Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, BADUNGPerayaan Hari Raya Kuningan, memiliki ciri khas dari isi sesajen atau persembahan umat Hindu adalah berupa nasi kuning, berbeda dengan pelaksanaan pada saat upacara lainnya seperti Galungan, Pagerwesi, Saraswati dan hari suci lainnya yang menggunakan sarana nasi putih.

Simbol nasi kuning ini, sebagai lambang sebuah kemakmuran yang telah dianugerahkan Sang Pencipta dan juga menghaturkan persembahan lainnya sebagai ucapan terima kasih manusia, berikut syukur atas segala anugerah dari Tuhan.

Sarana upakara yang digunakan pada hari raya Kuningan yaitu Tamyang, kolem endongan. tamyang sebagai simbol perlindungan/tameng, dan molen atau ter sebagai simbol senjata. tamyang kalau dilihat dari sudut ilmu Yantra. Maka bentuk tamyang yang bundar merupakan simbol kekuatan feminim dan bentuk ter yang lancip segitiga sebagai simbol kekuatan purusa.

Jadi tamayang kolem itu sebagai simbol kekuatan ibu dan bapak alam semesta yang memberi perlindungan kepada kita semua, sedangkan endongan sebagai simbol kekuatan Dewa Sangkara (karena bentuknya menyerupai senjata angkus, ada tulang lindungnya sebagai tali) yang memberi kesuburan serta kemakmuran pada kita semua.

Baca Juga :  Gubernur Koster Ikuti Pelantikan dan Serah Terima Jabatan Pemimpin Satuan Kerja OJK

Oleh karena itu dalam endongan berisi daun paku cemara / tumbuhan yang biasa tumbuh di pegunungan. Selain itu dalam endongan juga berisi makanan nasi, beserta lauknya, jajan pisang dan tebu. Sedangkan pada slanggi pepiringan, prani maupun tebog, isinya sama yaitu nasi putih dan kuning sebagai simbol kekuatan im dan yang (Purusa Pradana), kelengkapan nasi kuning sebenarnya simbol makanan yang mengandung gizi dan obat.

Seperti daun intaran merupakan obat yang mujarab untuk penyakit diabetes, membersihkan darah kotor, menghilangkan koreng dan jerawat. Kecai (kecambah yang masih kecil) merupakan obat untuk menyuburkan rahim dan menjaga kesehatan kulit, kacang botor dan kacang kacangan lain merupakan sumber protein yang tinggi pengganti protein hewani.

Jadi sebenarnya makanan yang dikemas dalam bentuk selanggi maupun tebok sengaja mengajarkan kita tentang makanan sehat dan obat obatan yang dibutuhkan oleh tubuh. Oleh karena itu sebaiknya nasi dan rerasmen pada selanggi harusnya bisa dimakan setelah dihaturkan jangan dibuang, apalagi dikasi binatang. Karena prasadam / lungsuran makanan itu selain mengandung protein dan obat obatan juga sudah diberkahi oleh para Dewa.

Baca Juga :  Wamenparekraf Angela: Refocusing Kualitas dan Target Pasar Pariwisata

Membuat Banten Kuningan diusahakan dari bahan yang bisa dimakan. Perlu juga diingatkan kembali jika wadah nasi kuning sekarang banyak yang terbuat dari rontal yang berwarna, sebenarnya itu kurang baik kalau lungsurannya akan dimakan, sebaiknya pakailah yang dari daun ron atau janur, jangan lupa dicuci bersih. Jika kita ingin mempersembahkan makanan pada Tuhan maka perhatikanlah kebersihan dan kesuciannya.(pah-mengwi/bpn)

Silahkan Berkomentar

Please enter your comment!
Please enter your name here