BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – SMPN 11 Denpasar tak lagi disebut sekolah pinggiran. Terbukti prestasi yang diraih siswanya semakin moncer. Ini dibuktikan munculnya peneliti belia dengan raihan prestasi yang diperoleh.

Prestasi teranyar dibukukan peneliti muda SMPN 11 Denpasar sukses menyabet juara I kompetisi karya tulis ilmiah (KKTI) Olimpiade Humaniora XI/2019 tingkat SMP se-Bali yang diselenggarakan Fak. Ilmu Budaya Universitas Udayana. Prestasi ini diukir oleh Ni Kadek Putri Dwipayanti dan Rizka Gitrasuari Ramadanti Putri.

Di ajang itu, siswa binaan Ni Gusti Ayu Made Dainty Prawitasari, S.Pd., membawakan karya ilmiah berjudul ‘’Pelestarian Bahasa Daerah Bali Dikalangan Remaja sebagai Identitas Bangsa Dalam Menghadapi Era Globalisasi’’.

Penelitian ini menggali sikap generasi milenial tentang bahasa daerah Bali. Lokus penelitian dilakukan di SMPN 11 Denpasar terkait dengan aspek kognitif, afektif, dan konatif.

Dari penelitian itu, terungkap bahwa generasi milenial cenderung memiliki sikap positif terhadap bahasa daerah Bali. Hal tersebut ditunjukkan dengan pemahaman mereka bahwa bahasa Bali merupakan penanda identitas etnik dan pengemban kebudayaan Bali yang adiluhung.

Baca Juga :  Fraksi DPRD Kabupaten Gianyar Dorong Pengesahan RAPBD

Dari penelitian yang dilakukan, bahwa usaha-usaha dalam mempertahankan bahasa, aksara, dan sastra Bali tidak dapat dilakukan secara individu, dibutuhkan kerjasama yang baik antar semua pemilik kepentingan bahasa, baik pemerintah maupun lembaga non pemerintah. Berikutnya, sinergi yang baik antara lembaga pemerintah dan lembaga non pemerintah yang memiliki semangat sama dalam melestarikan bahasa Bali harus terus ditingkatkan dan digalakkan.

Selain juara I KKTI, siswa lain juga meraih prestasi spesial award dari Forum Peneliti Muda Trisma dalam ajang OPSSH VII yang diselenggarakan SMAN 3 Denpasar. Saat itu, tim peneliti muda SMPN 11 Denpasar terdiri dari Komang Satya Wahyu Pramudya dan Gita Camelia mempresentasikan karya inovasi muda berjudul ‘’Mengubah Air Laut Menjadi Air Tawar’’ atau disingkat Bahtra.

Ide karya inovasi ini dilatarbelakangi oleh terjadinya kekeringan di beberapa wilayah Indonesia, dan juga inovasi dari lingkungan sekitar sekolah (SMPN 11 Denpasar) yang sebagian besar dikelilingi oleh laut. Dalam proses inovasi ini, air laut dipanaskan menggunakan kompor portebel yang menghasilkan uap setelah dingin menjadi benih-benih air tawar. Dari penelitan ini sederhana ini, sebenarnya potensi mengubah air laut menjadi air tawar sangat besar dan sangat mudah dilakukan.

Baca Juga :  KPK RI Laksanakan Monev MCP di Pemkot Denpasar

Prestasi lain, di bidang non akademis dua pesilat SMPN 11 Denpasar atas nama Komang Agus Tripajina dan I Made Romeo Eka Agastia meraih juara I kelas D Putra (SMP) Kejuaraan Internasional Pencak Silat Pandu Samudra II di Tegal, Jateng. Siswa SMPN 11 Denpasar juga ada berlaga di ajang sepak bola tingkat Asia.

Kepala SMPN 11 Denpasar, Drs. I Putu Jaya, M.Psi., tersenyum mengembang dengan prestasi yang diraih anak didiknya. Menurutnya, prestasi bidang akademis dan non akademis sudah biasa ditelorkan oleh siswa SMPN 11 Denpasar. Prestasi di bidang penelitian, sambung Putu Jaya, menjadikan prestasi SMPN 11 Denpasar, luar biasa.

Terlebih di tengah anggaran yang minim dikelola sekolah, siswa mampu mengukir prestasi. Ini kata dia adalah prestasi luar biasa berkat ketekunan pembina, serta sinergi dan komunikasi yang baik dengan masyarakat serta orangtua siswa yang mendukung kemajuan sekolah.

Karya inovasi inilah, kata Putu Jaya, yang terus dikembangkan di SMPN 11 Denpasar. Terlebih lokasi sekolah yang sangat potensi untuk mengembangkan karya inovasi atau penelitian di bidang lingkungan, seni dan budaya. Juga dorongan dari Walikota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya mantra yang selalu mendorong sekolah di Denpasar untuk berinovasi. (tis/bpn)