Kasus Stunting di Klungkung
Komitmen Turunkan Angka Stunting, Bupati Suwirta Bentuk Tim Percepatan Penangan Penurunan Stunting. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, KLUNGKUNG – Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta menghadiri rapat Pembentukan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) di Ruang Rapat Widya Mandala Kantor Bupati Klungkung, Jumat (8/4/2022).

Turut hadir, Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Klungkung, Ny. Ayu Suwirta, Kadis Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPMDPPKB) Klungkung, I Wayan Suteja, Kadis Kesehatan Kabupaten Klungkung, dr. Made Adi Swapatni dan OPD terkait lainnya.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan, angka stunting di Kabupaten Klungkung tahun 2021 tercatat sebanyak 653 orang atau 6,20 persen. “Ini tersebar diseluruh wilayah puskesmas yang ada di Kabupaten Klungkung. Tertinggi ada diwilayah kerja Puskesmas 1 Nusa Penida sebanyak 266 kemudian wilayah kerja Puskesmas Klungkung 1 sebanyak 93 dan wilayah kerja Puskesmas 3 Nusa Penida 92 sedangkan yang lainnya ada yang 50 orang dan seterusnya,” ujar Kadis Kesehatan Kabupaten Klungkung, dr. Made Adi Swapatni.

Dirinya juga menyampaikan dari jumlah balita stunting yang ada sebanyak 249 orang dari status sosialnya merupakan keluarga miskin dan 153 orang yang belum memiliki Jaminan Kesehatan Nasional serta dari total jumlah data stunting 504 orang dimasukan dalam data stunting permanen dari evaluasi sampai umur 2 tahun.

Baca Juga :  Serahkan Sarana Olahraga, Bupati Suwirta Semangati Para Atlet

Bupati Suwirta dalam arahanya meminta kepada semua tim untuk berkomitmen menuntaskan penurun stunting di Kabupaten Klungkung. Terkait daya yang disampaikan Kadis Kesehatan, Bupati Suwirta meminta untuk memisahkan data ini dengan sebaik-baiknya, dan lebih lanjut dirinya menugaskan yowana gema santi dan puskesmas setempat untuk melakukan input data.

Di Dinas Pendidikan, Bupati Suwirta meminta kepada semua guru agar mengisi dengan pendidikan karakter, dengan langkah edukasi. Selain itu, pemahaman terhadap pasangan yang sudah menikah perlu juga diedukasi.

“Keterbatasan pemahaman dapat berupa minimnya pengetahuan mengenai ibu hamil, asupan gizi, hingga kecukupan nutrisi usai melahirkan. Maka dari itu, hal ini sangat penting dipahami sejak dini sehingga bisa mencegah terjadinya standing pada balita,” ujar Bupati Suwirta.(bpn)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini