Baliportalnews.com
Baliportalnews.com

BALIPORTALNEWS.COM – Gubernur Bali Made Mangku Pastika  mengapresiasi seminar Internasional yang digagas Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Bali.  Pastika menyebut seminar nasional ini sebagai wahana bertukar pandangan tentang isu strategis, khususnya tentang hukum dan pariwisata sesuai tema yang dibahas, sekaligus menjadi referensi menyiapkan diri dalam menghadapi perubahan global.

‘’Mengingat Bali saat ini sudah menjadi bagian dari Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), dan bagian dari masyarakat global. Integrasi ini membawa konsekuensi bahwa masyarakat dapat larut dalam derasnya arus globalisasi. Untuk itu diperlukan upaya-upaya yang diarahkan untuk menghadapi kondisi ini, yang juga menuntut komitmen dan kesiapan untuk bersaing, sehingga para pelaku disektor tersebut bisa terlahir sebagai pemenang,’’ ujar Pastika saat menghadiri dan membuka secara resmi acara Seminar Internasional DPC Peradi Denpasar di Hotel Patra Jasa Tuban, Badung, Bali, Jumat (5/8/2016).

“Acara ini bagus, karena kita harus siap dengan perubahan itu. Saya tidak rela kalau kita jadi looser atau orang yang kalah, kita harus bisa menjadi pemenang dalam persaingan global. Karena kita negara besar, tentunya pasti bisa bersaing,” cetus Pastika.

Menurut Pastika globalisasi sendiri bermakna ‘persaingan’ dan ‘keunggulan’. ‘Persaingan’ adalah sebuah keniscayaan yang terjadi dalam segala aspek kehidupan, dalam semua lapangan pekerjaan dan profesi kehidupan, serta persaingan sumber daya manusia antar bangsa secara menyeluruh. Sementara ‘Keunggulan’ bermakna adanya tuntutan kepada kita untuk menyiapkan diri agar memenangkan persaingan tersebut.

Baca Juga :  Pemkab Badung Kembali Raih WTP

“Kita harus memiliki kemampuan, pengetahuan dan wawasan untuk ikut bersaing, dan jika sudah bisa bersaing tentunya akan unggul, siapa yang unggul itu yang akan laku dalam persaingan global. Bagi yang cerdas ini adalah sebuah kesempatan, bagi yang kurang bisa bersaing ini mungkin jadi hambatan,” ujar Pastika.

Lebih jauh, Gubernur Pastika menyatakan para praktisi hukum, termasuk advokat, serta praktisi pariwisata dari seluruh ASEAN bahkan dunia sudah masuk ke Indonesia termasuk Bali, dan siap merebut ‘pasar’ yang ada. Hal ini tentunya perlu disikapi, apakah para pelaku sektor tersebut siap menjadi tuan di rumah sendiri dan bahkan semestinya mampu merebut peluang di negeri orang.

‘Pasar’ yang dipengaruhi 2 komponen penting yakni komponen didalam lingkup pasar dan komponen diluar lingkup pasar, sehingga hukum dan regulasi yang menjadi salah satu komponen diluar pasar semua sektor, menjadi salah satu kesempatan yang menjanjikan bagi praktisi di sektor tersebut.

“Komponen di luar pasar itu termasuk didalamnya hukum dan regulasi, semua sektor termasuk pariwisata terkait dengan security, safety, terkait dengan kepastian hukum, orang tidak bisa berurusan tanpa ada kepastian hukum itu, apa sih yang tidak diurus oleh hukum, makanya saya bilang ini kesempatan bagi praktisi hukum,” imbuhnya rinci.

Hal senada disampaikan Ketua Umum DPW Peradi, Fauzi Yusuf Hasibuan yang menyatakan peningkatan wawasan, kemampuan, serta daya saing menjadi hal yang patut dipenuhi oleh para praktisi hukum dan praktisi pariwisata di era persaingan global. Para profesional diharapkan dapat lebih peka terhadap fluktuasi perkembangan jaman agar mampu bersaing.

Pembangunan oleh pemerintah pusat saat ini yang condong ke arah pembangunan infrastruktur dengan kucuran anggaran yang sangat besar, menurutnya memiliki efek multiplier luas yang membutuhkan dukungan sektor hukum. Untuk itu, Ia berharap para praktisi diharapkan bisa melihat peluang tersebut.

Ditambahkan Ketua DPC Peradi Bali, Putu Suta Adnyana dalam sambutan singkatnya yang mengharapkan kegiatan seminar dapat membawa manfaat positif bagi pengembangan usaha para praktisi hukum dan usaha bisnis pariwisata. Karena menurutnya, di era MEA yang menjadi elemen utama adalah praktisi hukum dan kalangan bisnis.

Baca Juga :  Bupati Badung Terima Audiensi Paiketan Krama Bali

Sementara itu, Ketua Panitia Seminar, I Nyoman Budi Adnyana dalam laporannya menjelaskan, Peradi selaku penggagas kegiatan tersebut ingin menjadi fasilitator yang fokus pada para praktisi hukum dan pariwisata, agar memiliki wawasan yang mencukupi di era MEA, bisa mengenal potensi, resiko dan kesempatan, sehingga tidak tenggelam dalam persaingan pasar bebas.

Peserta acara tersebut menurutnya berasal dari para pelaku pariwisata, akademisi, pelajar, mahasiswa dan kalangan advokat. Antusiasme yang tinggi dari para peserta terlihat dari hadirnya para peserta dari luar Bali, di antaranya dari DPC Peradi Makasar, DPC Peradi Bekasi, maupun DPC Peradi NTB.

Acara Seminar serupa menurutnya sudah pernah dilaksanakan sebelumnya diantaranya di Kota Jayapura, Bogor, dan Medan, serta seusai digelar di Bali selanjutnya direncanakan berkelanjutan di antaranya di Surabaya, Makasar dan beberapa kota lainnya.

Seminar yang bertema “Facing ASEAN Economic Community Invasion in tourism, Industry and Legal Profession” ini, turut dihadiri Pengacara yang cukup kondang Otto Hasibuan selaku Key Note Speaker, dan beberapa narasumber di antaranya pengacara asal Australia, Nick Watson.(r/bpn)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini