BALIPORTALNEWS.COM – Penyebaran berita bohong atau hoax kian melalui media sosial marak terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Berita bohong ini tidak hanya meresahkan masyarakat, namun juga menjadi tantangan besar bagi pers Indonesia.

“Pers harus menjadi bagian dari agen untuk tidak menyebarkan hoax,” kata Anggota Dewan Pers, Imam Wahyudi, Jumat (12/5/2017) di FISIPOL UGM.

Imam menyebutkan saat ini tidak sedikit media yang ikut terbawa dalam penyebaran berita bohong ke masyarakat. Infromasi bohong dari media sosial diadopsi oleh media arus utama tanpa melakukan klarifikasi dan verifikasi terlebih dahulu. Data hasil penelitian Masyarakat Telematika Indonesia mencatat media cetak turut menyumbang penyebaran berita hoax sebesar 5 persen dan televisi sebesar 8,7 persen.

Baca Juga :  Pakar UGM: Waspada Awan ‘Tsunami’ Berpotensi Timbulkan Hujan Lebat Disertai Petir dan Angin Kencang

“Kenyataan ini menjadi persoalan yang sangat serius karena sesungguhnya media arus utama harusnya menjadi rujukan,” kata alumnus Ilmu Komunikasi UGM ini.

Mengisi talkshow dalam rangkaian acara Kongres dan Temu Alumni Publikom Gama Departemen Ilmu Komunikasi UGM, Imam menuturkan masyarakat pers Indonesia  harus setia pada prinsip dan kode etik jurnalistik. Selalu menjadikan verifikasi fakta menjadi proses yang harus dilakukan oleh jurnalis dan media.

“Jangan terbawa arus dan ingin berperan seperti media sosial dengan kecepatan tanpa verifikasi. Harus selalu verifikasi terhadap informasi yang diperoleh,” tuturnya.

Baca Juga :  Gubernur Koster Bangun SMA Negeri 1 Abang Seluas 1,4 Hektar

Sementara CEO Dentsu One, Janoe Arijanto dalam kesempatan itu lebih banyak menyoroti tentang fenomena meleburnya wilayah sosial dan komersial yang terjadi secara intens dalam beberapa waktu terakhir. Crowd culture pun merebak menandingi media-media arus utama. Informasi jalanan memiliki kedudukan yang setara dengan media arus utama.

“Informasi yang dilahirkan publik bersaing dengan media mainstream, ini jadi sebuah tantangan,” jelasnya.

Dalam kegiatan Kongres dan Temu alumni Publikom Gama yang digelar selama dua hari, 11-12 Mei 2017 ini turut menghadirkan sejumlah pembicara lain yang merupakan alumni Departemen Ilmu Komunikasi UGM. Beberapa diantaranya Ishadi SK (Komisaris CNN Indonesia), Agung Wiharto (Corporate Secretary PT Semen Indonesia), Rizal Mallarangeng (CEO Freedom Institute), Titan Hermawan (Managing Director MNC Pictures), Susilo Dwi Hatmanto (GM First Position Group), dan Agung Satrio (Creative Group Head Leo Burnet). (ika/humas-ugm/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :