BALIPORTALNEWS.COM – Umat Hindu mulai melaksanakan prosesi melasti serangkaian hari rata Nyepi Tahun Baru Saka 1939. Pantai Padanggalak, Kesiman, Denpasar Timur, sejak Jumat (24/3/2017), mulai dipadati umat melangsungkan melasti.

Puncak prosesi melasti, Sabtu (25/3/2017), dipastikan sejak pagi hingga sore Pantai Padanggalak dipadati ribuan umat.

Beberapa desa pakraman telah melaksanakan prosesi melasti. Seperti Desa Pakraman Peguyangan, Desa Pakraman Pohgading dan Desa Pakraman Penatih Puri serta Desa Adat Jagapati.

Menurut penekun sastra Bali, Made Merta, melasti memiliki makna filosofi sebuah ritual penyucian bhuna alit dan bhuana agung menjelang pergantian tahun Caka. Makanya, simbol-simbol manifestasi Ida Sang Hyang Widhi di-pundut ke laut.

“Tujuannya,  untuk menghayutkan segala noda dan kotoran-kotoran yang ada di bhuana alit dan bhuana agung, kemudian momohon tirta amerta di tengah segara,” jelas Made Merta yang juga penyarikan Bendesa Adat Pagan.

Penyucian diri dari keburukan batin manusia dimaknai lewat pembersihan dengan air kehidupan atau tirta amerta dari danau, laut atau telaga. Melalui pembersihan ini, umat akan siap menjalani perayaan Nyepi tanpa rasa iri, sombong, tamak dan sebagainya.

“Sebagaimana arti melasti dalam Hindu, dari kata mala atau kekotoran dan letah artinya diri manusia. Upacara ini membersihkan hati kotor manusia,” katanya.

Setelah selesai melasti, pretima yang merupakan simbolissi Ida Batara ditempatkan di Pura Bale Agung masing-masing desa pakraman (adat). (pra/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :