BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMP negeri di Kota Denpasar, untuk jalur siswa miskin dan zon lingkungan jarak terdekat dimulai, Senin (24/6/2019). Ironisnya, pendaftaran yang dilakukan secara online mengundang kericuhan dikalangan orangtua siswa.

Pasalnya, sistem yang digunakan dalam PPDB tersebut terjadi kesalahan data titik kordinat lokasi sekolah sehingga sistem tidak bisa membaca sistem jarak secara maksimal.  Akibatnya, proses pendaftaran ditunda sampai lima jam. Dimana pendaftaran yang dijadwalkan dibuka pukul 08.00 harus ditunda dua kali, yakni pukul 12.00 dan pukul 13.00. Pendaftaran baru bisa berjalan lancar pukul 13.00 hingga pukul 17.00.

Kondisi ini mengundang kekesalan orangtua siswa. Seperti yang terlihat di rumah pintar, Jalan Kamboja. Dimana siswa melakukan pendaftaran jalur siswa miskin. Sejumlah orangtua siswa terlihat datang untuk mempertanyakan penundaan yang disampaikan panitia PPDB Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Denpasar.

“Saya harus rela minta izin kerja untuk bisa membantu anak saya mendaftar. Tetapi, setelah sempat masuk, tadi ada pengumuman penundaan. Saya jadi bingung, anak saya sudah nangis. Kalau terus seperti ini, siapa yang bisa bertanggungjawab,” ujar Putu Arta Diputra kepada petugas PPDB di Rumah Pintar.

Baca Juga :  Fraksi DPRD Kabupaten Gianyar Dorong Pengesahan RAPBD

Di sisi lain, Ketua Komisi I DPRD Denpasar Ketut Suteja Kumara yang memantau pelaksanaan PPDB kemarin menyebutkan, terjadi kesalahan sistem pada membaca jarak. Misalnya saja riilnya jaraknya X, tetapi terbaca X++, karena itu, dilakukan di-reset ulang. “Kalau ini dilanjutkan akan menjadi kendala pada tahap berikutnya, karena akan ada yang dirugikan. Karena itu, saya melihat Disdikpora telah mengambil langkah untuk mengkongkretkan pembacaan jarak ini,” ujar politisi PDI-P ini.

Pihaknya mengingatkan, agar jalur zonasi kawasan tidak lagi seperti ini. Masyarakat menjadi gundah. Pihaknya berharap sistem yang akan dipakai bisa diujicoba atau paling tidak dipelajari dengan seksama, dan ketika sudah fixs, baru dibuka. “Jangan sampai menimbulkan kendala lagi,” harap Suteja Kumara.

Kepala Disdikpora Denpasar Wayan Gunawan mengakui terjadi kesalahan pada sistem. Sistem tidak maksimal membaca jarak, sehingga tidak sesuai dengan realitasnya. Misalnya saja, jaraknya 300 meter, bisa terlihat menjadi 3000 meter. Setelah terpantau kondisi seperti itu, pihak Telkom akhirnya menunda pendaftaran yang sebelumnya dilakukan mulai pukul 08.00 dan baru bisa berlangsung normal pada pukul 13.00.

Baca Juga :  Dirjen Yankomas Ditjen HAM Kunjungi Posyankumhamdes Medahan 

Dikatakan, pada pukul 12.00 sebenarnya sistem sudah bisa operasi, namun pihak Telkom meminta waktu lagi satu jam untuk memastikan sistem yang ada berjalan maksimal. “Setelah pukul 13.00 tadi, sistem sudah berjalan normal, saya minta doa agar selanjutnya bisa berjalan normal,” katanya.

Dia juga mengingatkan PPDB melalui sistem zona lingkungan jarak terdekat ini bukan berarti siswa atau wali murid harus berlomba siapa paling cepat mendaftar sekolah. Namun, melihat jarak terdekat dari rumah ke sekolah. ‘’Jarak zonasi ini tidak melalui cepet-cepetan tetapi berdasarkan jarak rumah ke sekolah. Oleh karena itu jarak rumah ke sekolah itu kita betulkan dulu supaya tidak ada komplain-komplain lagi, supaya masyarakat paham dapat memaklumi kondisi ini karena kami tidak dapat berbuat apa-apa karena ini masalah sistem tapi kami sudah berusaha melakukan upaya-upaya perbaikan dengan penyedia sistem,’’ urainya.

Gunawan mengatakan, untuk kesiapan pada 27 Juni nanti, pihaknya meminta Telkom untuk simulasi. Hal ini untuk menghindari kejadian serupa terulang pada proses pendaftaran zonasi jarak kawasan. “Kami sudah minta paling lambat besok sudah ada simulasi. Namun bila terkendala internet, jaringan serta sistem, mungkin itu di luar kemampuan kita,” katanya. (tis/bpn)