Baliportalnews.com
Baliportalnews.com

BALIPORTALNEWS.COM, YOGYAKARTAGuru Besar Emiritus Fakultas Geografi UGM, Prof.Dr. Dulbahri meninggal dunia pada Kamis (7/5/2020) di usia 80 tahun. Pria kelahiran Batang Toru, Tapanuli Selatan ini merupakan sosok yang banyak berkontribusi dalam bidang ilmu penginderaan jauh dan sistem infomasi geografis (SIG).

Baca Juga :  ARBAIN, Robot Monitoring Tanaman Jagung Karya Mahasiswa UGM

Sebelum dimakamkan di makam Keluarga Besar UGM Sawitsari, jenazah disemayamkan terlebih dahulu di Balirunng UGM. Persemayaman dilakukan sebagai bentuk penghormatan terakhir dari keluarga besar UGM.

“Atas nama keluarga besar UGM kami menyampaikan rasa duka mendalam kepada keluarga besar Prof. Dulbahri,” kata Rektor UGM, Prof.Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., ASEAN., Eng., Kamis (7/5/2020).

Panut menyampaikan almarhum merupakan ilmuwan yang telah memberikan kontribusi yang besar dalam Ilmu Geografi, khususnya bidang penginderaan jauh. Berbagai penelitian dan publikasi yang dihasilkan memberikan pengaruh besar dalam pengembangan ilmu penginderaan jauh.

Ketekunannya mengembangkan ilmu penginderaan jauh ditujukan untuk memberikan solusi berbagai permaslahan di masyarakat. Mulai dari persoalan krisis air, penggunaan lahan untuk perkebunan dan pertanian, pembangunan kualitas lingkungan, perencanaan tata ruang, dan perpajakan.

“Beliau juga merupakan salah satu tokoh yang giat untuk mengembangkan sistem informasi Geografis (SIG),” tutur Panut.

Baca Juga :  Mahasiswa UGM Ungkap Potensi Wisata Bahari Pulau Bair

Pada pengukuhan sebagai Guru Besar pada tanggal 11 Agustus 2001, Prof.Dr. Dulbahri menyampaikan pidato berjudul Peran Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis Dalam Pengelolaan Sumberdaya di Era Otonomi Daerah. Dalam pidatonya dia memaparkan bahwa otonomi daerah memberikan hak atas sumberdaya yang dikuasai. Namun untuk menjamin pembangunan berkelanjutan yang dapat dinikmati oleh generasi-generasi selanjutnya, pemerintah daerah perlu memikirkan kerja sama antar daerah dalam mengelola sumberdaya.

Teknik penginderaan jauh dapat dimanfaatkan untuk evaluasi keruangan dan potensi sumberdaya alam agar dapat ditentukan perencanaan dan pemanfaatan dengan baik. Penginderaan jauh penting dimanfaatkan tidak hanya agar memperoleh hasil kerja terpadu dan menghindari kerugian pembangunan. Namun, melalui penginderaan jauh juga data bisa disajikan secara transparan. Dengan demikian diharapkan bisa mendorong sikap kejujuran di masa otonomi daerah.

Panut menyebutkan dalam mendharmabaktikan ilmunya, Prof. Dr. Dulbahri tidak hanya memperhatikan lingkungan terdekatnya saja. Beliau memberikan komitmen dan perhatian yang besar bagi kemajuan pembangunan Indonesia. Hal ini terlihat dari kiprah penelitian dan pengabdian masyarakat yang telah dilakukan di berbagai wilayah tanah air. Kepakaran beliau mendapatkan pengakuan di tingkat nasional dan oleh karena itu dipercaya sebagai anggota Dewan Pakar di badan Pertanahan Nasional dan anggota Komisi Pengembangan Sumberdaya Manusia Kedirgantaraan Nasional.

Baca Juga :  Mahasiswa UGM Kembangkan Teknologi Pemantauan Ketinggian Air Real Time

Selain tekun mengembangkan keilmuwan Prof. Dr. Dulbahri semasa hidupnya juga dikenal sebagai sosok yang memberikan kontribusi besar dalam pengelolaan dan pembangunan Universitas Gadjah Mada. Semasa hidupnya dia senantiasa memberikan pemikiran-pemikiran positif dalam peran yang diembannya sebagai ketua jurusan, pembantu dekan, Ketua PUSPICS, serta anggota Senat Akademik UGM.

Panut mengungkapkan almarhum dikenang sebagai sosok yang senantiasa memberikan semangat kepada generasi muda agar selalu bekerja keras, bersyukur, dan tidak pantang menyerah. Hal tersebut tidak hanya sebatas ucapan saja, tetapi dengan memberikan ketauladanan. Bahkan setelah masa purna tugasnya beliau masih melakukan kegiatan penelitian dan pembelajaran sampai ke pelosok negeri. (ika/humas-ugm/bpn; foto firsto)