BALIPORTALNEWS.COMGuna memotivasi para generasi muda, Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta berkesempatan berbagi kisah suksesnya kepada para mahasiwa di Universitas Tabanan dan Sekolah Perhotelan Internasional Bali, Renon, Denpasar.  

Demikian disampaikannya pada saat memberikan kuliah umum di kedua kampus tersebut secara terpisah. Sudikerta yang lahir dari keluarga sederhana dan seorang anak petani yang terpaksa ikut bekerja serabutan guna memenuhi kebutuhan sekolahnyahingga akhirnya  menjadi salah satu orang penting di Bali yakni Wakil Gubernur Bali.

“Saya dulu lahir di Desa Pecatu, sebuah desa yang tandus di daerah Bukit Jimbaran, saya berasal dari keluarga sederhana danbahkan kehidupan keluarga saya waktu itu sangat morat-marit,” kenang Sudikerta. Walaupun dengan kondisi tersebut, Sudikerta tetap berusaha untuk menamatkan pendidikannya walaupun harus kehilangan ibunya sebelum ia sempat menamatkan sekolah dasar.

Namun menurutnya hal tersebut tidak mematahkan semangatnya untuk berusaha merubah taraf hidupnya. Segala usaha dia lakoni, ia rela menjadi pedagang acung, kernet angkot, cleaning service dan menjadi guide, guna memenuhi kebutuhanhidup dan biaya sekolahnya pada saat itu sampai dirinya mampu menamatkan kuliah di Jurusan Sastra Inggris Universitas Warmadewa dan sampai saat ini ia menjadi seorang Wakil Gubernur Bali berkat usaha dan kerja kerasnya selama ini.

Mengenang pengalamannya tersebut, Sudikerta mengaku banyak hal yang ia dapat pelajari dengan jalan hidupnya tersebut. Menurutnya kesusahan tersebut tidak serta merta menjadi akhir dari segalanya, melainkan mampu dijadikan sebagai acuan atau penyemengat dalam berusaha guna merubah kesusahan tersebut menjadi kehidupan yang lebih baik.

“Hidup susah bukan berarti akhir segalanya, jadikan sebagai penyemangat diri kita untuk berusaha lebih keras lagi dalam menjalani kehidupan ini, kerja keras, usaha dan berdoa adalah jalan keluarnya, jangan hanya berdiam diri, kembangkan diri kalian, apalagi kondisi sekarang sudah lebih baik daripada zaman saya dulu,” imbuhnya.

Dengan pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), ketatnya persaingan tidak akan dapat dielakkan di era global seperti saat ini, Sudikerta mengingatkan para mahasiswa untuk selalu siap bersaing. “Belajar lah sebaik baiknya  tingkat kemampuan dan keahlian biar bisa bersaing di era MEA ini, ” ujarnya.

Ia juga menghimbau kepada para mahasiswa, agar terus mengembangkan kemampuan berwirausaha. Selain menjadi pencari kerja para generasi muda juga harus mulai berfikir untuk menciptakan lapangan pekerjaan, untuk membantu pemerintah dalam menekan angka pengangguran,”ujarnya..

“Mahasiswa dijaman Globalisasi saat ini kehidupannya tidak harus rumah-kampus-rumah, melainkan harus aktif menciptakan sesuatu yang baru untuk menjadi mahasiswa yang mandiri, terlebih jika bisa menciptakan lapangan pekerjaan”, pungkasnya.

Disamping itu, Sudikerta juga menekankan kepada mahasiswa agar meningkatkan kemampuan dalam berkomunnikasi dengan menggunakan bahasa asing khususnya bahasa Inggris. “Disamping keahlian dan pendidikan , bahasa juga akan menjadi nilai plus dalam persaiangan di era MEA,” pungkasnya.

Dengan kemampuan yang maksimal dan strategi  yang jitu Sudikerta optimis para generasi muda mampu bersaing dengan negara Asia Tenggara lainnya sehingga tidak sekedar menjadi penonton di negara sendiri. (hms prov bali/bpn)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini