BALIPORTALNEWS.COM – Instruktur nasional, Drs. AA Sujana mengatakan, gerakan literasi sekolah yang saat ini sedang digiatkan oleh pemerintah pusat, ternyata masih minim diterapkan sekolah. Padahal tujuan gerakan literasi sekolah ini sangat positif  menumbuhkan budi pekerti peserta didik melalui pemberdayaan ekosistem literasi sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Menurut Agung Sujana, dalam mengimplementasikan gerakan literasi sekolah ada tiga tahapan yaitu pembiasaan, pengembangan dan pembelajaran. “Setiap tahap ada indikator pencapaian, kapan mulai tahap pengembangan dan kapan pembelajaran ada indikatornya,” kata Agung Sujana disela-sela workshop review Kurikulum 2013 yang digelar Disdikpora Kota Denpasar di SMAN 4 Denpasar, Selasa (30/8/2016).

Pada tahap pembiasaan, dijelaskan Agung Sujana, ada kegiatan yang harus dilakukan siswa yaitu membaca selama 15 menit. Kegiatan membaca ini bisa dilakukan di tengah atau sesudah pelajaran. “Pembiasaan ini tidak ada tagihan apapun, itu hanya menumbuhan kecintaan anak untuk membaca,” cetusnya.

Setiap anak memiliki kebiasaan dalam membaca, ada yang pembaca senyap dan pembaca nyaring. Agung Sujana mengatakan, guru boleh membacakan buku tetapi tidak setiap saat. Namun dia merekomendasikan membaca senyap atau SSR (Sustained Silent Reading) dan berkelanjutan.

“Makna berkelanjutan itu apa? Buku yang dibaca saat itu, buku itu jugalah yang besoknya dibaca. Oleh sebab itu ada yang namanya jurnal membaca. Di buku panduan gerakan literasi sekolah disebutkan siswa setiap kali setelah melakukan kegiatan membaca mereka mengisi jurnal. Mereka mengisi sendiri, jadi guru Bahasa Indonesia tidak capai menilai,” ujarnya.

Setelah membaca buku, imbuh pegiat KSPAN ini, guru secara informal bisa bertanya kepada siswa mungkin ada yang mau menceritakan dari isi buku tadi, atau apa ada sesuatu hal baru yang ditemukan dalam buku itu.

Lanjut Agung Sujana, gerakan literasi sekolah, para guru tidak lagi boleh sekadar menyuruh siswa membaca, lalu meninggalkan begitu saja, atau hanya menyuruh siswa menjawab pertanyaan di buku-buku itu sebagai tugas. ‘’Yang terpenting guru juga ikut membaca, bahkan juga semua komponen sekolah termasuk tukang kebun, cleaning service, kepala sekolah semuanya itu harus ikut membaca. Jadi tidak siswa saja yang diminta membaca, gurunya Facebook-an, BBM-an. Bahkan guru untuk mendorong supaya siswa menyukai membaca, guru menceritakan buku apa yang dia baca, apa menariknya buku yang dia baca tadi itu, untuk menunjukan bahwa guru itu juga membaca. Jadi lebih terlibat,” lanjutnya.

Agung Sujana menyarankan buku yang dibaca siswa tidak harus buku baru. Dia pun menggarisbawahi buku yang harus dibaca untuk tahap pembiasaan adalah buku non pelajaran, bukan buku pelajaran. “Buku fiksi, komik, sastra, novel, biografi. Dengan begitu anak-anak kita membaca yang lain, nggak berkutat buku matematika, bahasa Indoensia dan lain-lain, yang setiap hari mereka pelajari,” tegas Agung Sujana.

Berjalannya gerakan literasi sekolah, ditegaskan Agung Sujana, tergantung pada komitmen dan kreativitas guru. Kreativitas itu bisa dilakukan dengan membolehkan siswa membawa buku kesukaannya sendiri dari rumah. (tis/bpn)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini