Bali Safari Park
Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, GIANYAR – Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) RI, Alue Dohong mengunjungi Bali Safari Park, Sabtu (24/10/2020), dalam rangka kunjungan kerja sekaligus memberi nama bayi buaya Sinyulong yang menetas di Bali Safari Park.

Kedatangan Wamen LHK dan rombongan disambut oleh Direktur sekaligus pemilik Taman Safari Indonesia (TSI) Group, Jansen Manansang beserta Deputy Director TSI Group, Willem Manansang.

Buaya Sinyulong atau Tomistoma Schlegelii merupakan keluarga buaya air tawar yang tersebar di Indonesia, Brunei dan Malaysia. Buaya Sinyulong ini dikategorikan rentan atau vulnerable dalam daftar merah IUCN (International Union for Conservation of Nature) karena populasinya kurang dari 2.500 individu dan terus menyusut secara global. Tidak banyak lembaga konservasi yang mengembangbiakan jenis buaya ini.

Bali Safari Park berhasil melakukan pengembangbiakan (breeding) dengan menghasilkan 24 telur buaya Sinyulong. Segenap tim medis dan perawat satwa pun merawat dan menjaga telur-telur tersebut. Setelah melewati 100 hari masa pengeraman, tepatnya Januari 2020 lalu, 22 telur buaya Sinyulong berhasil menetas. Salah satu bayi Sinyulong yang berhasil menetas tersebut akan diberi nama oleh Wamen Alue Dohong.

Baca Juga :  Cek Proyek Bersama Forkopimda, Mahayastra: “Semua Sesuai Target”

Nama yang diberikan untuk bayi buaya tersebut adalah Aldo Crocodilus. “Karena nama saya dan nama anak saya juga Aldo. Kami senang sekali mendengar prestasi Bali Safari yang berhasil mengembangbiakan buaya Sinyulong ini,” ujar Alue Dohong.

Pemberian nama itu disambut baik oleh pihak Bali Safari Park. “Kami merasa terhormat dengan kesediaan Bapak Wamen Alue Dohong yang telah memberi nama bayi Sinyulong. Ini adalah penghargaan tak ternilai bagi kegiatan konservasi yang telah dilakukan oleh seluruh unit TSI Group, termasuk Bali Safari Park. Kami akan terus menyelamatkan satwa-satwa langka dan terancam punah,” tutur Jansen Manansang, Direktur Taman Safari Indonesia Group.

“Sejak berdiri, kami konsen dalam konservasi satwa, terutama satwa-satwa endemik Indonesia yang terancam punah,” jelas Willem Manansang, Deputy Director Taman Safari Indonesia Group.

Perawatan anakan buaya Sinyulong dilakukan dengan cara menempatkan masing-masing anakan dalam satu kotak besar, yang dilengkapi dengan lampu penghangat serta UV-B. Suhu di dalam kotak tersebut dipertahankan pada kisaran 28- 33°C.

Menurut Asisten Kurator di Bali Safari Park, drh. Kadek Kesuma Atmaja, pencatatan suhu dilakukan 4 kali sehari oleh perawat satwa (keeper). Setiap hari, anakan Sinyulong ini diberi pakan potongan ikan nila, lele, dan jangkrik. Kesehatannya pun diawasi dengan ketat, sebab anakan satwa sangat rentan terhadap penyakit.

Baca Juga :  Hadir di Empat Titik, Solusi Mudah Miliki Motor Impian di Ajang Honda Weekend Expo

“Tak perlu takut untuk berkunjung ke Bali Safari Park saat pandemi karena kami telah menerapkan protokol kesehatan dengan sangat ketat, liburan di Bali Safari Park akan tetap aman dan nyaman. Inilah waktunya untuk #timetosafari,” ucap Thomas Colbert, General Manager Bali Safari Park. (dar/bpn)

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here