27 C
Denpasar
Kamis, 20 September 2018

Glucosaga, Alat Ukur Kadar Gula Darah Tanpa Jarum Suntik

BALIPORTALNEWS.COM – Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit tidak menular yang masih menjadi persoalan kesehatan serius di berbagai belahan dunia. Bahkan penyakit akibat peningkatan kadar gula dalam dar ini diperkirakan akan menjadi penyebab kematian tertinggi ke tujuh di dunia pada tahun 2030 mendatang.

Meskipun tidak dapat disembuhkan, namun diabetes merupakan penyakit yang dapat dikendalikan dengan menjalani pola hidup sehat. Selain itu pemeriksaan secara rutin kadar gula darah penting dilakukan bagi penderita diabetes. Sayangnya, untuk memantau kadar gula dalam darah para diabetasi saat ini tergolong rumit. Pasalnya pemeriksaan kadar gula darah masih membutuhkan tindakan invasif dengan jarum suntik untuk mengambil sampel darah pasien.

Kondisi ini mendorong lima mahasiswa UGM untuk membuat alat ukur kadar gula darah atau glukometer non invasif yang diberi nama Glucosaga. Mereka adalah Ayu Rahmawati Kautsar Dieni dari Prodi Teknologi Informasi, Nurul Fajriati Setyaningrum dan Atika Nurul Haniyyah dari Prodi Gizi Kesehatan, serta Abdullah Ibnu Hasan dan Ardi Yusri Hilmi dari Prodi Elektronika dan Instrumentasi. Kelimanya  mengembangkan alat dengan bantuan dana hibah DIKTI yang dikemas dalam Program Kreativitas Mahasiswa 2017 dan berhasil lolos melaju pada PIMNAS 2017 di Makasar .

Nurul menyebutkan bahwa glukometer yang ada di pasaran umumnya terdiri dari beberapa komponen yang maha. Beberapa diantaranya jarum lancet, lancet device, strip glukosa darah, dan alat glukometer. Pengukuran diawali dengan tindakan invasive berupa penusukan jarum lancet ke jari pasien untuk mengambil sampel darah.

“Terkadang penusukan jarum ke jari pasien memerlukan banyak pengulangan karena sampel darah yang kurang,” ujarnya, Rabu (2/8/2017) di UGM.

Alat yang mereka kembangkan memiliki prosedur penggunaan alat yang cukup sederhana. Langkah pertama, meletakkan sensor pada telinga bagian bawah kemudian menekan tombol start. Selanjutnya, akan langsung dapat terlihat hasil pembacaan kadar glukosa darah yang ditampilkan pada layar LCD.

Ayu menambahkan bahwa alat ini juga dilengkapi dengan aplikasi smartphone Glucosaga yang dapat membantu penderita dalam mengetahui riwayat perjalanan penyakit diabetesnya. Data hasil pembacaan kadar glukosa darah dapat dikirim dan disimpan secara berkala pada aplikasi.

Aplikasi Glucosaga juga memiliki fitur-fitur yang dapat membantu pengguna dalam mengatur gaya hidupnya yakni SagaDiary, Reminder, dan Activity Track. SagaDiary digunakan untuk melihat riwayat dari kadar glukosa darah dan riwayat konsumsi kalori maksimal per hari. Reminder berfungsi sebagai pengingat untuk beberapa aktivitas tertentu seperti minum obat, olahraga, dan sebagainya. Sedangkan Activity Track adalah fasilitas untuk menulis segala aktivitas yang dilakukan.

“Kami berharap dapat berpartisipasi aktif dalam mendukung Indonesia lebih mandiri dalam memproduksi alat kesehatan. Untuk saat ini kami masih dalam tahap riset dan pengembangan sehingga bisa masuk ke tahap produksi,”pungkasnya. CP : 0896-7430-5995 (IBNU). (ika/humas-ugm/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

ALMINO, Teknologi Pemacu Produksi Mikroalga Sebagai Sumber Bioenergi

BALIPORTALNEWS.COM – Konsumsi energi menggunakan sumber energi fosil hingga saat ini masih tinggi. BP Global tahun 2016 mencatat konsumsi energi primer global meningkat sebesar 1% di tahun 2015. Penggunaan minyak bumi masih menjadi bahan bakar utama sebesar 32,9% dari total konsumsi energi global. Setiap harinya konsumsi minyak bumi global mencapi 1,9 juta per barel.

Ketergantungan duni terhadap penggunaan sumber energi fosil ini menimbulkan dampak bagi lingkungan. US Energi Information Administration (EIA) 2017 menungkapkan pemakaian bahan bakar fosil akan meningkatan emisi beberapa polutan ke udara seperti SO2, NOx, dan CO2.

Fenomena ini mendorong lima mahasiswa UGM mengembangkan inovasi di bidang teknologi untuk meminimalisir dampak lingkungan sekaligus krisis energi akibat penggunaan energi fosil. Mereka mengembangkan sebuah alat berupa microbubble generator untuk meningkatkan produktivitas tanaman mikroalga yang potensial dimanfaatkan sebagai bioenergi.

Kelimanya adalah Bagas Alqadri, Syahirul Alim Ritonga, Levina Ariesta Mayasari, dan  Arief Faqihudin dari Teknik Mesin serta Lathifah Zahra dari Fakultas Biologi. Teknologi tersebut juga berhasil meraih Merit Award dalam Energy innovation Challenge 2017. Dalam kompetisi yang digelar di Suntec Exhibition, Singapura pada 19-21 Juli kemarin tim ini berhasil masuk dalam posisi 6 besar dunia. Kompetisi diikuti puluhan tim dari berbagai perguruan tinggi di dunia.

 Bagas menjelaskan bahwa mikroalga memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan sebagai sumber bioenergi. Sayangnya, produktivitas mikroalga yang dibudidayakan petani ganggang masih tergolong rendah. Hal ini dikarenakan dalam budidaya masih menggunakan metode tradisional dan membutuhkan lahan yang luas. Cara-cara budidaya seperti ini belum mampu menghasilkan mikroalga yang dapat berkembang dengan cepat dan jumlah yang banyak.

“Karenanya kami membuat alat yang dapat mendorong peningkatan pertumbuhan mikroalga dengan cepat,” ungkapnya, Selasa (25/7/2017) di Fakultas Teknik UGM.

Alat yang dimaksud adalah teknologi microbubble generator yang diberinama “ALMINO”. Teknologi ini membantu dalam mengoptimalkan perumbuhan mikroalga sebagai sumber bioenergi yang menjanjikan di masa depan. Tidak hanya itu, teknologi ini juga dapat berkontribusi dalam upaya meredam efek pemanasan global  dengan menangkap karbondioksida (CO2) di udara untuk digunakan sebagai bahan fotosintesis mikroalga.

“Dengan teknologi ini mampu meningkatkan distribusi jumlah CO2 terlarut dalam air karena menghasilkan ukuran gelembung yang lebih kecil dibandingkan ukuran gelembung dari aerator biasa,” terangnya.

Microbubble generator ini memecah ukuran partikel CO2 menjadi ukuran mikro. Ukuran yang lebih kecil ini menjadikan CO2 lebih mudah diserap oleh mikroalga.Dari hasil pengamatan langsung, kolam budidaya mikroalga yang dipasangi microbubble generator menunjukkan perkembangan yang lebih bagus dibanding kolam yang dipasangi aerator biasa.

“Warna mikro alga lebih hijau, ini menunjukkan perkembangan yang jauh lebih baik,” ujarnya.

Arief Faqihudin menambahkan selain dapat meningkatkan jumlah CO2 terlarut dalam air , teknologi ini juga mampu mendistribusikan partikel CO2 hingga ke dasar kolam. Disamping hal tersebut juga mampu menekan jumlah CO2 di alam.

“CO2 di alam ditangkap oleh penangkan CO2 untuk dimasukkan ke dalam miccrobubble genarator.  Selanjutnya CO2 dipecah menjadi partikel berukuran mikro untuk disemprotkan ke kolam bersama air,” paparnya.

ALMINO dikembangkan dalam rangkaian yang terolong sederhana. Memiliki dua komponen utama yaitu microbubble generator dan penjernih air. Dibuat menjadi instalasi dengan pompa dan selang. Dalam pengembangan instalasi ini menghabiskan biaya sekitar Rp. 1,5 juta rupiah.

“Alat ini  mudah digunakan, mudah diaplikasikan, serta mudah dalam perawatannya,” tuturnya.

ALMINO merupakan inovasi yang tak hanya mampu membantu meningkatkan produktivitas mikro alga yang potensial menjadi sumber energi masa depan. Keunggulan lain mampu menurunkan efek pemanasan global. (ika/humas-ugm/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Rasayana, Robot Terbang UGM Penakluk Langit Turki 

BALIPORTALNEWS.COM – Rasa panik menyelimuti tim Gamaforce UGM tatkala mengetahui salah satu komponen utama penyusun pesawat tanpa awak yang dirakit mengalami kerusakan yang tergolong berat. Padahal, dalam 48 jam kedepan pesawat tersebut harus segera berlaga dalam ajang Unamenned Aerial Vehicle (UAV) 2017 di Turkish Aircraft Industries Corporation (TUSAS) di Kahramankazan, Ankara, Turki.

Pesawat tanpa awak rakitan mahasiswa UGM yang diberi nama Rasayana saat itu akan bertanding dalam kompetisi pesawat tanpa awak internasional pada 13-16 Juli 2017. Rasayana berhasil lolos ke babak final setelah sebelumnya bersaing dengan 400 tim lain sehingga menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia untuk beradu dengan 96 robot terbang tangguh lainnya di Turki.

 “Sampai Turki tanggal 11, saat tiba di hotel dan bongkar muatan, baru kita tahu kalau odroid mini PC rusak saat perjalanan dalam pesawat ke Turki. Padahal, harus bertanding 2 hari berikutnya,” kata Ketua tim Gamaforce, Rifyal Garda Prabowo, kepada wartawan, Kamis (20/7/2017) di Gedung Pusat UGM.

Ipal, sapaan akrab Rifyal Garda, mengungkapkan timnya berjuang keras dan memutar otak untuk mencari solusi persoalan tersebut. Bahkan, mengorbankan waktu tidak tidur agar pesawat ini bisa berhasil terbang dalam perlombaan. Sungguh situasi yang sangat menguras pikiran dan tenaga. Namun, perjuangan tersebut tidak sia-sia, akhirnya kerusakan bisa teratasi.

Hasil tidak pernah mengkhianati usaha. Pepatah tersebut tepat menggambarkan perjuangan yang dilakukan tim Gamaforce. Setelah melalui serangkaian proses yang panjang dan menemui berbagai rintangan, akhirnya Rasayana sukses menaklukan langit Turki. Pesawat ini dinobatkan sebagai juara tiga dalam kompetisi bergengsi ini.

“Menegangkan saat final perebutan juara 3. Ketika menerbangkan pesawat kami mengumandangkan lagu Indonesia Raya dan Hymne Gadjah Mada sebagai pemacu semangat meraih keberhasilan,” ujarnya.

Tim Gamaforce terdiri dari 9 mahasiswa yang berasal dari Fakultas Teknik dan FMIPA. Mereka adalah Umar Fadhil Ramadhjan, Ahmad Izudin, M. Syahrul Ramadhan R.W., Ardi Puspa Kartika, Rifyal Garda P., Riarsari Meirani U., Anindityo Agung B., Riswandha Latu D., serta Faricha Hidayati. Dibimbing oleh Dr. Gesang Nugroho, S.T., M.T., dan Aufaclav Zatu Kusuma Frisky, S.Si., M.Sc.

Ipal menyebutkan Rasayana memiliki spesifikasi panjang 1,2 meter, bentang sayap 2 meter dan bobot 3 kg. Dibuat dari material komposit sehingga kokoh dan kuat saat terbang. Meskipun kala itu berlomba dalam kondisi angin kencang, pesawat ini dapat terbang menyelesaikan misi.

“Saat itu angin cukup kencang dengan kecepatan 13 knots,”ungkapnya.

Pesawat ini juga memiliki keunggulan mampu terbang rendah dengan kecepatan rendah. Terbang dalam ketinggian 40 meter dan kecepatan 12 meter/detik dalam waktu 7-10 menit menyelesaikan misi. Pada kontes itu, pesawat tanpa awak ini dituntut dapat terbang rendah sekaligus dengan kecepatan rendah menbaca citra dalam suatu matrik di arena perlombaan.

“Sebenarnya pesawat ini mampu terbang hingga 100 kilometer dan kuat terbang selama 100 menit. Hanya saja di kompetisi ini pesawat harus terbang rendah dengan kecepatan rendah agar bisa membaca warna dari matrik di bawahnya,” urainya.

Dosen pembimbing tim Gamaforce, Dr. Gesang Nugroho, S.T., M.T., menuturkan prestasi yang diraih membuktikan bahwa UGM memiliki kemampuan yang sejajar dengan negara-negara maju lainnya. Teknologi yang dikembangkan mampu bersaing dengan negara lainnya.

Dia berharap kedepan pemerintah memberikan dukungan dalam pengembangan pesawat ini. Dengan begitu, pesawat tanpa awak ini dapat segera diaplikasikan untuk pemetaan dan foto udara serta monitoring suatu kawasan. (ika/humas-ugm/ika; foto:firsto)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Robot Pemadam Api UGM Mewakili Indonesia ke Kontes Robot di Amerika

BALIPORTALNEWS.COM – Robot pemadam api rakitan Gadjah Mada Robotic Team (GMRT) berhasil lolos melaju ke kompetisi Trinity College Fire-Fighting Home Robot Contest (TCFFHRC)  di Amerika Serikat pada bulan April 2018 mendatang. Robot yang diberi nama Al-Fatih ini berhasil menyabet juara 1 dalam Kontes Robot Indonesia (KRI) 2017 sehingga berhak mewakili Indonesia di kontes internasional.

Robot Al-Fatih berhasil menjadi jawara setelah sukses menyisihkan 21 robot lain dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia pada kategori Kontes Robot pemadam Api Indonesia (KRPAI). Pada kompetisi itu, robot UGM berhasil menyelesaikan misi memadamkan api dalam waktu terbatas melalui berbagai rintangan dalam arena dengan tingkat eror yang kecil.

“Robot Al-Fatih berhasil mendapat poin tertinggi dengan tingkat eror sangat rendah dibanding peserta lainnya,” kata Adin Gumilang, programmer robot A-Fatih, Kamis (20/7/2017) saat berbincang dengan wartawan di Gedung Pusat UGM.

Robot pemadam api ini memiliki kemampuan mendeteksi api secara cepat. Bergerak cepat menuju titik api dan segera memadamkan api lalu berhasil kembali ke lokasi semula. Kemampuan tersebut berkat keandalan perancangan robot yang dikembangkan dengan dua sistem sensor, yakni sensor panas yang dapat mendeteksi keberadaan titik api dan sensor gerak yang dapat mendeteksi keberadaan rintangan di sekitar robot.

Selain berhasil meraih juara dari kategori KRPAI, robot UGM lain yaitu Al-Fan menyabet juara tiga di Kontes Robot Seni Tari Indonesia (KRTI). Pada kontes tersebut robot UGM harus menyelesaikan misi dapat menari dengan iringan lagu Gendhing Sriwijaya.

Sofyan Aji Nugraha, programer robot Al-Fan, menjelaskan dalam kompetisi ini setiap robot dituntut dapat menari saat lagu tengah diputar dan berhenti ketika lagu dihentikan. Robot Al-Fan berhasil menyelesaikan misi yang ditentukan oleh para juri. Dilengkapi dengan sensor suara yang andal menjadikan robot ini mampu menari layaknya penari sungguhan tatkala lagu diputar.

“Robot ini mempunyai 29 derajat kebebasan sehingga dapat menari dalam derajat tersebut dan memiliki 31 gerakan yang bisa dimainkan,”jelasnya.

 Manajer GMRT, Dr. Rachmat Sriwijaya menyampaikan dengan raihan dua juara tersebut menghantarkan UGM menjadi Juara Umum KRI 2017. Prestasi ini sukses diraih berkat kerja keras mahasiswa dan juga dukungan dari dosen pembimbing, fakultas serta universitas. (ika/humas-ugm/bpn: foto:firsto)


Pantau terus baliportalnews.com di :

UGM Juara 3 Kompetisi Pesawat Tanpa Awak Internasional

BALIPORTALNEWS.COM – Pesawat tanpa awak UGM sukses berlaga dalam ajang Unamenned Aerial Vehicle (UAV) Turkey Competition  2017 yang diselenggaarakan di Turkish Aircraft Industries Corporation (TUSAS) Kahramankazan, Ankara, Turki. Pesawat rakitan tim Gamaforce UGM berhasil menyabet juara tiga dalam kompetisi pesawat tanpa awak tersebut.

Kompetisi yang diadakan pada 13-16 Juli tersebut merupakan kontes pesawat tanpa awak yang diikuti oleh tim-tim tangguh dari berbagai negara di dunia. Setidaknya ada 400 tim yang mengikuti kompetisi ini dari berbagai penjuru dunia. Tim Gamaforce merupakan satu-satunya tim dari Indonesia yang sukses melenggang hingga tahap akhir yang berkesempatan menunjukkan kehandalan pesawat rakitannya secara langsung di Turki berkompetisi dengan 96 tim lainnya.

Pesawat tanpa awak buatan tim Gamaforce UGM ini diberinama Rasayana. Dalam kontes ini, Rasayana bertanding dalam kategori fixed wing.

“Alhamdulillah setelah perjuangan panjang kami bisa mempersembahkan juara 3 dalam kontes robot internasional ini. Bangga bisa mengharumnkan UGM dan Indonesia di kancah internasional,” tutur Ketua umum Tim Gamaforce UGM, Rifyal Garda saat dihubungi, Selasa (18/7/2017) baru saja mendarat di Jakarta.

Pesawat Rasayana memiliki kemampuan jelajah yang luas hingga 100 kilometer dan mempunyai kekuatan terbang sampai 10 menit di udara. Terbang dengan kendali jarak jauh menggunakan remot kontrol. Dilengkapi pula dengan GPS dan mampu memberikan citra dari suatu matrik warna.

Dosen pembimbing Gamaforce Dr. Gesang Nugroho mengatakan bahwa prestasi yang diperoleh tim Gamaforce UGM tidaklah datang dengan sendirinya. Capaian ini berhasil diraih dengan perjuangan, kerja keras, dan dukungan dari berbagai pihak.

“Terima kasih atas dukungan dan doa untuk tim Gamaforce UGM. Terus berkarya, jayalah UGM, jayalah Indonesia,” tuturnya. (ika/humas-ugm/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Solahen, Solusi Listrik Daerah Terpencil Karya Mahasiswa Unpad

BALIPORTALNEWS.COM- Hampir 72 tahun Indonesia merdeka, masih banyak daerah-daerah yang belum terjangkau aliran listrik. Sulitnya akses dan kontur wilayah rata-rata menjadi penyebab mengapa pasokan listrik belum merata di Indonesia. Padahal, listrik menjadi kebutuhan dasar masyarakat dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Kondisi ini menggugah sekelompok mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran. Mereka mengembangkan sistem pasokan listrik mandiri dan sederhana dengan menggunakan solar panel sebagai sumber energinya. Sistem pembangkit listrik rumahan sederhana ini diberi nama “Solahen” (Solusi Lampu Hemat Energi).

Adalah Andika Lipo Sumatara, Ronaldo Hadyanto Manik, Fadhulloh Nugraha Setiawan, dan Rhesa Setyo Santoso, sang pengembang ide Solahen. Lipo, penggagas ide ini mengatakan, produk Solahen dibuat sesederhana mungkin agar dapat diaplikasikan langsung ke masyarakat, terutama di wilayah terpencil.

Ditemui Humas Unpad, Jumat (14/07) lalu, Lipo menjelaskan, ide Solahen berawal dari pengalamannya saat mengikuti KKNM Unpad di Desa Mekarjaya, Kecamatan Mande, Cianjur, 2014 silam. Di desa tersebut, ada satu dusun dengan 66 kepala keluarga belum mendapatkan aliran listrik.

Sepulangnya dari KKN, Lipo kemudian berpikir solusi apa yang bisa dikembangkan agar masyarakat di daerah terpencil dapat mendapatkan listrik. Setelah beberapa kali pengembangan, Lipo kemudian menggunakan solar panel dan aki sebagai sumber energi untuk menghasilkan listrik di rumah.

Secara teknis, Solahen memanfaatkan energi matahari untuk dikonversi ke dalam solar panel. Energi kemudian disimpan dalam aki dan dialirkan ke dalam lampu-lampu rumah. Sistem dibuat sederhana agar masyarakat dapat melakukan instalasi dengan mudah, bahkan dapat dilakukan oleh kelompok usia apa saja.

Diakui Lipo, pengembangan Solahen diambil dari komponen yang banyak di pasaran. Meski minim inovasi produk, ia lebih mengutamakan komponen banyak di pasaran agar lebih mudah diinstalasi.

Harga satu set Solahen cukup menghabiskan biaya 2 juta rupiah. Khusus, untuk program penjangkauan ke masyarakat terpencil, Lipo dan rekannya menggratiskan seluruh biaya pengadaan alat dan pemasangan instalasi. “Kita memang targetkan masyarakat mendapat produk ini dengan gratis,” ujar Lipo.

Produk ini kemudian dikembangkan lebih luas dengan nama “Indonesia Terang” sejak 2015. Berbeda dengan program Indonesia Terang milik pemerintah, program milik Lipo dan kawan-kawan sudah jauh diaplikasikan di masyarakat sejak 2014. Sampai saat ini sudah banyak wilayah yang dibantu oleh Lipo. Mulai dari pelosok Sumatera Barat, Riau, Maluku, Papua Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, hingga Kalimantan Timur.

Saat ini, Lipo tengah menjalankan pemasangan Solahen di lima desa di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Sebanyak 218 unit rumah di 5 Desa tersebut dipasangkan Solahen. Lipo menjelaskan, biaya instalasi Solahen di 5 desa tersebut murni mengandalkan anggaran dana desa (ADD).

Di lima desa tersebut, Solahen dipasangkan terdiri atas tiga unit, berkekuatan 20 watt pico (wp), 50 wp, dan 100 wp. Untuk solar panel berkekuatan 50 wp dan 100 wp, daya listrik yang dihasilkan bisa untuk konsumsi televisi.

Tidak mudah untuk memasangkan Solahen di lima desa tersebut. Lipo bercerita, lima desa tersebut berada jauh di tengah hutan perbatasan Indonesia-Malaysia, dengan menyusuri jalan setapak terjal. Di beberapa lokasi, perjalanan harus ditempuh dengan menyusuri sungai menggunakan perahu warga.

Meski sangat sulit, perjuangan mereka berbuah kebahagiaan warga. Segenap warga desa akhirnya bisa merasakan terangnya lampu di dalam rumah. Kondisi yang selama ini masih menjadi mimpi bertahun-tahun bagi warga.

Aksi ini merupakan upaya yang diwujudkan Lipo dan kawan-kawan dalam memberikan solusi ketersediaan listrik di wilayah terpencil. Dibandingkan aksi kritik ke pemerintah melalui demo-demo jalanan, Lipo lebih memilih melakukan kerja nyata dengan cara memberikan Solahen gratis kepada masyarakat terpencil.

Target Solahen sederhana, dapat menjangkau wilayah-wilayah yang belum teraliri listrik. Untuk itu, Lipo dan tim berusaha untuk mendapatkan hibah atau dana Corporate Social Responsibility (CSR) untuk melanjutkan program Solahen ke wilayah-wilayah selanjutnya. Selama ini, mereka hanya mengandalkan dana-dana anggaran desa.

Saat ini pihaknya tengah mengejar untuk mendapatkan hibah program sosial dari Kedutaan Besar Australia. Jika berhasil, hibah tersebut akan digunakan untuk pemasangan Solahen bagi 66 kepala keluarga di Desa Mekarjaya, lokasi yang pernah ditempatinya selama KKNM.

Lebih lanjut mahasiswa tingkat akhir tersebut menjelaskan, dana yang didapat oleh tim bukan hanya sekadar dikeluarkan untuk program instalasi saja. Tetapi, ada sebagian dana yang dimasukkan ke dalam kas sebagai modal untuk pemasangan di wilayah selanjutnya.

Mereka pun mengaku, ilmu yang didapat di prodi Manajemen FEB Unpad sangat bermanfaat bagi pengelolaan proyek mereka. Mereka pun berharap, program Solahen ini dapat terus dijalankan dan diregenerasikan kepada adik kelas mereka.

Lipo pun berharap, banyak pihak dapat mendukung program Solahen. Ia menilai, program ini setidaknya berkontribusi dalam mewujudkan pemerataan listrik di Indonesia. Menjelang 72 tahun merdeka, masyarakat Indonesia seharusnya sudah tidak ada lagi yang berharap takpasti kapan nyala terang lampu listrik bisa hadir di tengah mereka. (humas-unpad/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

ARBAIN, Robot Monitoring Tanaman Jagung Karya Mahasiswa UGM

BALIPORTALNEWS.COM – Mahasiswa UGM tidakpernah berhenti berinovasi. Kali ini sejumlah mahasiswanya berhasil mengembangkan inovasi dibidang teknologi pertanian dengan mengembangkan robot yang memudahkan petani dalam merawat dan memelihara tanaman jagungnya.

Robot yang diberinama ARBAIN (A robot of corn farming) ini dikembangkan oleh Yarabisa Yanuar (FT), Kevin Mahardika Y (FT), Ilham Nur Ahmad (FMIPA), Noviana Nur Sari (Fakultas Biologi), dan Qurrota A’yun (FK). Robot ini dirancang untuk membantu petani dalam melakukan perawatan, mendeteksi gejala penyakit, monitoring kondisi tanaman, serta pemeliharaan tanaman.

“Robot ini dapat membantu dalam pemeliharaan jagung menjadi lebih efektif dan efisien sehingga dapat membantu petani dalam meningkatkan produktivitas jagung,” terang Yanuar, Kamis (13/7/2017) di Kampus UGM.

Pengembangan robot ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas tanaman pangan, termasuk tanaman jagung dalam mewujudkan swasembada pangan Indonesia. Seperti diketahui angka impor jagung masih cukup tinggi dan terus meningkat setiap tahunnya. Salah satu penyebab tingginya angka impor dikarenakan serangan hama dan penyakit tanaman. Penyakit yang paling banyak menimbulkan kerusakan pada tanaman jagung adalah penyakit bulai yang disebabkan adanya cendawanPeronosclerospora sp.

“Penyakit bulai ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan puso. Karenanya kami berinovasi merancang robot sederhana multitalenta yang mengadopsi tugas dan fungsi robot ladybird,” paparnya.

Yanuar menyampaikan robot ladybird dikembangkan dengan menggunakan tenaga surya dan telah sukses diujicobakan di perkebunan sayur Australia. Namun robot canggih ini belum dapat diaplikasikan di Indonesia karena harga yang cukup maha lmencapai milyaran rupiah. Selain itu, luas perkebunan sayur di Indonesia tergolong sempit sehingga kurang efisien jika menggunakan mesin yang terlalu besar.

Merekapun mengembangkan robot dengan desain minimalis sesuai dengan jarak tanam tanaman jagung pada umumnya, yaitu 20 x 65 cm­2 sehingga tidak akan merusak tatanan tanaman. Sensor SRF akan mendeteksi posisi dari setiap tanaman jagung dan mengukur ketinggiannya.  Robot dirancang dengan sistem autonomous sehingga dapat secara otomatis bekerja dengan kendali jarak jauh.

Robot ini juga memiliki kemampuan dalam mendeteksi tanaman jagung dari penyakit bulai. Penyakit ini memiliki ciri fisik berupa warna daun kuning dan ukuran kerdil. Sensor warna yang dipasang pada robot akan mendeteksi dengan cepat jika terdapat penampakan tersebut pada tanaman jagung.

“Apabila suatu tanaman teridentifikasi penyakit bulai maka robot akan menyemprotkan pesitisida di sekitar tanaman yang terinfeksi untuk mencegah penyebaran penyakit melalui jamur,” jelasnya.

Ilham menambahkan robot ini juga dilengkapi sensor yang dapat mendeteksi kelembaban tanah. Data kelembaban tersebut nantinya dikirm melalaui SMS sebagai petunjuk bagi petani untuk segera melakukan penyiraman sesuai kapasitas lapang tanah dan kebutuhan tanaman jagung.

“Jadi petani tidak harus datang ke ladang untuk memantau kondisi tanah,” terangnya.

ARBAIN juga terkoneksi dengan pompa air sehingga dapat menyalakan pompa secara otomatis jika kelembaban tanah menurun. Sementara untuk tenaga penggerak menggunakan motor listrik dengan sumber energi cahaya matahari sehingga hemat energi danramah lingkungan.

Robot yang dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahaiswa UGM 2017 dibawah bimbingan Dr. Eng. Herianto, S.T., M.Eng., ini tidak hanya dapat digunakan untuk memantau wilayah pertanian terutama lahan tanaman jagung dan mencegah penyebaran bulai saja. Robot ini juga dapat digunakan untuk mengetahui kebakaran hutan dengan akurat.

“Dengan robot ini diharapkan dapat mempermudah petani dalam melakukan perawatan, monitoring, dan mendeteksi penyakit tanaman jagung sehingga dapat meningkatkan produktivitas petani dalam upaya mendukung ketahanan pangan nasional,”pungkasnya. (ika/humas-ugm/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Mahasiswa UGM Kembangkan Lampu Tanpa Listrik dari Kaleng Bekas

BALIPORTALNEWS.COM – Empat mahasiswa Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta berhasil mengembangkan lampu ramah lingkungan. Lampu tersebut dibuat dengan memanfaatkan kaleng bekas dan cahaya matahari sebagai sumber cahaya.

Mereka adalah Aditya Ramdhona, Anggraini Puspitasari, Nesditira Sunu S dan Satrio Bayu Aji yang berhasil mengembangkan lampu tanpa listrik yang diberinama Slocan (Solar in a Can).

Inovasi ini bermula dari keprihatinan mereka terhadap banyaknya sampah kaleng, bahkan cukup melimpah di Indonesia. Kondisi ini mendorong keempatnya mencari solusi untuk memanfaatkan limbah kaleng bekas menjadi barang yang bernilai guna.

Sementara disisi lain mereka juga melihat konsumsi listrik khususnya penggunaan lampu yang cukup banyak di siang hari. Padahal, potensi sinar matahari di luar ruangan jumlahnya tak terbatas. Berangkat dari kondisi ini mereka mengembangkan Slocan yang berhasil mendapatkan dana hibah dari Dirjen DIKTI melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun 2017.

“Masih banyak terjadi pemborosan energi dengan penggunaan lampu disiang hari baik di perkantoran maupun rumah. Sementara potensi sinar matahari di luar ruangan jumlahnya tidak terbatas” ungkap Aditya Ramdhona, Ketua Tim PKM Solacan.

Aditya menyampaikan kondisi ini banyak terjadi akibat akses cahaya matahari masuk ke dalam ruangan sangat terbatas. Dengan begitu ruang akan menjadi gelap apabila lampu tidak dihidupkan meskipun pada siang hari.

“Solacan ini hadir untuk mengatasi persoalan tersebut,” jelasnya.

Cara kerja alat ini cukup sederhana. Kaleng bekas digunakan untuk meneruskan cahaya matahari yang berada di luar ruang agar bisa masuk ke dalam ruangan.  Pertama, cahaya dikumpulkan oleh light collector yang berbentuk cembung. Kemudian, cahaya tersebut diteruskan ke tabung dan dipantulkan sehingga menuju ujung Solacan dan light diffuser akan menyebarkan cahaya ke seluruh ruangan.

“Prinsip kerjanya dengan pemantulan cahaya,” ungkapnya.

Sunu menambahkan bahwa lampu tanpa listrik ini tidak hanya mampu menghemat penggunaan energi listrik. Namun, dengan pencahayaan alami  melalui Solacan juga dapat menimbulkan efek fisiologis yang positif untuk kesehatan manusia.

“Selain itu juga dapat mengurangi pencemaran lingkungan,” jelasnya“.

Tidak hanya itu, pemanfaatan kaleng bekas menjadi Solacan ini juga dapat meningkatkan nilai ekonomis limbah kaleng bekas. Poduk ini dapat dikembangkan secara massal oleh masyarakat termasuk pemulung sehingga dapat meningkatkan pendapatan keluarga. Mereka pun berharap Solacan ini dapat dimanfaatkan secara luas untuk kepentingan masyarakat Indonesia. (ika/humas-ugm/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

Raih Doktor Usai Kembangkan Sistem Pelacakan Posisi Sumber Sinyal Radio

BALIPORTALNEWS.COM – Teknologi komunikasi dua arah menggunakan gelombang elektromagnetik berkembang begitu pesat  dalam kehidupan masyarakat. Kendati begitu, komunikasi ini masih bisa mengalami gangguan jika terdapat pemancar lain yang memancarkan dengan frekuensi yang sama. Kondisi ini seringkali mengakibatkan komunikasi menjadi macet karena frekuensi yang padat.

“Radio Direction Finder konvensional yang biasa digunakan untuk mencari pemancar penganggu masih dilakukan secara mobilitas direct sehingga harus melakukan swap berkali-kali sampai menemukan posisi sumber sinyal yang dicari,” papar Samuel Kritiyana, S.T., M.T., saat ujian  terbuka program doktor Program Pascasarjana Departemen Teknik elektro dan Teknologi Informasi FT UGM, Kamis (6/7/2017).

Melakukan penelitian pelacakan posisi sumber sinyal frekuensi radio berbasis efek doppler dan metode multi-triangulasi, Samuel berupaya menemukan sistem pelacak sumber sinyal tanpa melakukan mobilitas. Menggunakan metode pelacakan sumber sinyal dengan pengembangan efek doppler yang diterapkan pada lebih dari tiga stasiun pemantau tidak bergerak yang telah ditentukan posisi koordinatnya.

Hasilnya berupa visualisasi titik koordinat posisi sumber sinyal frekuensi radio yang dicari dengan akurasi ketelitian sudut seperseratus derajat. Hasil ini diperoleh dari perpotongan tiga garis arah datangnya sinyal frekuensi terhadap tiga stasiun pemantau tidak bergerak.

Sementara pengolahan data dengan metode multi-triangulasi menghasilkan prediksi titik posisi koordinat dari sinyal pemancar dan visualisasi pada peta digital. Sedangkan ketelitian sudut yang dihasilkan meningkat dari 22,5 derajat menjadi seperseratus (0,01) derajat.

Selanjutnya hasil pengujian dalam penentuan koordinat bumi memakai pelacakan sinyal dengan dua stasiun mempunyai kesalahan sampai 83,20 meter, sedangkan untuk tiga stasiun memiliki kesalahan sampai 14,60 meter. Pada metode multi-triangulasi lim astasiun pemantau mempunyai kesalahan rata-rata sampai 6,63 meter dengan jarak maksiumum posisi sumber sinyal frekuensi radio yang dicari dari titik stasiun pemantau tidka bergerak adalah 50 kilometer. (ika/humas-ugm /bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :

SOSIAL MEDIA BALI PORTAL NEWS

757FansSuka
5PengikutMengikuti
485PengikutMengikuti
3,369PengikutMengikuti
71PengikutMengikuti
14PelangganBerlangganan