Tato/Rajah Antara Fashion Dan Perlawanan

BALIPORTALNEWS.COM, MEDAN – Medan Creative Hub akan mengadakan kegiatan dengan tema “TATTOOISME” dengan materi kegiatan Live Tattoo, Pameran Desain Tattoo, Pemutaran Film tentang Tattoo, Akustikan dan juga Diskusi tentang Tattoo dengan pemantik diskusi Ahmad Arief Tarigan, satu bagian paragraf dari tulisan pengantar diskusi, arief berbicara tentang tato/rajah: dari prasangka ke Fashion-Perlawanan.

Ketika berada di tengah ruang sosio-kultural, tato memuat kandungan pesan yang kompleks sebagaimana kompleksitas aspek sosio-kultural itu sendiri. Tato bergeser sakral ke profan, dari sesuatu yang terkait dengan Illahiah dan kesucian ruhani bergeser ke (atau malah dominan) ke aktivitas keduniawian. Tato tak semata berbicara atas nama dirinya sendiri melainkan bersuara lewat gestur, prilaku dan imaji yang dimunculkan dari prilaku ‘orang bertato’.

Tato bertransformasi menjadi fesyien (fashion), yaitu aksesoris yang melekat dikenakan seseorang atau kelompok tak melampaui pesan dan makna sosial. Para pelaut di era penjelajahan bangsa-bangsa Eropa (abad 16) turut andil mempromosikan ini. Rajah tubuh para pelaut kemudian diasosiasikan dengan ‘kebebasan’ laut lepas sebagai antitesa aristokrasi dan kekakuan wilayah daratan. Di sini, tato atau rajah tubuh secara perlahan memupuk bakat subversif kekuasaan moral-intelektual.

Di Indonesia sendiri, pada tahun 1980-an dan 1990-an, pe-tato-an para penghuni penjara juga massif terjadi. Stigma tato identik dengan kriminalitas saling berkelindan satu sama lain. Ada aksi-ada reaksi, selalu saja begitu. Tato sebagai ekspresi perlawanan justru memperoleh energi dari tekanan yang dihadapi. Dari benua Eropa, tato bermigrasi ke ‘tanah harapan’ benua Amerika. Di tempat baru ini, ia dihidupi budaya pop dan terduplikasi berbagai penjuru dunia melalui raksasa industri hiburan terutama di era paska Perang Dunia Kedua.

Tato dan industri hiburan, ternyata berkontribusi pada satu pewacanaan baru, yaitu subkultur anakmuda (youth subculture) bergenre seni rajah tubuh (body art painting). Genre yang secara permukaan menampilkan diri sebagai ekspresi artistik namun secara laten ‘menginterupsi’ pendisplinan tubuh fisik dan tubuh pikiran yang dikungkung kekuasaan moral-intelektual. Bersuara mengingatkan bahwa ada ‘dunia lain’ di luar dunia yang secara formal dan umum dikenal kebanyakan. Dalam tulisan Ahamad Arief Tarigan

Kegiatan ini akan dimulai pada pukul 14.00 wib dengan Live Tattoo dengan Artis Tattoo : Gabe Tattos (Hand Poke Traditional), Andy Billox  (Modern Tatto/ Realism),Vio Tattoo ( Modern Tatto, Realism),Devin Tattoo (Modern Tatto) dan  Body Painting oleh Bandiet Tatto. Pada Pukul 19.30 wib Diskusi tentang tattoo akan dimulai dengan narasumber Radjah Naibaho (Traditional Tatto) dan  Lya. Kegiatan ini bersifat gratis atas kerjasama Rumah Karya Indonesia dengan Sumatera Utara Tattoo Solidarity dan nantinya akan ada pemutaran film tentang tattoo dan pertunjukan musik ungkap ojax manalu salah satu Kuraktor di Medan Creative Hub.(r/bpn)