bola vian
Aktivitas olahraga anak-anak. Sumber Foto : ads/bpn

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Pandemi Covid-19 telah mengajarkan kita semua untuk lebih aware terhadap upaya menjaga kesehatan. Sektor kesehatan menjadi indikator penting dalam menjaga kondusifitas dan stabilitas kelangsungan hidup manusia. Terlebih di masa peralihan musim (pancaroba) saat ini, kesehatan harus tetap terjaga untuk mempercepat pemulihan pasca pandemi.

Untuk itu, masyarakat diimbau senantiasa menjaga kesehatan dengan menerapkan pola hidup sehat dan seimbang. Jangan sampai hal itu menjadi momok baru, yang kembali dapat melemahkan kondisi masyarakat pasca pandemi.

Kepala Instalasi Gizi RSUD Wangaya, Nyoman Juniasti, S.ST., menyampaikan, masa pancaroba memang menjadi masa pergolakan bagi faktor kesehatan masyarakat. Sebab di masa itu sangat rentan munculnya penyakit yang berkaitan dengan cuaca, seperti demam, radang, batuk, pilek, dan sebagainya. Hal itu tentu dapat menganggu kondisi maayarakat dalam melaksanakan kegiatannya sehari-hari. Untuk itu diperlukan kedisipinan dan kebudayan menjaga pola hidup sehat dan seimbang, demi menghindarkan masyarakat terhadap potensi ganggua kesehatan.

“Sebenarnya banyak tips yang dapat dilakukan, tapi memang itu tidak semudah membalikan telapak tangan. Diperlukan komitmen dan pola kebiasaan yang teratur dan seimbang, untuk menjaga kesehatan,” ucapnya.

Memperhatikan kondisi daya tahan tubuh selama masa pancaroba sangat diperlukan, salah satunya melalui menjaga pola aktivitas dan asupan makanan yang seimbang. Karena itu ia membagikan sejumlah tips yang diharapkan dapat membantu masyarakat dalam menjaga kesehatan. Pertama, memanjatkan rasa syukur kepada Tuhan, atas berkat rahmat yang dianugerahkan hingga bisa menikmati kesehatan sampai saat ini (positif mental attitude).

Kedua, mengkonsumsi makanan gisi seimbang. Baik dari segi kandungan nutrisi, sumber karbohidrat, protein nabati dan hewani, vitamin, dan air mineral. Hal itu tentunya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Sebab kebutuhan individu satu sama lainnya itu berbeda, berdasarkan kondisi tinggi dan berat badan.

Baca Juga :  Sinergitas AMSI dan Dekranasda, dalam Rangka Pengembangan Sektor UMKM di Provinsi Bali

“Sebenarnya kandungan vitamin dari makanan sudah cukup memenuhi kebutuhan tubuh. Tapi jika aktivitasnya sangat padat dan memerlukan suplemen, itu bisa ditambah dengan vitamin C. Jadi itu untuk menangkal pengaruh radikal bebas diluar,”sebutnya.

Ketiga, istirahat yang cukup. Kualitas istirahat yang berkualitas sangat berpengaruh terhadap kondisi kebugaran tubuh dan metabolisme tubuh. Keempat, pola olahraga teratur yang menyesuaikan dengan kondisi dan umur.

Pada dasarnya manusia memerlukan aktivitas menggerakkan tubuh dengan berolahraga, minimal 30 menit sekali. Intensitas olahraga itu dapat disesuaikan dengan rutinitas masing-masing, minimal dapat dilaksanakan 3 kali dalam seminggu.

“Tekadang berolahraga ini sulit dilakukan karena faktor malas. Tapi itu harus dilawan dan jangan dituruti, sebab itu akan menjadi kebiasaan lama-lama menjadi kebudayaan,” imbaunya.

Pada dasarnya, unsur di dalam tubuh manusia didominasi oleh air. Karena itu air putih sangat dibutuhkan dalam menjaga kesehatan. Air memiliki sejumlah manfaat bagi tubuh manusia, seperti untuk melarutkam zat kimia dalam tubuh, membantu metabolisme pencernan tubuh, maupun membantu regenarasi sel-sel tubuh.

Kekurangan mengkonsumsi air sangat berbahaya dampaknya bagi manusia, karena dapat menimbulkan dehidrasi, lemas, sulit berkonsentrasi, dan menganggu metabolisme maupun kinerja organ tubuh. Mengkonsumi air putih penting dilakukan mulai dari bangun tidur, denga takaran minimal 1 sampai 2 gelas.

Mengkonsumsi air putih juga tidak bisa dilakukan sembarangan. Jika itu dilakukan berlebihan, maka dapat menganggu kerja organ tubuh. Adapun takaran ideal mengkonsumsi air putih yaitu 30-40 cc per Kg berat badan. Jika diasumsikan, kondisi berat badan 50 kg memerlukan 30 cc liter perhari, yaitu sekitar 1,5 liter. Namun hal itu kembali lagi tergantung kegiatan yang dilakukan setiap individu. Jika aktivitas yang dilakukan sangat padat, konsumsi air dapat ditabah secukupnya. Apabila hal itu dirasa masih membingungkan, diimbau agar itu dapat dikonsultsikan kepada ahli gizi.

Baca Juga :  Percepatan Vaksinasi Booster Bagi Masyarakat Badung, Sekda Adi Arnawa Pimpin Rapat Satgas Covid-19

Kebutuhan akan konsumsi air pada dasarnya bukan hanya pada remaja atau orang dewasa. Sebab bayi dan anak-anak juga memerlukan hal yang sama, dengan takara proporsi seimbang. Seperti untuk bayi dibawah umur 6 bulan diperlukan pemberian asi ekslusif atau formula pengganti asi.

Kemudian anak berumur 6 sampai 12 bulan perlu mengonsusi air antara setengah gelas sampai 1 gelas, atau antara 120 sampai 140 cc. Namun hal itu harus diberikan secara perlahan dan biasanya diakukan pada saat pemberian makanan pendamping asi (MP-ASI). Sementara untuk anak berusia 12 bulan sampai 2 tahun diperluka mengkonsumsi air sekitar 1 sampai 14 gelas.

“Air yang berkualitas biasanya dapat dilihat dari kadar PH yaitu 7 ph. Kondisinya netral, yaitu tidak asam dan basah. Kemudian tidak berwarna, tidak berbau, dan jernih,” pungkasnya.

Pentingnya asupan air bagi tubuh manusia juga diungkapkan oleh Ketua Departemen Ilmu Gizi FKUI, Dr. Nurul Ratna, M. Gizi,SpGK. Dalam paparannya yang bertema Hidrasi Sehat Bagi Keluarga, air sangat vital bagi tubuh manusia. Tanpa kecukupan air yang berkualitas, maka organ tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik. Namun sayangnya tidak semua orang menyadari pentingnya fungsi air dalam tubuh, sehingga sering diabaikan.

“Penelitian menunjukkan bahwa 1 dari 5 anak-anak dan remaja belum cukup minum, dan juga 1 dari 4 orang dewasa belum cukup minum. Padahal setidaknya kita dianjurkan untuk minum minimal 2 liter per hari untuk orang dewasa dan 1,2 liter perhari untuk anak-anak,” ungkapnya.

Baca Juga :  Kasus Positif Covid-19 di Kota Denpasar Melejit di Angka 5 Orang, Persentase Kesembuhan Capai 97,83 Persen

Selain dari kuantitas, kualitas air yang diminum juga perlu diperhatikan. Yaitu tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa dan tidak mengandung zat-zat berbahaya. Sumber air yang diminum juga perlu dipastikan, demi memastikan kualitas air itu sendiri. Terlepas dari permasalahan kesehatan dan nutrisi, saat ini masyarakat juga masih dibayangi akan tantangan kesehatan masyarakat pasca pandemi.

Sementara, Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (The Indonesian Public Health Associationl, Dr. CSP Wekadigunawan, MPH, Ph.D., lebih menyoroti faktor kesehatan masyarat ditengah Masa Endemi Covid-19. Menurutnya, Pandemi Covid-19 telah membukakan mata dan kesadaran banyak pihak tentang bagaimana esensi kesehatan berperan penting bagi masyarakat.

Terlepas dari permasalahan Covid-19, Indonesia juga menghadapi berbagai permasalahan kesehatan baik masalah kesehatan yang menular dan tidak menular, yang disebabkan oleh faktor lingkungan, gizi dan nutrisi dan berbagai faktor lainnya.

“Jadi, mitigasi dan pencegahan sangat diperlukan sebagai bentuk kesiapan akan terjadinya permasalahan kesehatan lainnya. Hal ini seperti yang tergambar dalam pendekatan One Health, yang melibatkan multistakeholders baik dari sisi pakar/ahli, pemerintah, industri maupun masyarakat. Contoh aksi konkrit yang bisa dilakukan seperti pemahaman dan akan penerapan gaya hidup sehat dan berkelanjutan,”ucap Wekadigunawan.

Melalui program Cyber Media Forum, Arif Mujahidin selaku Corporate Communication Director Danone Indonesia mengharapkan agar masyarakat dapat lebih memahami materi isu kesehatan dasar yang diberikan oleh pakar atau sumber yang kompeten. Hal itu untuk memperluas perspektif jurnalis dalam melakukan liputan dan juga saat penulisan. Salah satunya untuk membangun kesadaran masyarakat dalam penerapan pola hidup sehat di masa adaptasi new normal seperti saat ini. (ads/bpn)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini