IndonesiaWISE
IndonesiaWISE Gandeng Dinas Pariwisata Provinsi Bali Kembangkan Pariwisata Berkelanjutan Dalam Era New Normal di Bali. Sumber Foto : mon/bpn

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Destinasi wisata unggulan Indonesia, Bali atau biasa disebut dengan ‘Pulau Dewata’, secara bertahap mulai pulih dari dampak buruk pandemi Covid-19. Seperti tujuan wisata populer lainnya, sangat penting bagi Bali untuk mengadopsi praktik pengembangan pariwisata berkelanjutan yang menjadi lebih relevan di era New Normal dimana ada ekspektasi tinggi mengenai pelestarian lingkungan dan perlindungan warisan budaya, peningkatan pengelolaan limbah, penggunaan sumber daya lokal yang lebih besar dan produk ramah lingkungan, penegakan peraturan yang ketat, keselamatan pengunjung dan kesejahteraan masyarakat. Pendekatan multi-stakeholder diperlukan untuk menggabungkan kearifan lokal dan konteks dengan praktik terbaik internasional.

IndonesiaWISE sebuah perusahaan penasihat keberlanjutan ternama bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Provinsi Bali menyelenggarakan Seminar bertajuk ‘Mengadopsi Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan di Bali dalam New Normal’ pada Rabu (30/11/2022) di Ruang Soka Dinas Pariwisata Provinsi Bali.

Tjok Bagus Pemayun selaku Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, mengucapkan terima kasih kepada IndonesiaWISE dan pemangku kepentingan atas dukungan mereka terhadap visi Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan di Bali.

“Harapan saya tujuan dari diselenggarakannya seminar ini untuk membantu mengembangkan peta jalan pariwisata berkelanjutan di Bali dan membantu Pemerintah memajukan salah satu prioritas pentingnya dalam pembangunan pariwisata berkelanjutan di new normal,” ujar Tjok Bagus Pemayun.

Baca Juga :  KFB Jadi Wadah Penggiat Film di Bali, Sineas Harus Bersinar di Tanah Kelahiran

Lebih lanjut ia menambahkan, dimana ada ekspektasi tinggi mengenai pelestarian lingkungan dan perlindungan warisan budaya, peningkatan pengelolaan limbah, penggunaan sumber daya lokal yang lebih besar dan produk ramah lingkungan, penegakan peraturan yang ketat, keselamatan pengunjung dan kesejahteraan masyarakat.

“Inisiatif multi-stakeholder yang dipimpin oleh IndonesiaWISE merupakan kontribusi besar terhadap tujuan Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan di Bali dan kami akan terus mendukungnya,” katanya.

IndonesiaWISE sebelumnya memelopori peningkatan kapasitas multi-stakeholder dalam pariwisata berkelanjutan di Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sumatera Utara, kini telah meluncurkan inisiatif kolaboratif ini di Bali. IndonesiaWISE telah menyelesaikan penelitian ekstensif yang mencakup dialog dengan lebih dari 100 perusahaan industri dan mempelajari kondisi di 40 tempat wisata ikonik.

Amol Titus selaku CEO IndonesiaWISE mengatakan, pengembangan pariwisata berkelanjutan membutuhkan komitmen yang seimbang dan bertanggung jawab dari semua pemangku kepentingan di 4 dimensi utama, Ekonomi, Sosial, Budaya dan Lingkungan. Manfaat kegiatan kepariwisataan harus inklusif dan ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan karyawan, petani, nelayan, usaha kecil menengah dan masyarakat luas.

Baca Juga :  Pentas Seni Budaya Kelurahan Sumerta Kembali Digelar

“Hal ini dapat dicapai dengan upaya yang gigih dalam mengembangkan rantai pasok lokal terutama yang berkaitan dengan buah-buahan, sayuran, susu, daging, furnitur, dekorasi interior dan kerajinan tangan dari pelaku bisnis serta koperasi lokal. Meskipun sudah ada tanda-tanda pemulihan yang positif, kesulitan ekonomi masih dirasakan oleh banyak orang di provinsi ini dan kebangkitan sektor pariwisata secara luas sangat penting,” jelas Amol.

Amol Titus menjelaskan, dimensi lingkungan memerlukan perbaikan. Di era ‘New Normal’, kebersihan lingkungan di suatu destinasi wisata menjadi semakin krusial. Pandemi telah menekankan pentingnya kesehatan dan kesejahteraan yang didukung oleh air bersih, udara, dan lingkungan sekitar. Meski Bali memiliki daya tarik lingkungan yang indah dalam bentuk pantai, sungai, air terjun, gunung berapi dan hutan, ada tanda-tanda degradasi dan kerusakan.

“Ada 5 bidang yang memerlukan perhatian khusus, antara lain pengurangan dan pengelolaan limbah dan sampah, pengendalian pencemaran, perluasan dan penggunaan angkutan umum, undang-undang zonasi yang ketat yang mencegah pembangunan berlebihan dan pelestarian ekologi,” ujarnya.

Budaya tidak diragukan lagi merupakan salah satu magnet utama dan pendorong pariwisata Bali dengan banyak atraksi unik yang ditawarkan. Ini termasuk pura kuno, tarian, patung, musik, masakan, seni, kerajinan tangan, fesyen, dan banyak industri kreatif lainnya. Keramahtamahan masyarakat Bali yang termasyhur dipadukan dengan bakat inovasi dan perpaduan, terus menjadikan Bali tujuan yang dicari oleh wisatawan domestik dan internasional serta acara MICE. Namun, penting untuk melestarikan warisan budaya dan keasliannya.

Baca Juga :  Dominasi Astra Honda di ARRC Sepang

“Fokus yang lebih besar harus dilakukan pada pengembangan alat digital interaktif yang dapat memberikan pengunjung informasi yang berguna dan menarik tentang aspek budaya, tradisi, festival, dan legenda,” katanya.

Amol Titus menambahkan, dalam dekade mendatang Indonesia akan lebih mengembangkan destinasi wisata kelas dunia baru dengan daya tarik lingkungan yang kuat seperti Danau Toba, Bromo-Tengger, Likupang, Raja Ampat, Lombok dan lain-lain. Bali perlu membandingkan kemurnian lingkungannya dengan destinasi menarik ini dan destinasi serupa lainnya di kawasan Asia Tenggara. Kesadaran yang lebih besar, perilaku dan upaya yang konsisten dengan kearifan lokal kuno tentang kehidupan berkelanjutan, Tri Hita Karana yang menekankan keharmonisan dengan Tuhan, Manusia dan Lingkungan, akan membantu Bali melestarikan lingkungan alamnya yang berharga.(mon/bpn)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini