Donasi
Ilustrasi. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Pasca ramainya pemberitaan terkait adanya dugaan sebuah yayasan di Denpasar menggelapkan dana sumbangan belasan miliar untuk masyarakat di Bali yang terdampak pandemi Covid-19. Dimana sebelumnya diketahui sejumlah pihak menuding yayasan LHB telah menggelapkan uang belasan miliar dari para donatur yang ingin menyumbang untuk masyarakat Bali saat pandemi, yang sumbangan itu sebagian besar datang dari para donatur di Australia.

Pihak yayasan LHB membantah adanya tudingan tersebut, dengan memberikan klarifikasi kepada awak media, yang pernyataan tersebut datang langsung dari Amanda, Wanita asal Australia yang merupakan pengelola yayasan sosial tersebut, saat ditemui langsung di Glogor Carik, Denpasar Selatan, pada Sabtu (11/6/2022), melalui sang suami bernama Dian Artha, Amanda mematahkan semua tudingan itu. Amanda membantah adanya oknum yang menuding pihaknya membangun rumah mewah, villa, membeli sepeda motor Harley Davidson dari uang yang dikumpulkan dari para donatur.

“Mengenai tudingan rumah atau villa, Harley, restoran, saya gak punya. Saya hanya ngontrak aja sampe sekarang. Saya hanya punya Honda Scoopy dan Vario. Harley gak punya. Rumah aja ngontrak.  Dengan uang Rp19 miliar yang disebut itu saya gak punya,” jelas Dian.

Dian menjelaskan bahwa yayasan yang dikelola oleh sang istri itu sudah memiliki ijin dari Kemenkumham. Bahkan tak jarang mereka beberapakali bekerja sama dengan dinas sosial membagikan bantuan di sejumlah tempat di Bali. Dimana dijelaskan yayasan LHB sudah berdiri sejak setahun yang lalu. Namun, aksi sosial mengumpulkan donasi untuk warga Bali saat pandemi sudah mulai digelar sejak awal Pandemi.

Baca Juga :  Promo untuk Konsumen Setia, Astra Motor Bali Siapkan Special Gift Honda BeAT Sporty

“Yayasan kami juga sudah berijin, dari Kemenkumham. Sudah hampir setahun. Sejak 2021. Karena sebelumnya kami bikin spontanitas. Tetapi biar aman, sehingga kami membuat yayasan agar resmi,” tambahnya.

Lebih lanjut, dalam yayasan itu, Amanda dan suami dibantu oleh sejumlah rekan mereka. Seperti pengakuan salah satu rekan pekerja di yayasan bernama Sandi. Menurut Sandi, sangat tidak masuk akal jika Amanda dan teman-temannya menggelapkan uang Rp19 miliar dari para donatur.

“Menanggapi berita yang ada di media sosial, tentang penyelewengan dana Rp19 miliar, kepemilikan villa, restoran, butik, dan Harley, saya berani jamin 100 persen itu tidak benar. Saya ikut terjun ke lapangan, jadi saya tau bagaimana yayasan berjalan. Setiap ada donasi kami langsung bergerak. Catatan, foto, video kami kirimkan ke yang ngasih donasi. Celah untuk korupsi gak bisa,” paparnya.

Pihak Amanda beserta rekan-rekannya di yayasan LHB membantah adanya tudingan tersebut. Dimana terkait adanya tudingan harga paket bantuan Rp900 ribu di Australia dan di Bali nilai paket bantuan malah hanya seharga Rp300 ribu.

Menurut Yuni yang merupakan staf yang mengurus paket bantuan yang disalurkan yayasan tersebut, bahwa tidak ada pengurangan nilai harga per paket sembako yang diedarkan.

“Ada di salah satu media menyatakan, paket 900 di Australia dnm di sini (Bali) dikalkulasi hanya Rp300 ribu, dibagikan ke warga. Untuk paket itu kami punya isian yang semuanya jelas, ada beras 29 kg, bawang, 2 liter minyak, 1 kotak noodle, dan lain-lain. Kami juga memotret penerima dan sembako dan kami mengirimkan langsung kepada yang ngasih donasi. Kalau pun ada yang kurang dari Rp900, itu karena ada donasi umum, karena ada tamu (donatur) yang ngasih donasi Rp200 ribu, Rp500 ribu dan lain-lain disesuaikan dengan nilai donasi. Tidak akan ada ketimpangan harga sejauh itu. Dan laporan semuanya sampai ke donatur,” jelasnya.

Baca Juga :  Triwulan I Tahun 2024, Total Penerimaan Pajak Daerah di Kota Denpasar Capai Rp262 Miliar

Dugaan penyelewengan dana ini juga dipatahkan oleh sejumlah rekan-rekan mereka di yayasan tersebut. Dimana sebelumnya sekitar delapan bulan lalu, pihak yayasan LHB sempat diperiksa dan dimintai keterangan oleh pihak Ditreskrimsus Polda Bali. Aliran dana atau bantuan barang dari donatur hingga kepada masyarakat yang menerima diaudit oleh kepolisian. Dan dalam proses itu, kepolisian menyatakan jika yayasan itu clear.

“Sebenarnya ini sudah clear di Krimsus Polda sebelumnya sudah mengecek. Semuanya dipanggil ke Polda Dulu sekitar 8 bulan lalu. Diaudit di Polda tidak ada masalah apa2. Sesuai real-nya kami dimintai keterangan. Case closed!. Dimana sebelumnya memang ada yang melaporkan ke Polda Bali, dan dicek Polda Bali semuanya dinyatakan bersih,” tambahnya.

“Karena setiap dana yang diterima oleh pihak yayasan, langsung disalurkan kepada masyarakat yang kita bantu. Lalu laporan berupa foto dan divideo.  Dan biasanya donatur juga request, bantuannya mau diberikan kepada warga atau orang yang seperti apa. Kami bukti siapa yang menerima, siapa yang menerima kami punya semuanya. Kami masih pegang semua bukti sampai sekarang. Kami siap menunjukannya kapan pun,” ucapnya. (aar/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News