BALIPORTALNEWS.COM – Sebagian besar negara di dunia sepakat mengembangkan energi baru dan terbarukan sebagai upaya mengurangi pemanasan global melalui penandatangan Perjanjian Paris terkait perubahan iklim, 2016 lalu. Indonesia, sebagai salah satu negara yang menandatangani perjanjian tersebut, sudah siapkah mengembangkan energi baru dan terbarukan?

Mantan Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara (PLN) Nur Pamudji mengatakan, Indonesia kaya dengan potensi energi baru dan terbarukan. Potensi ini perlu didukung dengan komitmen Pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan yang mendukung pengembangan energi terbarukan.

Saat menjadi pembicara dalam seminar “Climate Change and the Development of Renewables and Industries: From Strategy to Policy” yang digelar SDGs Center Universitas Padjadjaran, di gedung Unpad Training Center, Jalan Ir. H. Djuanda No. 4, Bandung, Selasa (6/2/2018),  Nur menyampaikan data mengenai pemanfaatan energi baru dan terbarukan di Indonesia.

Ia memaparkan, penggunaan energi baru dan terbarukan di bidang transportasi, kelistrikan, maupun industri pada 2015 masih sebatas 10%. Sementara, pemanfaatan energi minyak masih berada di kisaran 34%, batu bara 32%, dan gas 24%. Dibandingkan dengan China yang konsisten dalam mengembangkan energi baru dan terbarukan, Indonesia masih tertinggal jauh.

Pada capaian 2016, persentase pemanfaatan energi air, angin, dan surya sudah berada di atas 30%. Sementara pemanfaatan energi batu bara masih di angka 58%. Namun, China berkomitmen bahwa pengembangan energi tersebut akan terus ditingkatkan hingga lebih dari 60% pada 2040.

“Kita punya energi baru yang bisa dimanfaatkan, diantaranya energi surya, angin, dan laut,” kata Nur.

Konsultan dalam industri penyediaan tenaga listrik ini menjelaskan, Indonesia perlu belajar dari komitmen China dalam mengembangkan energi baru dan terbarukan. Di sisi lain, ada keunikan dari potensi yang dimiliki Indonesia. Setiap daerah memiliki karakteristik potensi tersendiri.

Untuk itu, ia mendorong Pemerintah memetakan potensi energi baru dan terbarukan. Ia menilai, energi surya potensial dikembangkan di wilayah Kupang sebesar 5 Megawatt dan Gorontalo sebesar 2 Megawatt. Sementara untuk energi angin, pantai selatan Jawa, Sulawesi Tenggara, dan Nusa Tenggara merupakan wilayah yang layak dikembangkan.

Dari segi investasi, Pemerintah juga harus konsisten dalam memfasilitasi investasi swasta terhadap pengembangan energi baru dan terbarukan.

Peneliti dari Department of Geography and Resource Management The Chinese University of Hongkong, Xu Yuan mengatakan, meningkatnya emisi karbon dioksida (CO2) di China mendorong dilakukan perubahan. Secara bertahap, China terus mengembangkan energi baru dan terbarukan. Hingga saat ini, China berhasil menjadi negara dengan pengembangan industri listrik berbasis angin dan surya terbesar di dunia.

Ini didukung dengan komitmen Pemerintah melalui kebijakan yang merespons pada perubahan iklim. Melalui strategi “Giant Panda”, China mengintegrasikan isu perubahan iklim ini terhadap transformasi ekonomi, ketahanan energi, dan perlindungan terhadap lingkungan. (humas-unpad/bpn)