Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Ida Rsi Agung Yoga Sidhi Bang Pinatih dari Griya Agung Bang Pinatih merasa prihatin melihat kondisi saat ini sebagai dampak dari wabah virus Corona (Covid-19). Perekonomian menjadi anjlok dan beberapa warga dirumahkan bahkan kena PHK dari perusahaan.

Baca Juga :  Sambut New Normal, Pasar Oleh-oleh Optimis Kembali Bergeliat

Namun, masih ada kebahagiaan yang terlihat terutama di kalangan umat Hindu, yakni adanya sikap saling membantu satu sama lain sehingga umat yang merasa kurang mampu tetap bisa bertahan dengan memperoleh “merta” (bantuan makanan) dari umat ataupun pihak yang lebih mampu.

Tak hanya itu, Ida Rsi Agung Yoga Sidhi Bang Pinatih juga merasa “gargita” (senang) karena di tengah pandemi ini, yadnya tetap bisa dijalankan oleh umat Hindu baik itu tingkatan/skala alit (kecil), madya (menengah) maupun ageng/utama (besar). Dalam pustaka suci Weda, yadnya berasal dari kata “yaj” yang artinya korban suci dengan tulus iklas. “Yadnya memiliki konsep, yakni tamasika yadnya, rajasika yadnya dan satwika yadnya. Nah, yang sekarang patut dilaksanakan adalah satwika yadnya sesuai dengan tatwa dan filsafat,” ujar Ida Rsi Agung dalam dharma wacananya.

Lalu, melihat alam semesta terkena wabah seperti saat ini, bagaimana agar yadnya bisa berjalan? Ida Rsi Agung menyampaikan bahwa agama Hindu itu bersifat fleksibel dan universal, serta tidak susah menjalankannya sesuai ajaran Siwa Sidanta. Sejak kedatangan Rsi Markandeya ke Bali dan Mpu Kuturan yang menyatukan sekte-sekte yang ada, maka ada yang dinamakan Rong Tiga Kemulan Taksu, Tri Kahyangan dan Padma Tiga. Inilah konsep yang pada akhirnya mempermudah umat dalam beryadnya dan menyembah Ida Sang Hyang Widhi melalui berbagai simbolnya. “Sejatinya tidak susah beragama Hindu, hanya ego kita yang berlebihan,” tegasnya.

Dijelaskannya kembali, dalam yadnya ada konsep alit, madya dan utama. Mungkin sebelum pandemi, umat bisa melaksanakan yadnya tingkat utama dengan biaya hingga miliaran rupiah. Hal itu tidak masalah karena secara ekonomi memang mampu. Tetapi melihat kondisi saat ini dimana turis tidak ada, kemudian banyak yang kena PHK, jangankan untuk melaksanakan yadnya besar,  rasanya untuk mengisi perut saja tidak bisa. Maka dari itu umat bisa melaksanakan yadnya alit. “Makanya, agama Hindu itu sangat fleksibel dan universal, sangat luas cara kita untuk beryadnya. Hilangkan ego sejenak. Sekarang agar yadnya bisa berjalan mari kita mulat sarira. Berdasarkan pustaka suci, adanya wabah ini merupakan bagian dari hukum Mreta, siklus perjalanan Kala Maya Butha dalam wujud virus, maka kita diingatkan untuk mulat sarira,” ujarnya.

Adanya virus ini memberi dampak positif dan negatif. Jika dikaitkan dengan yadnya, justru sangat bagus karena bisa meringankan biaya dengan menjalankan yadnya alit. Selain itu adanya imbauan pemerintah untuk melakukan physical distancing dan meminimalkan keramaian juga dapat meringankan biaya. Contohnya, upacara perkawinan cukup dihadiri sekitar 25 orang, dan melaksanakan prosesi Metanjung Sambuk. “Saya perkirakan hanya menghabiskan biaya sekitar 3 juta saja, tidak perlu resepsi mewah. Sebelum adanya Covid-19 bisa habis 50-70 juta. Jadi cukup yadnya alit saja,” paparnya.

Begitu juga saat menjalankan Dewa Yadnya di Kahyangan Tiga setiap enam bulan sekali dengan tingkatan ageng/utama menggunakan upakara pragembal bebangkit, maka sekarang cukup menggunakan tumpeng solas.

Baca Juga :  Pariwisata Klungkung Dibuka, Terapkan Protokol Tatanan Kehidupan Era Baru 

Ia mengatakan sering memberikan dharma wacana ke desa-desa dan menyampaikan bahwa setiap enam bulan sekali cukup melaksanakan piodalan dengan tingkatan alit, dan setahun sekali bisa mengambil yang tingkatan besar. Sebelum ada Covid-19 mungkin pelaksanaan yadnya masih berpedoman pada bhisama atau awig-awig (aturan adat) namun sekarang hal itu tidak bisa dipaksakan karena perekonomian anjlok. Dana di LPD sudah dipakai untuk membantu warga, begitu juga anggaran pemerintah telah digunakan untuk membantu masyarakat dengan memberikan sembako.

Sesungguhnya terkait dengan yadnya di Bali termuat dalam Bhagawadgita, dalam slokanya disebutkan bahwa bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi harus dilakukan berdasar lascarya. Persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi meski hanya dalam bentuk dedaunan, bunga, buah dan toya (air suci) atau yadnya alit asalkan dipersembahkan secara tulus ikhlas maka itulah yang diterima oleh-Nya.

Pustaka suci Maha Nirwana Tantra juga memuat empat jalan agar yadnya bisa berjalan dengan baik, yaitu Yantra, Tantra, Mantra dan Mudra. Yantra sudah ada di Bali berupa simbol-simbol atau niyasa atau banten, yang dilaksanakan dengan Tantra (pikiran), jnana semadi lalu diikuti dengan Mantra-mantra dari sulinggih atau pemangku, kemudian diikuti dengan Mudra (gerak) sulinggih atau gerak ngayabin banten. Itulah konsep dalam menjalankan yadnya. “Jadi walaupun tingkatan alit asalkan sudah memenuhi keempat konsep tersebut niscaya yadnya itu akan paripurna,” terangnya.

Baca Juga :  Gubernur Bali Akan Tinjau Penerapan Protokol Tatanan Kehidupan Era Baru di Sejumlah Objek Wisata

Dengan adanya Covid-19 ini, Ida Rsi Agung berharap umat Hindu makin memahami ajaran tatwa agama. Seperti Pitra Yadnya, biasanya memakai upakara pragembal bebangkit, namun sekarang cukup dengan tumpeng solas atau tumpeng pitu. Persembahan di Surya memakai daksina ageng suci, ada pula tarpana saji dan ngaskara, tirta pangentas bisa nunas (memohon) di sulinggih. Semua ini akan berjalan baik dengan hati yang tulus iklas.

Begitu juga di Bhuta Yadnya, kalau tidak bisa mengambil tingkatan besar (utama) maka ada konsep Rsi Gana, ada pula caru Panca Kelud. Kalau dalam tingkatan utama memakai ayam lima ekor dan bebek gelang kalung atau bulu sikep, sekarang bisa memakai ayam brumbun. Semua bertujuan agar memperoleh kerahayuan (keselamatan). Sebagai penggantinya, umat juga bisa menghaturkan segehan setiap hari di halaman rumah, merajan, pintu keluar rumah dan pelinggih penunggu karang. “Ini adalah suguhan kepada Bhuta Bucari, Kala Bucari dan Bhuta Reksa sebagai rencang (pengikutnya). Saya yakin umat akan selamat. Ini dipakai laba (persembahan) dulu, kalau besok kita mampu maka bisa melaksanakan yang utama,” katanya.

Harapan Ida Rsi Agung Yoga Sidhi Bang Pinatih dari Griya Agung Bang Pinatih kepada umat Hindu agar tidak takut melaksanakan yadnya di saat pandemi Covid-19 ini. Kalau tidak punya banyak maka pakai yang sedikit tetapi tetap berdasar sastra dan tatwa. Hal ini bukan berarti harus menyederhanakan yadnya, karena semua sudah ada ketekan (perhitungan) dari dulu. Di dalam pustaka Bhagawadgita dan Agastya Parwa sudah ada. Dalam sastra ini tersirat bahwa dengan daun saja umat sudah bisa beryadnya. “Sama halnya tatkala Ratu mapuja (berdoa) setiap hari atau Nyurya Sewana tidak perlu memakai upakara pejati, cukup dengan bunga, dupa, toya dan bija. Kalau sudah mapuja dengan hati yang tulus iklas maka itulah yang diterima sesungguhnya oleh Hyang Widhi,” ungkapnya.

Baca Juga :  Tunda Kehamilan Bagi Pasangan Usia Subur di Masa Pandemi Covid-19

“Jangan takut beragama Hindu, jangan lari dari agama Hindu, dengan kondisi seperti saat ini jangan lupa dengan leluhur,” ajaknya.

Ida Rsi Agung mengimbau umat Sedharma dengan adanya wabah ini jangan sesekali menyalahkan Ida Hyang Widhi Wasa karena hal ini merupakan bagian dari siklus hukum Mreta, perjalanan Kalamaya atau wabah dari ratusan tahun lalu di alam semesta ini. Umat pun diajak bangkit dan tidak berlebihan dalam menjalankan yadnya. Yang terpenting tetap mengacu pada sastra dan tatwa, yaitu alit, madya dan utama.

Umat Hindu khususnya di Bali sangat kompak dan tunduk dengan awig-awig (aturan) yang berlaku di desa adat. Hal ini pula yang membuat kasus Covid-19 di Bali tidak begitu banyak. Bahkan, pemerintah pusat menjadikan Bali sebagai contoh. Namun demikian umat diharapkan tidak takabur dan selalu mawas diri bersama. Konsep menyama braya (saling membantu) harus terus dijalankan sesuai konsep Wasudewa Kutumbakam, yakni umat yang mampu bisa membantu umat yang tidak mampu. Begitu halnya yang punya usaha bisa membantu dengan sembako, LPD dan banjar juga sudah membantu warganya.

Baca Juga :  Wagub Cok Ace Buka Lomba Layangan Virtual, Libatkan 380 Rare Angon

“Saya bangga melihat para bendesa, krama, dan umat bersatu padu. Bagaikan sepit (penjepit dari bambu), bahagia bersama dan menderita pun bersama. Umat di Bali sudah bagus sekali menjalankan darma agama dan darma negara. Semoga Covid-19 segera lenyap dari Bali dan semoga Ida Sang Hyang Widhi memberikan anugerahnya,” harapnya.

Ida Rsi Agung Yoga Sidhi Bang Pinatih dari Griya Agung Bang Pinatih mengingatkan umat agar selalu mengikuti anjuran dan imbauan pemerintah, yakni menjaga kesehatan diri dan kebersihan lingkungan, serta saling membantu selama pandemi ini. Umat Hindu tetap bisa beryadnya walaupun skala kecil dengan tulus iklas berdasarkan ajaran agama Darma Sadu.(ads/bpn)