BALIPORTALNEWS.COMPembangunan perkeretaapian Indonesia dinilai lambat. Keterlambatan tidak hanya terjadi pada perkembangan sarana-prasarana, jumlah penumpang. Namun juga pada perkembangan sumber daya manusia serta pengoperasian kereta api meliputi berbagai metode terkait perencanaan, perancangan, dan pengoperasian kereta api.

KLIK GAMBAR DI ATAS UNTUK MENDAPATKAN INFORMASI LEBIH LANJUT !!!

Yuwono Wiraco, Staf Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api, Ditjen Perkeretaapian Kementrian Perhubungan ini menyebutkan bahwa hingga kini metode penentuan kapasitas jalur kereta api belum berkembang dengan baik. Padahal metode ini merupakan salah satu metode penting dalam pengoperasian kereta api.

“Pembangunan perkeretaapian dari sisi sarana-prasarana tidak bisa digunakan secra optimal jika tidak didukung dengan pengaturan pola operasi kereta api yang maskimal,” jelasnya Kamis (22/12/2016) saat ujian terbuka program doktor di Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik UGM.

Baca Juga :  Maingame.com dan Gojek Dukung Pertumbuhan Industri Kreatif & Games

Kondisi tersebut mendorong Yuwono untuk mengkaji lebih dalam untuk mengetahui metode yang tepat untuk menghitung kapasitas jalur kereta api di Indonesia. Dari penelitian yang dilakukan di lintasan Kroya-Kutoarjo-Yogyakarta diketahui terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi kapasitas jalur kereta api.

Beberapa diantaranya adalah jumlah kereta, heterogenitas, satbilitas, kecepatan, infrastruktur, pengoperasian, dan panjang kereta. Berikutnya, waktu delay, persimpangan, sinyal, sumber daya, jadwal, jumlah jalur, panjang lintasan, jarak sinyal, pemberhentian, dan perawatan.

Sementara faktor utama yang mempengaruhi kapasitas jalur kereta api adalah faktor jarak antar stasiun, kecepatan kereta api, serta waktu tempuh antar stasiun. Sleain itu juga dipengaruhi waktu yang tersedia untuk pengoperasian kereta api.

Baca Juga :  Gratis Pembersihan Sirkulasi Udara untuk BMW & MINI

Temuan lain memperlihatkan bahwa penghitungan kapasitas jalur kereta api yang digunakan di Indoensia saat ini adalah persamaan formula [10] dan [11]. Dari persamaan tersebut diketahui terdapat komponen persamaan yang tidak tepat yaitu adanya nilai tp yang merupakan waktu perjalanan dari sebelum sinyal muka stasiun A bagi kereta api kedua dengan asumsi jarak 3 km.

Menurutnya, nilai ini seharusnya tidak perlu dimasukkan. Kereta api tidak perlu berhenti sebelum memasuki stasiun sepanjang kapasitas stasiun lebih besar atau minimal sama dengan kapsitas jalur kereta api. Data penelitian juga mencatat sebagian besar kereta api tidak berhenti di setiap stasiun baik di jalur tunggal yakni lintasan Kroya-Kutoarjo maupun jalur ganda di lintaan Kutoarjo-Yogyakarta.

Baca Juga :  PLN Siap Jalankan Skenario “New Normal”

Melihat fakta tersebut Yuwono memandang perlunya penyelenggaraan perjalanan kereta api dengan memprioritaskan ketepatan jadwal perjalanan kereta api. Dengan demikian penggunaan kapasitas jalur kereta api dapat dioptimalkan. Selain itu perlu dilakukan penyeragaman kereta api di sisi kecepatan agar tidak banyak waktu yang terbuang dan menurunkan kapasitas jalur kereta api.

Tidak kalah penting, disebutkan Yuwono pelrunya dilakukan peningkatan kemampuan dalam pembuatan jadwal perjalanan secara maksimal. Dengan penjadwalan yang maksimal diharapkan dapat memaksimalkan penggunaan kapasitas jalur kereta api. (ika/humas ugm/bpn)