BALIPORTALNEWS.COM, DENAPSAR – Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Kota Denpasar, menggelar perjalanan suci atau tirtayatra di beberapa pura di Lombok, NTB, 13-14 Desember 2019. Perjalanan Tirtayatra bertujuan untuk menjaga keseimbangan hubungan sekala-niskala.

Perjalanan spritual hari pertama dimulai dari Pura Suranadi, dilanjutkan ke Pura Narmada dan Pura Lingsar. Sebelum melaksanakan persembahyangan di Pura Suranadi, para yatri (peserta) tirtayatra melaksanakan pengelukatan.

Perjalanan spritual hari kedua dimulai dari Pura Gunung Baleku dan berakhir di Pura Batu Bolong. Di Pura Gunung Baleku, rombongan tirtayatra mencoba “Batu Jodoh” terletak di mandala utama pura. Menurut kepercayaan bahwa batu tersebut dapat dijadikan sebagai pengukur keberuntungan.

Perjalanan suci MKKS SMP Kota Denpasar ini dipimpin Ketuanya I Wayan Murdana, S.Pd., M.Psi., didampingi Kabid Pembinaan SMP Disdikpora Kota Denpasar, Drs. AA Gede Wiratama, M.Ag. Tirtayatra menurut Murdana yang juga Kepala SMPN 3 Denpasar ini merupakan sebuah langkah kebersamaan untuk tetap menjaga keseimbangan antara sekala dan niskala.

Baca Juga :  63 Ribu Lebih UMKM dan IKM Manfaatkan Diskon Tambah Daya Listrik "Super Merdeka"

Selama melaksanakan tirtayatra para yatri mendengarkan cerita-cerita mengenai tokoh sejarah atau tempat yang dikunjungi (Sravanam). Pada setiap melakukan persembahyangan di pura turut diyanyikan kidung suci keagamaan atau menyebut-nyebut nama Tuhan berulang-ulang (kirtanam). Oleh karenanya tirtayatra  kali ini sungguh-sungguh khusyuk.

Kabid Pembinaan SMP Disdikpora Kota Denpasar, AA Gede Wiratama, menyampaikan, tirtyatra ini merupakan langkah inovasi dan inovatif yang telah dikonsep sangat baik oleh MKKS SMP Kota Denpasar. Program pendalaman pendidikan agama melalui tirtayatra sangat positif untuk meningkatkan srada dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta para dewata-dewati dan leluhur.

Disamping itu, tirtayatra juga dapat menambah wawasan pengetahuan dan sejarah bagi para kepala sekolah, karena kepala sekolah dalam menjalankan tugasnya dapat menyampaikan kepada masyarakat. Demikian juga sebagai guru dapat menyampaikan kepada murid-muridnya sejarah pura-pura yang ada di Indonesia, khususnya di Lombok. (tis/bpn)