Sembahyang Hindu
Sembahyang di Pura. Sumber Foto : Istmewa

BALIPORTALNEWS.COM, BADUNG – Umat Hindu di Bali merayakan Hari Raya Galungan setiap 6 bulan kalender Bali atau 210 hari yaitu pada hari Budha Kliwon Dungulan atau Rabu Kliwon Wuku Dungulan. Dan Hari Suci Galungan pada tahun ini dirayakan pada Rabu, 14 April 2021.

Hari Galungan adalah momen untuk memperingati terciptanya alam semesta. Hari ini juga merupakan hari kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kejahatan). Sebagai ucapan syukur umat Hindu memberi dan melakukan persembahan pada Sang Hyang Widhi dan Manifestasi Baliau disimbolkan dengan pemasangan Penjor di setiap rumah dan tempat suci agama Hindu.

Sejumlah tradisi dan perayaan yang dilakukan untuk memperingati Hari Galungan. Rangkaian Hari Raya Galungan meliputi Tumpek Wariga, Sugian Jawa, Sugian Bali, Hari Penyekeban, Hari Penyajan, Hari Penampahan, Hari Raya Galungan, Hari Umanis Galungan, Hari Pemaridan Guru, Ulihan, Hari Pemacekan Agung, Hari Raya Kuningan, dan Hari Pegat Wakan.

Baca Juga :  Netizen Ramai Komentari Soal "Hadiah Nyepi" dari Bupati Badung

Galungan berasal dari bahasa Jawa kuno yang berarti ‘bertarung’. Hari ini juga disebut dengan dungulan karena jatuh pada Wuku Dungulan yang berarti menang. Secara filosofis, Hari Galungan bertujuan agar umat Hindu dapat membedakan dorongan hidup antara kebenaran dan kejahatan di dalam diri manusia.

Kebahagiaan hanya bisa diraih jika mampu mencapai kebenaran. Secara umum Hari Raya Galungan dimaknai kemenangan Dharma (Kebaikan) melawan Adharma (Keburukan) yang mana adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapatkan pikiran dan pendirian yang terang. Kemenangan Dharma melawan Adharma ini diartikan adalah melawan keegoisan, hawa nafsu dan sifat buruk dalam diri.

Hawa nafsu dalam diri yang dikenal dengan sebutan Kalatiga antara lain Kala Amangkurat, Kala Dungulan dan Kala Galungan. Kala Amangkurat yakni hawa nafsu yang selalu ingin menguasai segala keinginan secara batiniah dan memerintah bila tidak terkendali akan menjadi serakah untuk mempertahankan kekuasaan meski menyimpang dari kebenaran.

Baca Juga :  Wabup Suiasa Tinjau Vaksinasi di Gor Purna Krida Kerobokan dan Tuban

Kala Dungulan yakni segala nafsu untuk menghalahkan semua yang dikuasai oleh orang lain. Kala Galungan yang berarti nafsu untuk menang dengan berbagai dalih dan cara yang tidak sesuai dengan norma dan etika. (Anak Agung Sri Anggreni, S.Pd.H, Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Mengwi, Badung)

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here