Baliportalnews.com
Baliportalnews.com

BALIPORTALNEWS, POLDA BALI – Menyambut Hari Bhayangkara ke-71 yang jatuh pada 1 Juli 2017, Polda Bali menggelar lomba tari di Gedung Bentara Budaya Bali Kompas TV, Jalan Ida Bagus Mantra, Senin (5/6/2017).

Pelaksanaan lomba tari dibuka secara resmi oleh Kabid Humas Polda Bali AKBP Hengky Widjaja, S.I.K, M.Si. mewakili Kapolda Bali Irjen Pol. Dr. Petrus Reinhard Golose. Untuk menghindari adanya kecurangan, panitia lomba menghadirkan tiga dewan juri dari ISI Denpasar yaitu DR. Ida Ayu Wimba Ruspawati, SST., M.Sn., Tjok Istri Putra Padmini, SST., M.Sn. dan A.A. A Mayun Artati, SST., M.Sn. Sebanyak 23 peserta dari personel Polwan dari seluruh satuan kerja menunjukan keahliannya dalam seni gerak tari.

Baca Juga :  Operasi Cipkon Sasar Duktang di Kos-kosan

AKBP Hengky Widjaja, S.I.K, M.Si. mengatakan, Pulau Bali merupakan sumber budaya yaitu seni tari. Seni tari tradisional didaerah lain sudah banyak yang hilang termakan oleh tarian-tarian modern. Tari tradisional Bali saat ini masih tetap lestari karena hampir setiap banjar memiliki penari dengan didukung tabuh gamelan. Sebagian besar wisatawan asing datang ke Bali untuk mengetahui dan belajar budaya Bali, salah satunya adalah seni tari, sehingga hal itu bisa dijadikan obyek wisata dunia.

“Saya ucapkan terima kasih kepada para personel yang masih menekuni kegiatan  tari tradisional Bali. Budaya ini harus dilestarikan, jangan melihat budaya ini sebagai budaya nenek moyang yang ketinggalan jaman. Kita sebagai pemilik budaya ini harus lebih baik. Personel Polri khususnya Polda Bali harus ikut melestarikan seni tari Bali ” ujar mantan Kabag Binkar Biro SDM Polda Bali ini.

Baca Juga :  Ayu Pastika Sutradarai Drama Teatrikal “Raja Pala Sang Pemburu”

Sementara DR. Ida Ayu Wimba Ruspawati, SST., M.Sn. mengungkapkan semangat peserta lomba sangat luar biasa. Para peserta semuanya adalah polwan yang kesehariannya bertugas disatuan kerjanya masing-masing mampu menari dengan baik bahkan sangat bagus. Masing-masing penari sudah membawakan tariannya secara maksimal, namun karena lomba ini diikat oleh kriteria, sehingga ada nilai kurang dan lebihnya.

Para dewan juri melakukan penilaian terhadap empat point yang harus dilakukan oleh seorang penari yaitu agem, tandang, tangkep dan tangkis. Kegiatan seperti ini sangat jarang dilakukan, ia berharap kegiatan ini agar terus dilanjutkan untuk melestarikan budaya Bali.

Baca Juga :  Pemkot Denpasar Gelar Vaksinasi dan Sterilisasi HPR Jemput Bola Berkala

“Tari bali roh nya adalah taksu, rasa tari, rasa gerak , rasa kebersamaan itu yang dipegang teguh oleh seorang penari. Tahun depan jika ada kegiatan seperti ini lagi pasti akan lebih bagus lagi. Kalau waktu latihannya lebih intensif, para peserta akan lebih profesional dan mampu bersaing dengan kelompok tari atau sanggar seni yang ada,” terang DR. Ida Ayu Wimba Ruspawati, SST., M.Sn. usai menjadi dewan juri. (binaw/humas-poldabali/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :