung bag individu yang mengalami masalah psikiatri, khususnya di bidang pariwisata, suicide, dan adiksi,” tambah Dr. Alit Aryani.

Ketua PDSKJI Denpasar, I Gusti Rai Putra Wiguna, dr., SpKJ., mengatakan, pariwisata memberikan dampak, baik positif maupun negatif. Di satu sisi, pariwisata telah memberikan banyak manfaat bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Bali. Namun, di sisi lain, terdapat permasalahan yang harus kita hadapi bersama, terutama dalam bidang kesehatan mental.

Baca Juga :  Bluebird Bali Lakukan Terobosan, dari Ekosistem Transportasi Rendah Emisi Hingga Mobilitas Inklusif

“Tahun lalu 2023 menjadi tahun dengan kasus bunuh diri terbanyak selama dekade terakhir dengan 148 kasus dan sebagian adalah WNA yang tinggal dan berlibur di Bali. Sebagian besar lainnya adalah warga Bali sendiri. Selain itu, masalah kecanduan, baik narkoba maupun alkohol, juga menjadi permasalahan yang semakin mengkhawatirkan di kalangan pekerja pariwisata dan masyarakat sekitar,” ungkap dr. Rai.

Ketua PDSKJI Denpasar berharap symposium dan workshop psikiatri ini dapat menjadi momentum penting bagi kita untuk bersama-sama merumuskan langkah strategis dalam mengatasi permasalahan terkait pariwisata, bunuh diri, dan kecanduan di Bali.

Dalam kesempatan itu, dr. Rai menyampaikan beberapa hal penting, yaitu pertama, kerja sama lintas sektor sangat diperlukan dalam upaya mengatasi permasalahan ini. Pemerintah, industri pariwisata, asosiasi profesi, dan masyarakat harus bersinergi untuk membangun ekosistem yang mendukung kesehatan mental di lingkungan pariwisata.

Kedua, peningkatan kapasitas dan kemampuan tenaga profesional kesehatan mental juga menjadi kunci penting. Melalui acara Symposium dan Workshop Psikiatri ini, pihaknya berharap dapat memperkaya wawasan dan kemampuan praktis para psikiater, psikolog, dan tenaga kesehatan mental lainnya dalam menangani isu-isu terkait pariwisata, bunuh diri, dan kecanduan.

Baca Juga :  Sidak RSUD Karangasem, Komisi IV DPRD Apresiasi dan Saran Perbaikan Layanan Pasien

Ketiga, edukasi dan kampanye publik juga perlu digalakkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan mental. Stigma dan kesalahpahaman terkait masalah kesehatan mental harus dihilangkan agar masyarakat dapat terbuka untuk mencari dan menerima bantuan profesional.

Denpasar Psychiatric Symposium 1
Tarian pembukaan dari pasien orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dari Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali. Sumber Foto : tis/bpn

“Melalui diskusi, berbagi pengalaman, dan kolaborasi, kita akan mampu mengembangkan solusi yang komprehensif dan terukur,” tambah dr. Rai.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar, dr. Anak Agung Ayu Agung Candrawati menjelaskan, saat ini Pemerintah Kota Denpasar sudah membentuk Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM). TPKJM beranggotakan personel Satpol PP, dinas kesehatan, dinas sosial dan badan penanggulangan bencana daerah (BPBD).

“Selain itu, Pemerintah Kota Denpasar telah mendirikan Rumah Berdaya sebagai wadah bagi ODGJ. Keberdaan Rumah Berdaya diharapkan dapat mempercepat pemulihan bagi orang dengan gangguan jiwa,” tutur dr. Candra.

Seminar ini menjadi sarana untuk mengurangi stigma seputaran isu-isu kesehatan mental, membuka dialog terbuka, dan mendorong kolaborasi antara berbagai pihak termasuk lembaga kesehatan, pemrintah, dan masyarakat umum. (tis/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News