BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Salah satu ragam seni lukis yang luput dari pengamatan selama ini adalah seni lukis prasi, yaitu seni lukis di atas daun lontar yang digurat dengan pisau khusus (pangrupak). Prasi suatu tehnik seni lukis lontar tradisi Bali  kondisinya kini memprihatinkan. Regenerasinya pun sangat sulit berlangsung.

Alasan itu yang mendorong siswa SMPN 13 Denpasar, I Kadek Swedia Pradnya Yasa dan Sayu Nathasha Putri Arpin, mengembangkan seni lukis prasi lewat karya inovasi yang ditampilkan dalam ajang Festival Inovasi Denpasar 2019. Semangat Kadek Swedia dan Sayu Nathasha melestarikan prasi Bali sebagai bentuk menjaga warisan leluhur mendapat apresiasi tinggi dari Sekda Kota Denpasar, AA Rai Iswara, yang membuka Festival Inovasi Denpasar 2019 di SMPN 2 Denpasar, Sabtu (19/10/2019).

Menurut Swedia, seni lukis prasi yang terbuat dari daun lontar dengan gambar ilustrasi wayang di dalamnya, merupakan transpormasi dari naskah/kitab sastra, seperti: kakawin, kidung dan sebagainya, yang ditulis atau digambar dengan menggunakan pangrupak. Namun, di tengah era globalisasi, budaya lokal membaca lontar telah mulai tergerus, termasuk budaya menulis lontar yang terus memudar.

Baca Juga :  Satpol PP Buleleng Kembali Tutup Paksa Pabrik Penyulingan Daun Cengkeh

Karena itu, tercetus ide untuk berupaya mereinkarnasi penggunaan lontar dengan cara menterjemahkan isi lontar agar lebih mudah dipahami dalam bentuk prasi. Ini bertujuan untuk meningkatkan intuisi dalam melestarikan lontar sebagai budaya pada kaum milenial.

‘’Nilai-nilai itu di samping sebagai nilai material yang dapat dilihat dengan kasat mata (indrawi), juga nilai-nilai yang terkait dengan kosmologis Hindu, dan nilai-nilai antropologis tentang kepercayaan pada kehidupan magis dalam kebudayaan manusia Bali,’’ ujar Swedia.

Selain berprestasi di ajang Festival Inovasi, siswa SMPN 13 Denpasar juga berprestasi di woodball tingkat Kota Denpasar. Torehan prestasi yang diraih adalah juara I tunggal putra yang diukir oleh Kadek Ojus Suwanto, dan juara III beregu putra. Sebelumnya, siswa SMPN 13 Denpasar atas nama Adit juga meraih juara harapan lomba karikatur dalam ajang Book Fair 2019.

Kepala SMPN 13 Denpasar, Ni Made Sukarini, S.Pd., M.Hum., merasa bangga dan terharu di tengah fasilitas dan anggaran sekolah yang masih sangat minim, siswanya mampu menorehkan prestasi membanggakan untuk sekolah. Ia mengatakan, selalu mensuport siswanya untuk berlomba, termasuk menekuni penelitian karena manfaat karya ilmiah tidak hanya sekadar mencari prestasi, juga pengalaman.

Baca Juga :  Layanan Si Taring Disdukcapil Sediakan Kuota 400 Pendaftar Setiap Hari

Ia berharap, ke depan SMPN 13 Denpasar semakin cemerlang untuk mengembangkan prestasi yang lebih gemilang baik di akademis maupun non akademis. Ia berkomitmen membawa SMPN 13 Denpasar semakin jaya dan tetap maju. Karenanya, ia tetap meminta dukungan semua jajaran guru dan pegawai, orangtua siswa, termasuk komite, masyarakat serta lingkungan sekolah. ‘’Apalah arti seorang kepala sekolah kalau tidak didukung oleh guru, pegawai, orangtua siswa, komite serta lingkungan sekolah,’’ ujarnya. (tis/bpn)