
BALIPORTALNEWS.COM, BULELENG – Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, menjadi contoh nyata bagaimana pengelolaan sampah berbasis sumber dapat berjalan efektif. Sejak 2023, desa ini berhasil menekan jumlah sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hingga 60–70 persen berkat dukungan masyarakat, sistem tata kelola yang disiplin, serta bantuan dari program BRI Peduli.
Kepala Desa Baktiseraga, Gusti Putu Armada, menyampaikan rasa syukurnya atas dukungan BRI yang telah menyalurkan berbagai bantuan untuk mendukung operasional Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) di desanya.
“Kami mengucapkan terima kasih pada CSR BRI karena sangat membantu kami dalam tata kelola sampah. Kini kami memiliki sistem pengelolaan sampah berbasis sumber, mulai dari pengangkutan hingga pemrosesan di TPS3R,” ujarnya.
Melalui program BRI Peduli, Desa Baktiseraga mendapatkan satu unit mobil pick up pengangkut sampah, satu unit mesin pencacah kotoran hewan (kohe), serta dua paket alat selam untuk mendukung konservasi terumbu karang.
Mobil pick up sangat membantu pengangkutan sampah rumah tangga menuju TPS3R. Armada menuturkan, sebelumnya setiap hari terdapat 2–3 truk sampah campuran yang harus diangkut DLHK ke TPA. Namun setelah sistem berjalan baik, volume sampah yang dikirim ke TPA berkurang menjadi hanya 1 truk per hari.
Di TPS3R Baktiseraga, sampah dipilah menjadi empat jenis:
- Sampah dapur, daun, dan ranting → diolah menjadi pupuk kompos dengan sistem osaki (proses 3 bulan).
- Plastik → dikirim ke bank sampah untuk dijual ke pihak ketiga.
- Kohe dari peternakan kambing → diproses menggunakan mesin pencacah untuk dijadikan pupuk.
- Residu → dibuang ke TPA.
Pupuk kompos hasil olahan TPS3R bahkan laris manis di kalangan petani durian, perkebunan, dan hortikultura. “Karena kualitas pupuk kami bagus, sampai hari ini penjualannya indent. Jarang ada stok, karena banyak yang order,” ungkap Armada.
Untuk memperkuat aturan, desa juga menerapkan kebijakan disiplin. “Masyarakat harus terbiasa memilah sampah dari rumah. Kalau tidak memilah, kami tidak akan mengangkut sampahnya,” tegasnya.
Selain mendukung pengelolaan sampah, BRI juga membantu kegiatan underwater clean up dengan menyediakan alat selam. Hal ini penting mengingat Desa Baktiseraga berbatasan dengan pesisir sehingga turut aktif dalam konservasi terumbu karang, lamun, dan ekosistem laut lainnya.
Keberhasilan ini mengantarkan Desa Baktiseraga meraih berbagai penghargaan bergengsi, antara lain:
- Trophy ProKlim Utama 2023 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, sebagai satu-satunya desa/lokasi ProKlim di Bali yang meraih penghargaan tersebut.
- Penghargaan Bakti Pertiwi Nugraha tingkat Provinsi Bali sebagai salah satu dari 4 desa terbaik dalam tata kelola sampah berbasis sumber.
- Top 99 Inovasi Pelayanan Publik Nasional.
Regional CEO BRI Region 17/Denpasar, Hery Noercahya, menegaskan bahwa BRI akan terus berkontribusi nyata untuk lingkungan dan masyarakat.
“Dukungan kami terhadap Desa Baktiseraga merupakan wujud kepedulian BRI dalam mendukung pengelolaan sampah terpadu, sekaligus mendorong terwujudnya lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. Melalui bantuan sarana berupa mobil pengangkut sampah, mesin pencacah, dan lainnya, kami berharap operasional TPS3R dapat berjalan lebih optimal serta memberi manfaat langsung bagi masyarakat sekitar,” ujarnya.
Dengan tata kelola sampah yang semakin baik, Desa Baktiseraga kini bukan hanya menjadi lebih bersih dan sehat, tetapi juga berhasil mencetak prestasi hingga tingkat nasional.(*/bpn)












