Baliportalnews.com
Baliportalnews.com

BALIPORTALNEWS.COM, JAKARTA – Search for Common Ground (SEARCH) mengadakan Mabesikan Forum yang bertema Seni untuk Perubahan Sosial pada Selasa, (16/8/2016).

Mabesikan Forum merupakan satu dari serangkaian kegiatan dalam Mabesikan Project yang telah dimulai pada Januari 2016 dan akan berlangsung hingga Desember 2016.

Mabesikan Forum bertujuan untuk mendorong dialog antar anggota masyarakat atau pemangku kepentingan untuk mencapai konsensus dalam menyelesaikan permasalahan sosial.

Setio Wicaksono Soemeri selaku direktur SEARCH di Indonesia menjelaskan bahwa “Seni adalah alat yang sangat efektif, seni memiliki kekuatan dalam advokasi dan pemberdayaan. Kolaborasi antar seni dan aktivisme ini yang coba kami dorong, agar supaya dialog-dialog untuk mencapai solusi yang mengakomodir semua pihak dapat tercapai. Itulah kenapa kami melakukan program Mabesikan ini.”

Baca Juga :  PKB Ditutup Secara Resmi, Gubernur Koster Harap Seni Dapat Menjadi Media Pembentuk Kepribadian Manusia

Program ini juga dihadiri oleh Wakil Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Ms. Elsebeth Krogh, sebagai perwakilan dari pemerintah Denmark yang merupakan donor dari Mabesikan Project.

Dalam pidato sambutannya, Wakil Duta Besar menyampaikan Mabesikan adalah salah satu program yang didukung oleh pemerintah Denmark, di bidang seni dan budaya. Denmark percaya bahwa seni dan budaya memiliki potensi untuk memberi dampak sosial, membangun jembatan, dan mendorong dialog konstruktif dalam masyarakat.

‘’Kami sangat senang dengan partner kami Search for Common Ground, yang telah melakukan pekerjaan sangat baik dalam mengumpulkan seniman-seniman dan CSO yang sangat berbakat dan peduli dengan isu sosial, yang juga telah menyediakan sumber daya untuk mereka membuat karya seni yang berdampak sosial, khususnya dalam menangani isu konflik lahan dan sumber daya, kekerasan berbasis gender, dan inklusivitas sosial”

Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra, diwakili Asisten I Bidang Pemerintahan Kota Denpasar, Ketut Mister dalam sambutan mengatakan bahwa pemerintah punya tanggung jawab untuk memfasilitasi. ‘’Pemerintah Denpasar memberikan ruang sebesar-besarnya untuk melestarikan kegiatan-kegiatan seni. Mewakili pemerintah daerah kami memberi apresiasi untuk kegiatan seperti Mabesikan Forum,” ujarnya.

Acara pembukaan diikuti oleh sesi pleno yang menghadirkan enam pembicara dari berbagai latar belakang, untuk berdiskusi dengan 60 peserta dari berbagai wilayah di Bali, yang menjadi lokasi proyek Mabesikan.

Gede Robi dan Iwan Dewantama membahas isu konflik lahan dan sumber daya. Wayan Jengki Sunarta dan Oka Rusmini melanjutkan dengan isu gender. Agung Alit dan Hira Jhamtani membahas isu inklusivitas sosial.

Baca Juga :  Diskerpus Badung Gelar Pameran Baligrafi Tulisan Bali

Selain itu, sesi kedua dari Mabesikan Forum mengambil bentuk diskusi terfokus dalam tiga sesi parallel, masing-masing membahas ketiga isu tersebut di atas. Sesi kedua ini difasilitasi oleh para seniman dan aktivis yang terlibat dalam Mabesikan Project.(bpn)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini