Perokok
Sekertaris Perhimpunan Ahli Epidemiologi Bali, dr. I Wayan Gede Hartawan Sedang Memberikan Keterangan Pers. Sumber Foto : aar/bpn

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Rokok serta paparan asap yang diciptakannya, sudah sangat lama diketahui dapat menimbulkan masalah kesehatan bagi tubuh manusia. Di Indonesia sendiri, kepopuleran rokok telah menjadi gaya hidup bagi semua kalangan masyarakat.

Betapa tidak, Indonesia merupakan Negara dengan jumlah perokok tertinggi ketiga di dunia. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan RI tahun 2018, prevalensi perokok usia 10–18 tahun di Indonesia menunjukan peningkatan dari 7,2% pada tahun 2013 menjadi sebesar 9,1% pada tahun 2018. Sedangkan perkokok dewasa laki–laki, mencapai 64,9% dan wanita sebesar 2,1.

Dari data tersebut juga menunjukan bahwa sebesar 18,9% penduduk di Provinsi Bali adalah perokok aktif, sehingga dapat dikatakan jumlah perokodi Indonesia adalah sebesar 28,8% dari total jumlah penduduknya.

Baca Juga :  Cegah Klaster Keluarga, RS Diminta Perketat Prosedur Besuk Pasien

Namun, di sisi lain ada fakta menarik dari perokok yang baru–baru ini diketahui, dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Seperti yang dilansir dari laman Badan Kesehatan Dunia (WHO), mengatakan bahwa perokok aktif lebih rentan tertular Covid–19 yang diakibatkan oleh virus strain SARS–CoV2.

Hal ini di indikasi adanya gerakan dari para perokok saat merokok, cenderung menunjukan adanya kontak fisik langsung, antara jari-jari tangan dengan bibir dari perokok tersebut, sehingga hal ini meningkatkan kemungkinan transmisi virus dari tangan ke mulut.

Selain itu, beberapa perokok juga diindikasi sudah memiliki penyakit paru–paru, atau kapasistas paru yang berkurang, yang dalam hal ini para perokok cenderung memiliki resiko penyakit serius yang dapat mengarah pada kematian apabila terpapar virus corona tersebut.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here