BALIPORTALNEWS.COM, BADUNG – Focus Group Discussion (FGD) untuk Penyelesaian Tugas Akhir (Disertasi) dalam Memperoleh Gelar Doktor oleh Peneliti Agus Made Yoga Iswara, BBA., BBM., MM., CHA pada Program Studi Doktor Pariwisata, Program Pascasarjana Universitas Udayana.

Menurut Yoga Iswara BBA., BBM., MM., CHA, FGD Online yang kami lakukan tidak semata-mata untuk penyelesaian tugas akhir (disertasi) Program S3 Pariwisata Universitas Udayana, namun juga mencari solusi pola-pola keberlanjutan yang bisa diterapkan di Bali dan sekaligus menjadikan momentun untuk menata Pariwisata Bali yang berbudaya, berkualitas dan berkelanjutan menuju Bali Era Baru, Nangun Sat Kerthi Loka Bali.

Sebagai peneliti Yoga Iswara menyatakan bahwa latar belakang penelitian ini adalah adanya kesenjangan pencapaian di Bali antara aspek ekonomi dengan 2 aspek lainnya dari konsep keberlanjutan atau yang dikenal dengan konsep triple bottom line, yaitu aspek lingkungan (planet) dan aspek sosial budaya (People).

FGD yang berjudul “Model Inovasi Pemasaran Pariwisata Berkelanjutan di Bali” diharapkan dapat menghasilkan kajian yang dapat diimplementasikan terutama pada sisi pemasaran yang dalam setiap bisnis menjadi ujung tombak perusahaan dalam memasarkan dan mengembangkan bisnis.

“Maksud dari Keberlanjutan (sustainability) dalam penelitian ini adalah bagaimana “memenuhi kebutuhan pada masa kini tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi pada masa mendatang” (to meet the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs),” ujar Yoga Iswara.

Baca Juga :  Tingkat Kesembuhan Covid-19 di Buleleng Capai 91,9 Persen

Ditambahakannya pengembangan pariwisata Bali seyogyanya agar bisa mengikuti konsep “Cenik Lantang Lais Tileh” dengan mengharmoniskan antara aspek ekonomi, lingkungan dan sosial budaya.

Sementara sebagai Dewan Penasehat Bali Sales & Marketing Community (BASCOMM) Fransiska Handoko, CHA., CHIA., CHRM sepakat bahwa model pemasaran yang digunakan saat ini di Bali, salah satu contohnya adalah Marketing Mix 7P masih berorientasi hanya pada sisi ekonomi, artinya upaya-upaya yang dilakukan masih sebatas pemenuhan target atau volume yang secara sederhana bisa diartikan terfokus pada keuntungan (profit). Hal ini akan sangat merugikan Bali secara jangka panjang.

Ketua BASCOMM, Putu Arisudhiana menambahkan bahwa model pemasaran yang ada saat ini tentunya akan memberikan benefit dari sisi profit namun juga sekaligus secara tidak langsung berdampak negatif pada aspek lingkungan dan sosial budaya seperti alihfungsi lahan yang masif, kemacetan, ketersediaan air bersih, degradasi budaya, tingkat kriminalitas dan lainnya. Untuk itu Arisudhiana sangat setuju jika triple bottom line dapat dijadikan dasar kinerja pemasar untuk mencapai keharmonisan aspek ekonomi, lingkungan dan sosial budaya.

Ketua PHRI Badung sekaligus Ketua BPPD Badung, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya, SE., MBA yang hadir sebagai keynote speaker pada acara FGD Online ini menegaskan bahwa inovasi pemasaran berkelanjutan merupakan solusi yang tepat untuk Bali. Ini harus kita dukung dan implementasikan demi keberlangsungan Bali ke depannya. Strategi marketing yang kita lakukan saat ini sudah benar, namun hanya baru mencakup kepentingan saat ini (present), harapan saya dengan adanya penemuan baru dari disertasi ini, Bali bisa menjadi contoh bagaimana pariwisata dan pemasarannya bisa dilakukan tidak saja untuk memenuhi kepentingan saat ini namun juga bisa memikirkan bagaimana generasi mendadatang dalam memenuhi kepentingannya.

Baca Juga :  Polres Tabanan Ajak Masyarakat Terapkan Prokes

Wakil Ketua DPP IHGMA Ramia Adnyana, SE., MM., CHA menyampaikan bahwa konsep pemasaran perlu bertransfromasi dari konsep konvensional ke konsep sustainability untuk mencapai triangle of sustainability, dimana product berubah menjadi costumer solution, price menjadi costumer price, place menjadi convenience, promotion menjadi communication. sehingga triangle sustainability yang terdiri dari quality experience untuk costumer, quality profit untuk investor, quality of life untuk local community bisa tercapai.

Ketua IHGMA DPD Bali, Nyoman Astama, SE., MM., CHA menambahkan bahwa marketing berkelanjutan bisa diterapkan melalui konsep S.A.V.E. : Sustainable (environment), Acceptable (social culture), Viable (economy) dan Endurance.

Ketut Swabawa, CHA selaku Director of Global Hospitality Expert mengusulkan agar Bali menerapkan collective marketing model, dimana destination marketing terintegrasi dengan fasilitas pariwisata agar komunikasi lebih terkonsentrasi. tidak seperti yang terjadi saat ini dimana antara destinasi dan fasilitas pariwisata seperti villa dan hotel, melakukan promotion secara parsial atau individual.

FGD in Online dengan menghadirkan 17 Panelist dari Industry Expert di Bali yang terdiri dari I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya, SE., MBA, Ramia Adnyana, SE., MM., CHA, I Nyoman Astama, SE., MM., CHA, I Ketut Swabawa, CHA, Dewa Macapagal, SE., MM., CHA, Fransiska Handoko, CHA., CHIA., CHRM, I Gede Sukarta, MBA, I Gede Paskara Karilo, Ida Bagus Wiryawan, Putu Arisudhiana, Yati Artini, CHA, Henita, Komang Artana, S.pd, Theresia Elena, Made Subrata, CHA, Made Sabda, I Made Astika Parwata, CHA, Made Pastika, CHA, Agus Suananda, CHA.

Baca Juga :  Apel Gabungan TNI-Polri Persiapan Yustisi di Selbar

Focus Group Discussion (FGD) ini juga menghadirkan Prof. Dr. Made Budiarsa, M.A, Prof. Dr. I Wayan Ardika, M.A, Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt, dan Dr. Ir. AAP. Agung Suryawan Wiranatha, MSc. sebagai Promotor dan Kopromotor memantau jalannya FGD secara online yang dipandu oleh I Gusti Agung Ngurah Dharma Suyasa, CHA.(agg/bpn)