Anak Agung Sri Anggreni, Penyuluh Non PNS Kec. Mengwi Kab. Badung.

BALIPORTALNEWS.COM, BADUNGAkhir-akhir ini banyak fenomena yang mengejutkan oleh ulah perilaku sekelompok remaja yang melakukan tindakan kekerasan, perampokan, pembunuhan dan yang lainnya, dimana para pelaku yang terlibat masih berstatus pelajar. Hampir setiap hari media massa menyiarkan berbagai adegan kekerasan seperti misalnya kekerasan yang dilakukan di rumah tangga, dijalanan, di sekolah dan semua fakta tersebut sangat berpengaruh pada mental psikologis mereka karena kekerasan menjadi bagian dari kehidupan.

Susila merupakan kerangka dasar Agama Hindu yang kedua. Susila berasal dari akar kata su dan sila. Su artinya baik, dan sila artinya tingkah laku. Jadi susila artinya tingkah laku yang baik. Susila disebut juga dengan etika.

Baca Juga :  Kuatkan Diri di Hari Raya Pagerwesi

Agama Hindu memiliki ajaran bersusila yang dapat digunakan dalam rangka pembentukan sikap susila melalui ajaran Catur Prawretti yaitu empat perilaku atau perbuatan yang patut dilaksanakan oleh umat manusia dalam kehidupannya sehari-hari.

Catur Prawretti merupakan empat pedoman hidup yang patut diikuti dan dilaksanakan oleh segenap umat Hindu. Keempat pedoman hidup itu adalah :

  • Arjawa artinya bersikap jujur dan menjaga kebenaran.
  • Anrsangsa artinya tidak mementingkan diri sendiri.
  • Dama artinya senang mengendalikan diri.
  • Indranigraha artinya dapat mengendalikan nafsu seksual dan nafsu jahat lainya.

Dalam hal ini para generasi muda sangat rentan mengikuti perubahan zaman dan cenderung mengikuti arus globalisasi yang terjadi. Generasi muda dalam hal ini cenderung melakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri dan orang lain dan perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang menyimpang dari  norma agama dan sosial.

Baca Juga :  Kado Sembako J&T Express untuk 'Pemangku' di Hari Pers Nasional

Untuk itu peranan orang tua sangat besar dalam memberi contoh dan membimbing para remaja agar bisa melaksanakan apa yang diajarkan dalam Catur Prawretti.