BALIPORTALNEWS.COM, SAMOSIR –  Para film harus membentuk ekosistem film Sumatera Utara. Hal ini menjadi topik dalam dalam simposium para sineas di Lake Toba Film Festival.

Onny Kresnawan salah satu pembicara dalam simposium mengatakan ekosistem perfilman itu dapat dibangun dengan memperbanyak jaringan komunitas film di Sumatera Utara. Tidak hanya itu, setelah berjaringan, perlunya dibentuknya pertemuan-pertemuan rutin para film maker baik dalam screning film maupun dalam diskusi.

Onny menambahkan Ekosistem itu juga dapat dibangun dengan mengapresiasi film-film yang digarap para film maker lokal. “Ikut nonton saja sudah membangun ekosistem itu,” ujarnya.

Onny sangat menyayangkan kurangnya minat para pegiat film dalam mengapresiasi karya-karya teman-teman film maker. Ia berpandanagn para pegiat film lokal lebih doyan mengkonsumsi film-film luar.

“Sesama kita (Film Maker) saja kurang menonton film teman-teman kita, bagaimana bisa berkemang,” tegasnya.

Hal yang sama juga disampaikan Daniel Pengamat Film yang juga menjadi pembicara dalam simposium. Ia berpendapat para pegiat film Sumatera Utara pada masa ini masih berorienasi sendiri-sendiri.

“Padahal kalau kita (film maker) berkomunitas, jaringan itu akan bekerja dalam pemproduksian film bahkan sampai penanyangannya,” katanya.

Ia mengatakan dalam pengeksekusian membangun ekosistem film Sumatera Utara, para Film maker perlu menjalin kemistri untuk menciptakan film-film kolaborasi yang mengangkat kebudayaan Sumatera Utara dan menjadi identitas film Sumut iru sendiri. Daniel menegaskan perlunya riset yang mendalam apalagi pengarapan film yang mengangkat kearifan lokal.

“Film yang kurang riset bisa berakibat fatal bagi film itu sendiri bahkan untuk budaya itu sendiri,” ujarnya.

Simpei Sinulingga Peserta Simposium mengatakan film sangat mempengaruhi konfilk budaya yang terjadi dalam masyarakat. “Rusak film itu, rusaklah budaya masyarakatnya,” tutupnya.(rki/bpn)