UGM Terlibat Penurunan Stunting
UGM Terlibat Aktif Dalam Percepatan Penurunan Stunting di Jawa Tengah. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, YOGYAKARTA – Stunting masih menjadi persoalan kesehatan di Indonesia. Data Asian Development Bank mencatat angka prevalensi stunting di Indonesia mencapai 31,8% dan menjadi salah satu tertinggi di kawasan ASEAN. Angka tersebut bahkan lebih tinggi dibanding rerata di ASEAN sebesar 27,41%.

Penanggulangan stunting yang lebih efektif menjadi hal mendesak yang harus segera dilakukan. Pasalnya, stunting memiliki dampak sangat serius dalam jangka panjang melalui penurunan produktivitas SDM dan lemahnya daya saing ekonomi bangsa. Merespons hal tersebut UGM melalui Fakultas Pertanian berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Bank Jawa Tengah mempercepat penurunan stunting di Jawa Tengah. Langkah penurunan stunting di wilayah Jawa Tengah ini sebagai bentuk komitmen mendukung pencapaian target Global Nutrition Target 2025 untuk mengurangi 40% balita stunting dan target utama Sustainable Development Goals 2030 yaitu menghilangkan segala bentuk kekurangan gizi dan memenuhi kebutuhan gizi remaja perempuan, ibu hamil dan menyusui, serta manula.

Baca Juga :  TP PKK Kota Denpasar Bagikan Ratusan PMT Bagi Ibu Hamil dan Balita di Densel

Provinsi Jawa Tengah memiliki target menurunkan angka stunting hingga 14% pada tahun 2023 atau lebih cepat satu tahun jika dibandingkan dengan target secara nasional.

Urgensi percepatan penurunan stunting di Jawa Tengah dengan mempertimbangkan angka prevalensi stunting pada anak balita yang masih cukup tinggi yaitu sebesar 20,8% pada tahun 2022. Lima kabupaten yang memiliki angka prevalensi stunting tertinggi yaitu [1] Kabupaten Brebes (29,1%), [2] Kabupaten Temanggung (28,9%), [3] Kabupaten Magelang (28,2%), [4] Kabupaten Purbalingga (26,8%), dan [5] Kabupaten Blora (25,8%).

Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Kerja Sama Fakultas Pertanian UGM,  Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D., menyampaikan, salah satu strategi yang dinilai cukup efektif untuk percepatan penurunan stunting adalah pemberian beras fortifikasi kepada masyarakat sebagai bentuk intervensi spesifik. Beras fortifikasi merupakan beras yang telah dicampur dengan kernel mix dengan proporsi tertentu yang berisi kandungan berbagai vitamin dan mineral sesuai dengan kebutuhan kecukupan gizi.

UGM, dikatakan Subejo, akan mendukung implementasi program penurunan stunting dengan mengombinasikan program strategis universitas yaitu KKN Tematik dan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Membangun Desa dan Magang. Para mahasiswa sebagai peserta program yang dibimbing para dosen pendamping lapangan nantinya akan melakukan edukasi, pendampingan dan monitoring secara intensif selama 5 bulan di lokasi pilot project. Selain itu, dengan dukungan keahlian dosen dan peneliti yang multidisiplin dari UGM diharapkan dapat mempercepat dan meningkatkan efektivitas intervensi program. Selain itu, juga terdapat dukungan berbagai hasil hilirisasi inovasi UGM dan fasilitas laboratorium penelitian juga sangat memadai.

Baca Juga :  Pemkot Denpasar Gencarkan Pencegahan Stunting Berkelanjutan, Wawali Arya Wibawa Ajak Seluruh Stakeholder Bangun Sinergitas Hingga Lapisan Terbawah

Menandai launching pilot project Program Percepatan Penanganan Stunting dan Gizi Buruk di Jawa Tengah dilakukan dengan pemberian beras fortifikasi secara simbolis oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, pada perwakilan ibu hamil yang mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK). Kegiatan dilaksanakan di Balai Desa Donorejo, Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang pada Selasa 31 Januari 2023.

Subejo berharap dengan kerja sama program penanganan stunting yang terintegrasi antara pemerintah daerah, Bank Jawa Tengah, UGM, korporasi swasta dan masyarakat merupakan wujud model pembangunan pentahelix dapat menurunkan prevalensi stunting dan gizi buruk di Provinsi Jawa Tengah secara signifikan.(bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News